Di ruang tunggu ICU ada seorang ibu yang menunggu anaknya yang sedang dirawat. Baru saja dokter memberitahu kondisi terkini anaknya itu, “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin menangani anak Ibu. Kita lihat perkembangan ke depannya.”
Tidak ada kepastian. Tidak ada jaminan bahwa kondisi anaknya akan membaik. Ternyata Ibu ini tidak sendirian, di ruang tunggu itu ada banyak teman senasib yang menanti dengan harap-harap cemas. Meski rata-rata tampak gelisah, namun ada berbagai ekspresi. Ada yang mulai marah-marah dengan pelayanan rumh sakit, khususnya dokter dan perawat. Ada yang mulai mempertanyakan kuasa dan penyertaan Tuhan. Beberapa orang menunjukkan sikap menyerah. Namun, Ibu ini berkata, “Tuhan, saya tidak mengerti dengan semua yang terjadi pada anak saya. Tetapi, saya percaya anak saya bukanlah milik saya. Ia adalah milik-Mu dan pasti Engkau memegang anak itu!”
Iman bukanlah harus selalu mengerti, tetapi percaya. Iman adalah pilihan di tengah kegelisahan. Murid-murid Yesus sedang cemas oleh karena sesaat lagi Sang Guru akan pergi. Namun, Yesus tidak menjawab kegelisahan itu dengan menghapus situsi sulit, alih-alih Ia mengundang mereka untuk memilih percaya! Kata-Nya kepada mereka, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yohanes 14:1)
Perhatikan apa yang dikatakan Yesus. Ia tidak berkata, “Aku akan menghilngkan semua masalahmu sekarang.” Namun, Ia berkata, “Percayalah!” Iman bukan reaksi alami tetapi keputusan batin yang berserah penuh kepada Tuhan. Lalu, apa dasarnya percaya kepada Yesus. Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.”
Jalan yang dimaksudkan Yesus bukan jalan nyaman, bukan juga jalan mulus yang tidak ada hambatan. Jalan itu adalah jalan salib! Jalan yang dihindari oleh banyak orang. Jalan itu tidak hanya sepi tetapi penuh dengan kerikil tajam, meski tidak setajam duri yang menancap di kepala Yesus. Tetapi cukup menyakitkan dan menguras air mata! Hidup beriman adalah memilih jalan yang benar, meski harus kehilangan apa yang kebanyakan orang sukai. Jadi, iman adalah keputusan sadar untuk tetap percaya, berjalan, dan bertindak bersama dengan Kristus, meski situasi banyak kemelut dan dalam pusaran ketidakpastian. Pilihan hidup beriman bukan perkara hidup tanpa masalah, tetapi tentang percaya di tengah masalah!
Yesus adalah jalan, kebenaran, dan hidup; ini bukan sekedar konsep iman. Namun merupakan relasi ekslusif dengan Kristus. Dalam relasi inilah iman menghasilkan sebuah tindakan. Yesus menyimpulkannya, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan.” Artinya, iman sejati tidak berhenti di hati, ia akan terlihat dalam hidup keseharian.
Stefanus berhasil mewujudkan iman itu dalam kehidupan nyata. Yesus telah menunjukkan jalan iman itu dan Stefanus menapakinya. Sekarang kita melihat Stefanus. Ia tiak sedang di gereja, tidak juga sedang menyanyi. Ia sedang dirajam batu sampai mati! Anda bisa membayangkan setiap orang dengan penuh kebencian menghujamkan batu pada tubuhnya. Ngilu, sakit! Darah mengalir di sekujur tubuhnya. Orang-orang berteriak menginginkan kematiannya. Dalam kondisi itu, ketika masih ada nafas, apa yang keluar dari mulutnya?
Bukan kutukan, bukan kebencian, bukan juga menyalahkan orang yang berusaha membunuhnya. Tetapi: “Tuhan, jangan tangungkan dosa ini kepada mereka!” (Kisah Rasul 7:60). Bayangkan apabila situasi itu terjadi pada Anda dan saya? Kita dipermalukan, difitnah, dihancurkan bisnis dan reputasi, diserang tanpa alasan, dilukai. Kira-kira apa respons kita? Kebanyakan orang tidak tahan. Iman diparkir dulu. Sebaliknya, pembalasan dirancang, hati siap diisi dengan kebencian dan waktu yang dianggap tepat dipakai untuk balas menyerang. Tetapi Stefanus memilih seperti Yesus. Inilah pilihan iman; memilih jalan yang dijalani Yesus, karena Ia adalah Jalan yang menunjukkan kebenaran dan berujung pada kehidupan. Inilah puncak iman: tetap mengasihi saat disakiti!
Apa yang diajarkan Yesus dalam Yohanes 14 dihidupi oleh Stefanus. Perhatikan apa yang dikatakan Yesus. Yesus berkata, “Percayalah”, Stefanus tetap percaya meski di ambang kematian. Yesus berkata,”Akulah jalan”, Stefanus mengikuti jalan itu sampai ia mati. Yesus mengampuni, Stefanus memohon pengampunan terhadap mereka yang melukai dan membunuhnya. Jadi, iman sebagai pilihan bagi Stefanus bukan teori, tetapi kehidupan yang dijalaninya setiap hari.
Ada seorang penganiaya yang berdiri di sana. Ia menyetujui kalau Stefanus harus mati. Orang itu adalah Saulus. Ia menyaksikan bagaimana Stefanus meregang nyawa. Bagaimana dalam rasa sakit tingkat dewa itu Stefanus masih bisa mengampuni para penganiayanya. Dan tentu saja Saulus menyaksikan bagaimana Stefanus tetap teguh dalam iman di tengah sakaratul maut. Inilah benih iman. Benih itu kelak akan tumbuh bahkan dalam kekerasan hati manusia. Suatu hari Saulus berubah menjadi Paulus. Dari seorang penganiaya menjadi seorang pekabar Injil. Jadi, Stefanus tidak mati sia-sia. Bahkan dalam kematiannya, ia mengubahkan dunia, itulah iman sejati!
Memilih hidup beriman bukan pilih untuk hidup bebas dari masalah. Ini bukan tentang hidup nyaman. Ini tentang memilih percaya pada saat hati gelisah; Memilih hidup benar saat dunia menekan dan menindas; Memilih mengasihi saat disakiti dan dihianati; Dan memilih setia sampai akhir!
Hari ini mungkin Anda sedang gelisah. Anda sedang terluka, dihianati, kecewa, dan hampir putus asa. Rasanya tidak kebetulan ketika Anda mendengar firman-Nya, “Jangan gelisah ... percayalah kepada-Ku!” Lihatlah Stefanus, ia bukan tokoh fiktif atau super hero yang dilengkapi senjata mumpuni. Ia manusia biasa seperti Anda dan saya. Ia mati juga dilempari batu, tidak kebal. Tetapi satu hal yang luar biasa adalah bahwa Stefanus memilih iman sampai akhir!
Hidup beriman bukan tentang apa yang kita rasakan, tetapi tentang kepada siapa kita menyandarkan diri dan percaya. Dan, ingat bahwa setiap pilihan itu selalu mengandung konsekwensi. Pilihan itu menentukan hidup kita sekarang dan nanti dalam kekekalan.
Cirebon, 30 April 2026, Minggu Paskah V Tahun A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar