Senin, 30 Maret 2026

MELAMPAUI KEHENINGAN

Entah mengapa setiap momen krusial Paskah selalu berdekatan dengan perayaan Ceng Beng (Qing Ming). Ziarah kubur! Mungkin ini adalah momentum kita merenung tentang kematian. Ceng Beng adalah Tradisi bersih-bersih makam dalam budaya Tionghoa ini erat kaitannya dengan ajaran Konfusianisme yang menekankan xiao, penghormatan atau bakti kepada orang tua dan leluhur baik ketika mereka hidup maupun setelah meninggal.

 

Xiao bakti, penghormatan dan pengabdian terhadap orang tua, mulai dari memperhatikan kesejahteraan hidup, merawatnya, mematuhi segala ajarannya, hingga mengurus jenazah dan memakamkannya. Konfusinasme mengajarkan, dengan melakukan Ceng Beng, seseorang mengegaskan bahwa bakti dan penghormatan terhadap orang tua tidak putus ketika leluhur mereka meninggal, tetapi terus berlanjut dalam bentuk penghormatan berkelanjutan dan pengakuan bahwa hidup mereka tidak lepas dari anugerah dan jasa leluhur.

 

Apa yang dapat dilakukan orang yang sudah mati? Tidak ada! Minimal itu yang dipahami oleh Ayub, “Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia? Seperti air menguap dari dalam tasik dan sungai surut menjadi kering, demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya.” (Ayub 14:10-12). Mati adalah akhir! Inilah juga yang diyakini oleh kaum Saduki. Kematian adalah ujung dari segalanya. Lalu apa yang diharapkan dari kematian?

 

Nikodemus, yang bukan Saduki. Pasti ia juga meyakini bahwa di ujung kematian ada kebangkitan. Namun, tampaknya sengat kematian sangat perkasa. Ia pun tidak berdaya berhadapan dengan kematian Sang Guru yang dulu pernah mengajarinya tentang kehidupan kekal. Tentang Anak Tunggal Bapa yang diserahkan kepada dunia demi cinta-Nya. Ya, dalam sunyinya kematian, Nikodemus tidak lagi berharap banyak dari Yesus yang telah terbujur kaku. Yang bisa dilakukannya adalah memberikan yang terbaik! 

 

Mengapa Nikodemus tidak lagi sembunyi-sembunyi datang memulasara jasad Yesus dengan campuran minyak mur dengan minyak gaharu seberat lima puluh kati? Suatu nilai ekonomi yang besar. Satu kati setara dengan 327 gram. Jadi 50 kati beratnya kira-kira 16-17 kg. Harga mur dan gaharu kualitas tinggi bisa setara dan lebih mahal dari minyak narwastu. Jika harga mur dan gaharu bisa mencapai ratusan dinar per kilogramnya, maka membutuhkan ratusan dinar Nikodemus untuk membelinya! Jelas ini bukan bentuk pemborosan. Inilah – yang dalam pemahaman Konfusianisme sebagai bentuk xiao, bakti murid pada Gurunya. 

 

Apa yang dilakukan Nikodemus sangat kontras dengan pandangan umum masyarakat pada zaman Yesus disalibkan. Pada zaman itu menguburkan orang yang telah disalibkan bukan tindakan wajar. Apalagi dilakukan dengan penghormatan! Kekaisaran Roma memakai hukuman salib bagi para budak, pemberontak, penjahat besar. Ini dimaksudkan untuk memberikan efek jera. Namun, perjumpaan dengan Yesus membuat cara pandang Nikodemus berbeda dari kebanyakan orang pada zamannya. Nikodemus pasti menyerap kebenaran dari Sang Guru yang mati dengan cara terhina. Meski bukan leluhur dan orang tuanya sendiri, Nikodemus merasakan interaksi dan relasinya dengan Yesus membawanya pada pemahaman baru tentang kehidupan kekal. Tak pelak lagi, Yesus telah berjasa mengubah pandangan dan tujuan hidupnya.

 

Kendati sengat maut begitu kuat. Nyaris meluluhlantakkan pengharapan. Namun, Nikodemus tidak berdiam diri, menangisi dan menyesali keadaan. Dia berbuat, melakukan apa yang dipandangnya baik. Penghormatan! 

 

Bayangkan Anda menjadi Nikodemus. Anda datang pada malam hari, sembunyi-sembunyi dan bertanya tentang kehidupan kekal. Lalu, Yesus membuka wawasan Anda. Namun, karena Anda seorang Farisi yang menjaga ketat ajaran dan syareat Taurat, Anda selalu dibayang-bayangi oleh ketakutan. Takut terhadap kecaman dan tentu saja reputasi Anda pudar jika mengaku Yesus sebagai penasihat spiritual Anda. Namun, dalam batin, Anda membenarkan apa yang disampaikan Sang Rabbi itu. Ketika kesadaran itu memuncak, Sang Guru telah menjadi jasad! Anda berpikir, ini kesempatan terakhir untuk menghormatinya meski terlambat!

 

Hening, sunyi kuburan adalah cermin penghormatan. Andai batu-batu nisan itu dapat berbicara. Ia akan jujur menceritakan perilaku para pengunjungnya. Sayangnya, mereka hanya membisu. Adakah yang dapat melampaui keheningan dan kebisuan itu? Ada, penghormatan yang dapat Anda kerjakan hari ini!

 

Lihat kuburan-kuburan Tionghoa pada saat Ceng Beng. Bersih, dicat baru dan banyak bunga bertebaran di atasnya. Seorang kawan berseloroh, “Indah pada saat Ceng Beng, tetapi terbengkalai pada hari-hari lain!” Meski tidak semua orang, namun selalu saja ada orang yang merasa terlambat dalam melakukan hal terbaik untuk menghormati orang yang dicintainya. Terlambat, ia sudah tiada!

 

Nikodemus memberikan yang terbaik pada saat Yesus telah mati. Campuran minyak mur dan minyak gaharu yang kalau dikonversikan sekarang harganya bisa ratusan juta hingga milyaran. Ketika Anda membaca tulisan ini, Anda masih punya kesempatan. Anda masih hidup! Gunakanlah hidup Anda untuk memuliakan Yesus dengan cara melayani, mengasihi satu dengan yang lain seperti yang diajarkan Yesus. Hari ini adalah kesempatan Anda untuk berkata-kata melalui hidup, melalui tindakan dan melalui pengorbanan, “Yesus, Engkau layakl menerima yang terbaik dariku!”

 

Jakarta, 30 Maret 2026. Renungan untuk Sabtu Sunyi, Tahun A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar