Malam yang gelap dalam sekejap berubah menjadi kepanikan mencekam. Kebakaran hebat melanda sudut kota itu! Api mulai membesar dan melahap satu demi satu bangunan semi permanen. Dalam kepanikan, setiap orang berusaha menyelamatkan diri dan penghuni rumah mereka. Ada yang menangis histeri, ada yang berdiri kaku seolah tidak percaya bahwa api itu melumat semua hasil jeri lelahnya. Namun, sebagian besar dari mereka sigap memadamkan api dengan peralatan seadanya.
Orang-orang keluar membawa ember. Mereka membentuk barisan mengular, estapet mengisi ember dengan air yang berasal dari kali kecil di ujung gang. Sebagian dari mereka mencari tempat aman dan mengevakuasi anak-anak dan orang tua. Ada juga yang membuat tenda dari terpal untuk menaruh makanan bagi mereka yang kelelahan. Yang menarik, beberapa rumah yang tidak terbakar membuka pintu rumah mereka untuk memberi tumpangan bagi para korban kebakaran itu.
Keesokan harinya, ketika api itu telah padam, seorang setengah baya dan tokoh masyarakat di kampung itu berkata, “Kebakaran ini menyisakan pilu. Banyak di antara kita yang kehilangan harta benda dan kenangan dalam rumah yang terbakar. Namun, semalam saya melihat kampung kita ini seperti keluarga. Kita bahu membahu memadamkan api, menyelamatkan siapa dan apa saja yang bisa diselamatkan. Di antara kita tidak ada yang bertanya dari mana kamu atau siapa kamu. Semua bergerak untuk kebaikan bersama, semua pintu rumah terbuka menampung orang-orang yang rumahnya terbakar!”
Berbeda dari kebakaran di sudut kota itu. Lidah-lidah api yang turun dan hinggap di atas para murid tidak menghanguskan sudut kota Yerusalem itu. Namun, kehadiran Roh Kudus itu menggerakkan hati dan jiwa para murid untuk menyaksikan karya Allah. Pentakosta!
Hari itu, para murid sedang berada di loteng sebuah hunian. Sesuai dengan pesan Yesus, mereka berdoa dan bersekutu. Mereka juga berhasil memilih pengganti Yudas sang penghianat itu. Matias terpilih setelah bergumul dan berdoa. Bukan sebuah kebetulan, setiap orang dari pelbagai pelosok hadir di Yerusalem. Mereka hadir untuk merayakan Pentakosta. Ini merupakan perayaan penting bagi umat Yahudi maupun proselit. Imamat 23:15-22 mengamanatkan bahwa tujuh minggu setelah Paskah, yakni : peristiwa keluarnya umat Allah dari perbudakan di Mesir, harus dirayakan sebagai perayaan ucapan syukur, juga sebagai hari pemberian Taurat di Gunung Sinai. Hari ucapan syukur itu juga bertepatan dengan puncak Hari Raya Panen.
Ini bukan kebetulan. Berbagai orang dengan latar belakang dan bahasa berbeda berada dalam sebuah kota, Yerusalem. Jika pada zaman Musa, Taurat menyatukan umat Allah untuk menuju negeri perjanjian, kali ini Roh Kudus menyatukan semua orang, tanpa kecuali untuk mengerti kebenaran dan menerjemahkannya dalam kehidupan. Pentakosta kali ini adalah selebrasi inklusif – tidak hanya milik kelompok dan golongan tertentu – sebab, bahasa kebenaran ini dapat dipahami oleh setiap orang yang berasal dari bahasa dan budaya yang berbeda. Sekali lagi bahasa kebenaran itu dimengerti oleh semua orang!
Bayangkan, penduduk kota yang sebelumnya telah dicuci otak oleh para pemuka agama dan penguasa merasa yakin bahwa menyalibkan dan membunuh Yesus adalah tindakan memelihara kesucian Taurat. Mereka merasa sedang membela hukum-hukum Allah. Kini, ketika bahasa kebenaran itu menelisik hati, mereka terharu dan bertanya, “Apa yang harus kami perbuat?” (Kisah Para Rasul 2:37). Jelas, ini bukan semata-mata kekuatan retorika Petrus. Ada gerakan yang tak kasat mata sehingga mereka menyadari tentang kesalahan yang mereka perbuat. Itulah kuasa Roh Kudus!
Petrus tidak tergoda untuk menghimpun umat menjadi ekslusif. Bagi Petrus gelora Pentakosta bukan euforia mukjizat dahsyat yang menyadarkan orang pada kebenaran. Inilah momentum umat menjadi wahana bagi Allah bekerja dalam pemulihan. Bukankah Roh Allah semula dalam riwayat penciptaan, menciptakan alam semesta dan isinya dengan sungguh amat bait? Maka, Roh yang sama menghendaki pemulihan. Sehingga, alam raya rusak oleh keserakahan dan kebebalan hati mati manusia dapat dipulihkan kembali.
Bagi Petrus, kebenaran itu tidak cukup dipahami, tidak cukup juga hanya dengan tindakan simbolis liturgi semacam baptisan. Ia harus mewujud dalam gerakan komunal yang menghadirkan kebaikan bersama. Lihat kisah selanjutnya, umat Allah yang telah mengerti kebenaran, mereka merespons dengan memberi diri dibaptis. Dan, mereka melanjutkan dalam partisipasi menghadirkan kebaikan dengan cara membangun komunitas yang saling peduli, penuh empati satu dengan yang lain. Inilah yang kemudian kita kenal dengan pola kehidupan jemaat mula-mula.
Perhatikan alurnya, pencurahan Roh Kudus pada peristiwa Pentakosta merupakan tonggak lahirnya Gereja. Dan, gereja adalah tubuh Kristus di dunia ini. Dalam kesadaran itu, melanjutkan karya dan keprihatinan Yesus adalah sebuah keniscayaan. Sebagaimana tubuh yang terdiri dari banyak anggota, gereja pun demikian. Kepelbagaian dalam “tubuh Kristus” ini adalah anugerah Allah untuk mendatangkan kebaikan.
Paulus dalam 1 Korintus 12, meyakini bahwa setiap orang percaya, sama seperti tubuh, dianugerahi rupa-rupa karunia. Ini bukan untuk kebaikan dan kepentingan sendiri, namun untuk kepentingan bersama. Di tengah jemaat Korintus yang sibuk mencari kemuliaan sendiri, Paulus mengingatkan bahwa, Roh Kudus itu menyingkapkan kebesaran dan kemuliaan-Nya melalui rupa-rupa karunia. Tidak ada satu karunia lebih unggul dari karunia yang lain. Dan, tidak boleh orang mengagungkan diri lantaran memiliki karunia tertentu sambil melecehkan karunia yang lainnya. Jadi, dalam keunikan masing-masing setiap orang terpanggil untuk mengambil bagian dalam menghadirkan kasih dan kebaikan Allah.
Dunia yang kita tinggali ibarat kampung yang sedang terbakar. Tidak sedang baik-baik saja. Gereja, Anda dan saya ada dalam dunia yang sama. Banyak orang di sekitar kita sedang berdiri kaku dengan tatapan kosong, mereka mengalami banyak kehilangan. Ada juga yang sedang histeris, putus asa. Banyak yang terluka menghadapi kematian. Hak-haknya dirampas dan diperlakukan tidak adil. Hutan-hutan hangus terbakar oleh keserakahan manusia. Sumber daya alam terkuras hanya untuk memanjakan hasrat sesaat bagi segelintir orang yang punya akses pada sumber kekuasaan.
Sepertinya dalam situasi seperti ini, Roh Kudus akan berduka ketika “tubuh Kristus” hanya mengunci diri dalam ruangan berpendingin, sound system membahana, musik yang keren dalam rangkaian liturgi apik. Roh Kudus akan bersukacita ketika “tubuh Kristus” berkarya mendatangkan kebebasan bagi yang tertindas, memberi cahaya bagi mereka yang dalam kegelapan, mendatangkan pengharapan bagi yang sedang berputus asa.
Suatu malam di sebuah rumah sakit daerah, seorang anak kecil duduk di lorong sambil memeluk tas sekolahnya. Ibunya sedang dirawat karena sakit. Ayahnya sudah lama meninggal. Anak itu seorang diri!
Tatapannya yang sayu melihat orang-orang berlalu-lalang, tetapi tak ada yang memerhatikannya. Bisa jadi, mereka pun sibuk dengan kecemasan masing-masing. Jam dinding terus berdetak, lampu di lorong itu terasa semakin redup dan dingin. Anak itu mulai menangis pelan.
Tak lama muncullah seorang petugas kebersihan. Ia duduk di samping anak itu, lalu berkata pelan, “Sudah makan belum?” Anak itu hanya bisa menggelengkan kepala.
Tanpa kata lagi, petugas itu pergi sebentar lalu kembali membawa roti dan teh hangat. “Ini untuk mengganjal perutmu.” Katanya, lalu pergi meneruskan tugasnya. Beberapa saat kemudian datang seorang perawat meminjamkan selimut kepadanya. Sejurus kemudian, ada anggota pasien yang mendatangi anak itu, katanya: “Saya juga sedang menunggu bapak yang sakit. Saat ini saya merasa cemas, namun maukah kita doa bersama?”
Malam itu penyakit ibunya belum langsung sembuh. Masalah hidup anak kecil itu belum selesai. Tetapi anak itu tidak lagi merasa sendirian. Kadang-kadang kebaikan terbesar bukanlah mendatangkan mukjizat dahsyat, melainkan hadirnya orang-orang yang digerakkan hatinya untuk menjadi sahabat bagi sesamanya.
Ketika Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, Roh itu tidak turun untuk membuat murid-murid menjadi terkenal atau hebat sendiri-sendiri. Roh Kudus hadir untuk melahirkan komunitas baru; orang-orang yang saling menguatkan, saling memahami, dan menghadirkan kasih Allah bagi banyak orang. Di tengah dunia yang penuh dengan perpecahan, ketakutan, pementingan diri sendiri, Roh Kudus bekerja menghadirkan kebaikan bersama. Roh Kudus bekerja melalui Anda!
Jakarta, 21 Mei 2026. Pentakosta, Tahun A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar