Oliver Sacks dalam karyanya An Anthropologist on Mars menyebut tokoh dalam bukunya dengan nama “Virgil”. Oliver Sacks menggunakan nama samaran Virgil untuk melindungi privasi pasiennya. Dalam karyanya, Sacks bercerita bahwa Virgil mengalami gangguan penglihatan berat sejak kecil. Ia hidup puluhan tahun dengan nyaris tanpa penglihatan. Pada usia 50 tahun Virgil menjalani operasi mata. Ia dapat melihat secara fisik, tetapi otaknya mengalami kesulitan dalam menafsirkan apa yang dilihatnya.
Kasus Virgil menjadi sangat terkenal dalam dunia neurologi dan psikologi persepsi karena menunjukkan bahwa melihat bukan hanya sekedar fungsi mata, tetapi juga otak yang belajar mengenali dunia.
Anda bisa membayangkan, sejak kecil Virgil nyaris buta. Di usia lima puluh tahun ia menjalani operasi yang akhirnya memberikan kembali kemampuan penglihatannya. Ketika perban yang menutupi mata itu dibuka, ia memang bisa melihat cahaya dan bentuk. Tetapi sesuatu yang mengejutkan terjadi: Otaknya tidak terbiasa memproses apa yang dilihatnya. Ia melihat warna dan bentuk, tetapi sulit mengenali benda. Virgil, harus belajar “melihat” dari awal, sama seperti proses bayi melihat! Ia bisa melihat warna dan garis tetapi tidak langsung tahu bahwa itu adalah wajah manusia atau sebuah kursi. Kasus ini menarik karena menunjukkan secara ilmiah bahwa melihat bukan hanya soal mata, tetapi juga soal pikiran yang memahami apa yang dilihat!
Inilah gambaran yang mendekati realita kontradiktif. Seseorang boleh memiliki mata yang sehat tetapi belum tentu mempunyai pemahaman yang benar tentang apa yang dilihatnya. Seseorang bisa bergaul begitu dekat dengan hukum-hukum Tuhan, tumbuh dalam spiritualitas ketat tetapi tidak sepenuhnya memahami dan mengerti, apalagi melakukan kebenaran Firman Tuhan. Seseorang bisa begitu dekat dengan Alkitab dan otoritas gereja tetapi bisa saja ia punya pikiran cabul, serakah dan jahat; membenarkan pembunuhan dan kekerasan!
Orang Yahudi, apalagi ahli Taurat dan Farisi terkenal begitu dekat dengan hukum-hukum Tuhan. Mereka memegang otoritas, kendali atas ajaran dan kebenaran; mereka memiliki “mata” untuk melihat. Namun, ini bukan soal “mata” tetapi pikiran yang memahami apa yang dilihat! Mereka melihat yang buta, lumpuh, bisu, tuli, menderita, dan sengsara dengan pemahaman bahwa inilah dosa dan akibatnya! Penyakit dan cacat fisik adalah akibat dosa. Akibatnya, mereka mengalami stigma sosial yang buruk. Akibat lanjutannya, mereka mengalami ketergantungan ekonomi, banyak yang menjadi pengemis, simbol ketidaktahiran atau gagal dalam hidup. Tragis!
Mata melihat, namun tidak bisa membedakan wajah dari kursi. Meskipun realita di depan mata yang seharusnya mereka mampu melihat “wajah Allah” menderita, yang harus ditolong tetapi para petinggi Taurat itu buta! Mereka punya dalil bahwa penderitaan itu adalah upah dosa. Ulangan 28 menjelaskan itu; penderitaan dipahami sebagai bagian dari kutuk dosa! Bagaimana dengan buta sejak lahir? Keluaran 20:5 menjelaskan bahwa hukuman dosa itu juga dapat menimpa keturunan si pembuat dosa?
Meskipun banyak dalil yang merujuk pada pemahaman penderitaan akibat dosa. Tampaknya para petinggi Taurat ini tidak berkutik. Mengapa? Kebutaan sejak lahir tidak pernah bisa disembuhkan (Yohanes 9:32). Artinya, mukjizat ini luar biasa sehingga para pemimpin Yahudi tidak dapat dengan mudah menyangkalnya. Lagi-lagi, untuk menutup mata, mereka menggunakan dalil lain, yakni: Mereka menggugat bahwa penyembuhan itu dilakukan pada hari Sabat!
Yohanes 9:14 menjelaskan bahwa Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu pada hari Sabat. Dalam tradisi hukum Sabat, tindakan seperti: mencampur sesuatu (menguleni), membuat adonan, melakukan tindakan medis yang sifatnya tidak darurat dapat dikelompokkan dalam pekerjaan yang melanggar kekudusan Sabat. Bagi kaum Farisi, hukum Sabat adalah identitas kesalehan Israel, karena itu mereka berkata: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat” (Yohanes 9:16). Menarik, para petinggi Taurat itu mau tidak mau harus mengakui bahwa mencelikkan orang yang buta sejak lahir itu pasti pekerjaan Allah. Mata mereka melihat itu. Namun, persepsi dan pemahaman ini harus ditolak dengan dalil identitas bangsa yang kudus, yakni hukum Sabat!
Apa yang membutakan mereka? Sederhana, jika mukjizat itu diakui berasal dari Allah, maka itu berarti mereka harus mengakui bahwa otoritas Yesus lebih besar daripada otoritas para pemimpin dan petinggi Taurat. Apa yang membuat mata mereka buta? Tidak lain dari gengsi! Bukankah benar, seringnya gengsi dan perasaan superior membuat manusia gelap mata dan tertutup bagi kebenaran. Tepatlah seperti gambaran pemilihan raja untuk menggantikan Saul. Isai dan Samuel melihat apa yang tampak oleh mata. Inilah yang menurut mereka dapat menjadi pemimpin Israel menuju superioritas. Nyatanya? Salah! Justru Allah melihat apa yang bukan dilihat manusia, Allah melihat kedalaman batin manusia!
Kita perhatikan si buta sejak lahir dengan meminjam teori Oliver Sacks. Si buta sejak lahir yang baru saja melihat, ia mencoba menyesuaikan apa yang dilihatnya dengan persepsi pemahaman otaknya. Ia terus berproses melalui perdebatan dengan pemegang otoritas Taurat yang mencari-cari celah kesalahan diri dan orang tuanya. Proses itu menghantarnya percaya kepada Yesus. Pada awal setelah matanya terbuka, ia mengatakan, “Ia adalah seorang nabi!” (Yohanes 9:17b) selanjutnya, orang buta yang telah melihat itu berkata, “’Aku percaya, Tuhan!’, lalu ia sujud menyembah-Nya” (Yohanes 9:38).
Anugerah yang diterima oleh Si buta sejak lahir bukan saja soal matanya yang dapat melihat. Lebih jauh dari itu; soal bagaimana mata yang melihat itu terkoneksi dengan pemahaman yang benar tentang apa yang dilihat, dialami dan dirasakannya hingga sampai pada pengakuan yang benar tentang siapa yang memulihkannya dan karya dari Sang Mesias itu. Inilah yang disebut melampaui kegelapan! Terang telah membawa si buta mengalami perubahan besar. Ia berani bersaksi. Ia sama sekali tidak menunjukkan ketakutan terhadap para pemimpin agama yang mencari-cari kesalahan. Baginya, melampaui kegelapan itu tidak sekedar mengubah pikiran tetapi kehidupannya.
Melampaui kegelapan inilah juga yang Paulus rindukan dari para pengikut Kristus. Ia mengingatkan Jamaat Efesus, bahwa dulunya mereka buta, hidup dalam kegelapan. Mereka melakukan maksiat dan kejahatan. Namun kini, setelah mengenal Kristus mereka hidup dalam terang dan menjadi anak-anak terang. Konsekuensinya, terang itu harus nyata dalam perilaku hidup mereka. Sekali lagi, ini bukan perkara perubahan pikiran atau perubahan identitas. Ini perilaku hidup yang melampaui kegelapan. Yakni, hidup benar di hadapan Allah dengan moralitas dan kasih yang bersumber dari Sang Terang yang sesungguhnya, yakni Kristus. Jadi, hidup dalam terang dan melampaui kegelapan bukan sekedar pengakuan terhadap Sang Terang, tetapi bersedia berubah, bertindak dalam keseharian menampilkan terang Kristus.
Ketika terang itu hadir, kegelapan dengan sendirinya lenyap. Terang Kristus mencelikkan dan menyingkapkan iman orang buta, sekaligus pada saat yang sama menyingkapkan kesombongan Farisi. Terang selalu mempunyai dua dampak besar: Menyelamatkan yang terbuka atau menyingkapkan yang menolak.
Ketika kita melihat wajah dunia penuh dengan konflik, perang, permusuhan, kemunafikan, kebohongan dan kesombongan, maka berhentilah meratapinya. Pada saat inilah justru dunia membutuhkan bukan banyak orang pintar, tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang hidup dalam terang Kristus, saya yakin salah satunya adalah Anda!
Jakarta, 11 Maret 2026, Minggu IV Pra-Paskah Tahun A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar