Selasa, 31 Maret 2026

DARI TRAUMA MENUJU SUKACITA

Secara umum, trauma merujuk pada dampak psikis yang mendalam dan berkepanjangan akibat suatu peristiwa buruk atau mengancam yang membuat seseorang merasa tidak aman, tidak berdaya, dan terluka secara emosional. Sebuah peristiwa kecelakaan dahsyat yang merenggut kekasihnya, maka sejak itu sang pemudi tidak lagi mau naik kereta api. 

 

Sebuah peristiwa dapat disebut “traumatis” secara psikologis ketika seseorang yang mengalaminya merasa tidak lagi mampu menghadapinya pada saat kejadian. Reaksi emosional dan ingatan terus muncul dalam bentuk flasback, mimpi buruk, atau kecemasan berulang. Jelas, mengganggu ritme kehidupan! Apakah Anda punya pengalaman traumatis? Meski tidak semua orang mengalami pengalaman traumatis namun, ada kalanya Tuhan izinkan “mimpi buruk” menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. Dampaknya? Kehilangan sukacita! 

 

Secara psikologis modern, dua orang murid; Kleopas dan temannya yang menuju Emaus (Lukas 24) tidak bisa dikatakan dalam kondisi “trauma”. Tepatnya, dalam kacamata psikologi, mereka berada proses setelah pengalaman traumatis. Ini tampak, mereka bukan sekedar merasakan kesedihan biasa. Mereka kecewa dan menghindari tempat kejadian perkara. Baru saja mereka mendengar atau bahkan menyaksikan dari jauh kekerasan biadab yang berujung pada kematian Guru yang mereka kasihi. Pengharapan mereka hancur, mesias yang menjadi impian untuk mengembalikan martabat mereka ternyata mati. 

 

Kini, muka mereka menjadi murung, sangat sedih, bimbang, putus harapan dan kembali mencari rasa aman di kampung halaman. Ini mirip dengan fase awal dari kesedihan, kecemasan dan “spiritual desolation” dalam konteks psikologis.

 

Meski tidak dikenali, Yesus mendampingi dalam perjalanan mereka ke Emaus. Kesedihan, kekecewaan pasca pengalaman traumatis sering kali menutup pandangan seseorang terhadap kehadiran orang lain, bahkan kehadiran Tuhan sekali pun. Apakah Tuhan tidak peduli? 

 

Yesus menyembuhkan emosi dan pengharapan Kleopas dan murid yang lain itu tidak dengan “terapi teknis psikologis modern”, tetapi dengan menemami mereka dalam perjalanan. Ia masuk dalam pusaran inti percakapan yang membuat mereka kecewa dan putus pengharapan. Ingat, Yesus tidak menjauhkan mereka dari obrolan yang menyebabkan mereka murung. dengan penuh empati, meski terasa keras Yesus mengingatkan dan mengajar mereka kembali melalui kitab para nabi. Secara klinis kita dapat mengatakan bahwa Yesus melakukan pendampingan emosional holistic; Ia mengakui rasa kecewa dan kebingungan Kelopas dan temannya itu, lalu pada saat yang sama mengembalikan makna dan harapan melalui relasi dan pernyataan Firman Tuhan.

 

Yesus tidak menghadang perjalanan mereka dari luar, tetapi mengikuti langkah mereka. Ia ikut berjalan bersama-sama dengan mereka. Ini menandakan bahwa Ia ikut berjalan dalam kegelapan emosi mereka, sehingga mereka tidak merasa sendirian. Bayangkan jika, Anda berjalan dalam kecewa lalu ada yang bersedia menemani. Berjalan bersama seseorang yang sedih – sudah menjadi faktor penyembuhan emosional penting dalam dunia psikologi karena hal ini mengurangi rasa terisolasi dan mendapat sandaran.

Tahap kemudian, Yesus mendengarkan dengan serius dan menghargai rasa kecewa mereka. Yesus bertanya dan membiarkan mereka bercerita tentang kisah duka lara mereka (Lukas 24:18-24). Artinya, Yesus mengizinkan mereka mengungkapkan emosi kecewa, kesedihan, kebingungan dan kehilangan pengharapan. Dalam konseling modern, bersedia mendengar, tanpa menghakimi adalah langkah pertama dalam penyembuhan luka. Mengapa? Ini membuat orang merasa  “diakui” dan tidak disalahkan atas rasa sakitnya.

 

Yesus memulihkan makna peristiwa traumatic melalui penafsiran firman. Yesus tidak hanya menemani, mendengar dan menghibur orang dalam kecewa dan dukacitanya. Tetapi juga membuka wawasan mereka terhadap Kitab Suci, lalu menerangkan diri-Nya (Lukas 24:27), sehingga peristiwa traumatic; kekalahan yang terasa memalukan buat Kleopas dan temannya, dalam hal ini salib dan kematian, menjadi bagian dari rencana keselamatan yang disediakan Allah. Dalam dunia psikologi makna (Logotherapy), mengembalikan makna pada pengalaman pahit adalah salah satu cara paling kuat mengurangi rasa hampa dan keputusasaan.

 

Kemudian Yesus membangkitkan “api” semangat dalam hati mereka. Semangat mereka kembali berkobar! “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan?” (Lukas 24:32). Ini menunjukkan bahwa pemulihan emosi terjadi melalui pergumulan superior rohani-emosional: rasa putus asa berubah menjadi gairah; kebingungan berubah menjadi keyakinan dan rasa bimbang menjadi antusias. Sehingga mereka memutuskan kembali ke tempat kejadian perkara: Yerusalem!

 

Pada akhirnya Yesus menghadirkan perjumpaan intim. Perjamuan sederhana! Inilah anamesis, mereka mengingat kembali ketika perjamuan malam itu. Yesus memecahkan roti, membaginya di antara mereka. Maka, terbukalah mata mereka (Lukas 24:30-31). Peritiwa perjamuan seharusnya membuka mata semua orang untuk melihat kehadiran Yesus sepenuhnya. Dalam konteks psiko-pastoral, momentum intim (makan bersama, komuni, hadir bersama) membuat orang mengalami pengalaman kenyamanan, penerimaan, dan terobosan emosional dan seringnya membuat titik balik penyembuhan terjadi.

 

Peristiwa kebangkitan Yesus yang memulihkan Kleopas dan temannya – mungkin baik menerjemahkan temannya Kleopas itu adalah diri kita sendiri – merupakan rol model bagi komunitas Kristiani dalam hal ini gereja untuk hadir sebagai tubuh Kristus yang memulihkan sesama. Ya, memulihkan orang dengan luka-luka batin dan pengalaman traumatis menjadi pribadi-pribadi ceria yang mampu menjadi saksi-saksi kebangkitan-Nya. 

 

Pertanyaannya kemudian: Apakah gereja mau berjalan bersama dengan orang-orang yang terluka? Apakah gereja hadir untuk mendengarkan jeritan luka? Apakah gereja  bersedia menguraikan firman bukan sekedar ajaran dokmatik tetapi menghadirkan kuasa pemulihan-Nya? Dan, tentu saja apakah gereja mau dan sudi duduk satu meja perjamuan dengan orang-orang terluka? Ingat, gereja adalah temannya Kleopas. gereja itu adalah Anda dan saya!

 

Mari bangkit menjadi pribadi-pribadi yang bersukacita!

 

Jakarta, 31 Maret 2026, Untuk paskah Sore tahun A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar