Endurance berangkat dari Pelabuhan Plymouth, London - Inggris pada 8 Agustus 1914, beberapa hari setelah pecah Perang Dunia I. Tujuan awal menuju Buenos Aires, Argentina. Ekspedisi ini dinamai Imperial Trans – Antarctic Expedition yang dipimpin oleh Ernest Shackleton.
Endurance tidak berjalan mulus. Kapal itu terjebak dalam lautan yang membeku selama berbulan-bulan. Tekanan es akhirnya menghancurkan kapal mereka. Bencana besar menimpa awak ekspedisi ini. Awak kapal kehilangan “rumah”, alat transportasi, dan harapan untuk segera pulang. Mereka harus bertahan hidup di atas bongkahan es yang hanyut selama berbulan-bulan dengan suhu sangat dingin! Dalam kondisi seperti itu, banyak pemimpin akan fokus pada tujuan ekspedisi. Namun, Shackleton mengambil keputusan berbeda. “Tujuan kita sekarang bukan lagi menaklukkan Antartika, tetapi membawa semua orang pulang dengan selamat!
Meskipun kondisi sangat buruk, Shackleton tidak membiarkan anak buahnya tenggelam dalam keputusasaan. Ia terus saja berbicara tentang kemungkinan lolos dari petakan itu. Ia selalu menunjukkan langkah berikutnya yang harus dilakukan, bukan besarnya masalah yang sedang dihadapi. Shackleton memahami bahwa manusia sering kali kalah bukan karena keadaan, tetapi karena kehilangan harapan. Shackleton tidak membiarkan hanya terpaku pada keputusasaan. Ia mengajak anak buahnya memikirkan langkah berikutnya, memelihara harapan, dan menggunakan apa yang masih mereka miliki.
Dalam bacaan Injil hari ini (Matius 14: ) para murid melakukan hal yang sangat manusiawi. Ketika mereka melihat lima ribu orang lebih yang lapar dan membutuhkan makanan, mereka segera menghitung kekurangan, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Mereka melihat apa yang tidak mereka miliki, yakni makanan yang cukup untuk ribuan orang. Di sini letak pelajaran keteguhan. Keteguhan bukan menyangkal kenyataan bahwa sumber daya kita terbatas. Keteguhan adalah sikap tetap percaya bahwa Allah dapat bekerja melalui keterbatasan yang kita serahkan kepada-Nya. Berserah, bukan pasrah!
Shackleton juga mengingatkan kita pada Yakub di tepi sungai Yabok. Yakub belum tahu apa yang akan terjadi ketika ia bertemu dengan Esau, kakaknya. Yakub terus bergumul, ia berada di persimpangan jalan antara masa lalu yang penuh luka dan di depannya ada kemungkinan ancaman Esau atau perdamaian yang ia dambakan. Malam itu ia menyeberangkan seluruh keluarganya dan tinggal ia sendiri. Kesendirian Yakub menggambarkan dengan tepat bahwa ada pergumulan yang tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Keluarga, sahabat, bahkan gereja dapat mendampingi, tetapi pada saat-saat tertentu seseorang harus berhadapan sendiri dengan ketakutan, kegagalan, dan pergumulan batin di hadapan Allah.
Dalam kesendirian itu, tiba-tiba seorang laki-laki bergulat dengan Yakub sampai fajar menyingsing. Sosok ini dipahami sebagai manifestasi kehadiran Allah. Menarik, Allah tidak langsung menghapus ketakutan Yakub terhadap Esau. Sebaliknya, Allah mengizinkan Yakub bergumul sepanjang malam. Sering kali kita berdoa agar masalah cepat berlalu. Namun, Allah kadang memilih hadir di dalam pergumulan itu. Melalui pergumulan, Allah dapat membentuk karakter, iman, dan keteguhan hati.
Yakub tampaknya tidak menyerah, Sosok manifestasi ilahi itu menyentuh pangkal pahanya sehingga sendi pahanya terpelecok. Sebenarnya, ketika titik lemah ini tersentuh, Yakub telah tumbang. Yakub pincang! Namun, pada saat itulah Yakub berkata, “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika Engkau tidak memberkati aku!” Inilah puncak keteguhan iman. Keteguhan bukan berarti tidak pernah terluka. Keteguhan bukan berarti tidak menangis atau tidak takut, keteguhan bukan berarti pantang meneteskan air mata.Keteguhan adalah tetap berpegang pada Tuhan walaupun hati terluka, doa belum dijawab, dan jalan keluar masih belum terlihat!
Pergumulan yang terjadi dengan Yakub bukan untuk menghancurkannya, melainkan mengubahnya. Bukankah sering kali melalui pergumulan Allah bekerja untuk membentuk identitas baru. Yakub berganti identitas. “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel!” Yakub yang berarti “pemegang tumit”, “penipu”, atau “pengakal”, nama itu mengingatkan pada semua masa lalu yang tidak bagus. Kini menjadi Israel, yang berarti “dia yang bergumul bersama Allah” atau “Allah berjuang”.
Bukankah banyak kisah yang dapat kita jumpai bahwa melalui pergumulan, Allah membentuk identitas baru: dari orang sombong menjadi rendah hati, dari penakut menjadi orang yang berani menghadapi tantangan hidup, dari orang yang hanya mengandalkan diri sendiri menjadi orang yang mengandalkan Tuhan.
Setelah pergulatan itu selesai, Yakub menamai tempat itu dengan “Peniel”, yang berarti “wajah Allah”, sebab ia telah mengalami perjumpaan dengan Allah dan tetap hidup. Ketika matahari terbit, Yakub berjalan pincang. Ia masih membawa luka, tetapi sekarang ia juga membawa berkat dan pengalaman perjumpaan dengan Tuhan. Yakub keluar dari malam itu bukan sebagai orang yang lebih kuat secara fisik, tetapi sebagai pribadi yang lebih teguh dalam iman.
Ketika Shackleton melihat awak kapalnya yang terdampar di Antartika, ia tidak kehilangan harapan. Harapan itu terus dijaganya dan membagikannya kepada semua awak kapal sehingga dari 28 orang yang terdampar tidak ada yang binasa. Ketika Yakub bergumul di Sungai Yabok, ia memilih untuk tidak menyerah bahkan sampai pangkal pahanya terpelecok dan ia menjadi pincang. Ia berhasil melewati pergumulan itu. Ketika para murid melihat lima roti dan dua ikan, mereka melihat kekurangan, namun Yesus mengajak mereka melihat apa yang ada dan menyerahkannya kepada Tuhan.
Keteguhan lahir ketika kita berhenti menghitung apa yang tidak kita miliki, ketika kita berhenti terpaku pada kekurangan. Keteguhan adalah ketika kita mulai menerima dan mensyukuri apa yang ada pada kita, lalu menyerahkannya kepada Tuhan. Sebab, sering kali Allah bekerja dalam pergumulan yang tidak mudah ketimbang melalui kelimpahan. Jadi, ketika sampai hari ini kita masih bergulat dengan pergumulan berat, berjuanglah terus sampai “fajar menyingsing”, sebab sangat mungkin Tuhan sedang menyiapkan kita dengan identitas baru, yakni versi kita yang terbaik di mata Tuhan!
Identitas dan versi terbaik yang bukan hanya slogan atau perubahan nama semata. Keteguhan seorang pengikut Kristus bukan hanya kemampuan bertahan dalam penderitaan pribadi, tetapi juga kesediaan untuk tetap mengasihi walaupun teraniaya, tetap peduli walaupun dicurigai, dan tetap melayani ketika keadaan serba tidak mudah. Yakub berjalan pincang setelah bergumul dengan Allah, Paulus menulis dengan hati yang hancur karena bangsanya yang belum menerima Kristus. Shackleton memimpin anak buahnya melewati lautan es demi membawa mereka pulang. Ketiganya mengajarkan bahwa keteguhan bukanlah tidak ada luka, melainkan kesediaan dan kesetiaan untuk terus berjalan karena kasih. Dalam pergumulan ada keteguhan, dan dalam keteguhan itulah Allah menyatakan karya-Nya.
Jakarta, 29 Juli 2026. Minggu Biasa Tahun A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar