Kamis, 19 Oktober 2017

BERKARYA DI TENGAH DUNIA

Captatio benevolentiae. Itulah gaya bicara santun, kata-katanya diatur menawan dan cenderung memuji lawan bicara. Namun, sesungguhnya racun mematikan di balik kata-kata manis itu sedang ditebarkan. Jebakan! Orang-orang Farisi dan para pendukung Herodes menggunakan captatio benevolentiae terhadap Yesus. Lihat, kata-kata mereka, "Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka." (Matius 22:16). Bagaimana jika Anda disanjung dengan kalimat seperti ini? Wow, pasti melambung!
 
Kelompok Farisi, mewakili salah satu partai keagamaan terpenting Yahudi. Mereka sangat konservatif dan tidak senang dibebani untuk membayar pajak kepada penguasa asing; Kaisar Roma. Sedangkan para pendukung Herodes bukanlah partai keagamaan. Dari sebutannya jelas, mereka adalah pendukung dinasti Herodes yang lazim disebut kaum Herodian. Dengan demikian mendukung pula kuasa Roma di Palestina. Jadi sebenarnya dua kelompok yang berusaha menjebak Yesus ini mewakili dua sikap yang bertentangan. Yang satu tidak senang akan tekanan Roma dan yang lain mendukungnya. Namun, mengherankan yang bertentangan ini bisa bersatu untuk menjebak Yesus.

Membayar pajak kepada Kaisar, itulah yang menjadi bahan jebakan untuk Yesus. Persoalan membayar pajak di mana pun dan kapan pun menjadi persoalan pelik, bahkan ketidaksukaan. Maka sering terjadi kasus-kasus orang berkelit atau mengemplang pajak, memanipulasi laporan pajak dan menyuap petugas pajak. Pokoknya kalau bisa dihindari, ya dihindari. Kalau tidak bisa, dibuat laporan-laporan fiktif atau bayar di bawah meja!

Orang-orang Yahudi merasa dibebani dengan berbagai macam pajak. Rupanya, bukan hanya saat sekarang saja kita dikenakan berbagai macam pajak: ada pajak penghasilan, pajak kendaraan bermotor, pajak bumi dan bangunan, pajak pertambahan nilai, pajak barang mewah, dan lain sebagainya. Orang Yahudi pada masa itu juga dikenakan pelbagai jenis pajak. Ada pajak yang dipungut oleh penguasa Romawi, ada pajak yang dipungut oleh penguasa lokal, dan ada juga pajak yang dipungut oleh otoritas Bait Allah. Oleh karena itu, berbicara soal pajak adalah soal sensitif. Bisa saja karena sensitivitasnya sangat tinggi, maka persoalan pajak inilah yang dipakai untuk menjerat Yesus.

Kelompok Farisi dan pendukung Herodes ini bertanya tentang pendapat Yesus, "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" Di balik pertanyaan ini ada persoalan rumit. Andaikata Yesus menjawab tidak boleh, Ia akan berhadapan langsung dengan penguasa Romawi yang menetapkan pajak harus dibayar oleh orang-orang Yahudi sebagai pihak yang terjajah. Kita bisa membayangkan, kelompok pendukung Herodes ini akan maju di garda terdepan dan mendakwa Yesus sebagai pemberontak Kaisar. Sebaliknya, jika saja Yesus menjawab boleh, orang banyak yang pada waktu itu menyaksikan perdebatan ini akan segera berkata, "Inikah Mesias? Bukankah Mesias harus membebaskan bangsa kita dari kaum penjajah kafir? Mengapa dia justeru mengizinkan kita membayar pajak kepada Kaisar, bukankah dengan begitu kita akan melanggengkan kekuasaan Kaisar?

Yesus sangat sadar dengan jebakan ini. Maka Ia tidak mau langsung menjawab. Yesus meminta mereka memerlihatkan mata uang pajak yang mereka persoalkan. Mereka ternyata membawa mata uang perak Romawi, yaitu denarius, lalu menunjukkannya kepada Yesus. Pada zaman Yesus, mata uang itu bergambar Kaisar Tiberius, dilingkari dengan tulisan "Tiberius, Kaisar, Putra Agustus yang Ilahi'. Yesus bertanya kepada mereka perihal gambar dan tulisan siapa yang tertera pada mata uang itu. Tampaknya, mereka tidak bisa mengelak dan mau tidak mau harus menjawab, "Gambar dan tulisan Kaisar!" Dengan begitu, mereka juga mengakui bahwa mereka memakai apa yang menjadi kepunyaan Kaisar. Dengan demikian pertanyaan mereka sudah terjawab. Yesus hanya menegaskannya, "Berikanlah (kembalikanlah) kepunyaan Kaisar kepada Kaisar,...". Ini mengandung dua arti: Pertama, Berikanlah kepada Kaisar apa yang dimintanya dari kalian - dalam hal ini: pajak - sebagai penguasa. Untuk sementara, Allah telah memberikan kuasa kepada Kaisar Roma, maka Kaisar harus dihormati. Pemahaman ini kental dalam Perjanjian Lama (orang Farisi pasti memahaminya) bahwa segala jeni kuasa akhirnya berasal dari Allah. Kedua, Yesus hendak mengatakan bahwa diri-Nya bukan Mesias yang melaksanakan tugasnya dengan jalan merebut kuasa politik lalu menggantikan Kaisar.

Jawaban Yesus tidak berhenti di situ. Ia menggunakan kesempatan ini dengan mengajarkan, "(kembalikanlah) kepunyaan Allah kepada Allah." Dalam kesejajaran dengan kalimat pertama, yakni menyerahkan apa yang menjadi milik Kaisar kepada Kaisar, kalimat kedua menjadi tekanan dan puncak sebuah pernyataan. Maksudnya, bukan bahwa di samping kepunyaan Kaisar ada hal-hal lain yang menjadi kepunyaan Allah. Yesus tidak sedang mensejajarkan Kaisar dengan Allah. Tidak! Segala-galanya di dunia ini, termasuk Kaisar itu sendiri adalah milik Allah, diciptakan oleh Dia dan membawa "cap"-Nya; maka harus dikembalikan kepada-Nya. Caranya? Menurut ajaran Yesus, menggunakannya sesuai dengan maksud dan kehendak Allah. Mengembalikan kepada Allah apa yang menjadi kepunyan Allah, adalah sama dengan melakukan kehendak Allah atau mendahulukan mencari Kerajaaan-Nya (Matius 6:33). Dan Kerajaan Allah itu jelas mewujud dalam diri-Nya!

Serahkanlah kepada Allah apa yang dari Allah, adalah desakan untuk menyambut Kerajaan Allah yang diberitakan Yesus serta mengakui kemesiasan-Nya. Kerajaan Allah tidak bersaing dengan kerajaan Kaisar. Oleh karena itu kita tidak boleh membandikan kuasa Kaisar dengan Kuasa Allah; keduanya berbeda. Mesias datang ke bumi tidak untuk mengambil kuasa Kaisar, lalu menjadikan diri-Nya mesias politik-religius. Ia datang untuk menegakkan Kerajaan Allah. Maka, jawaban Yesus harus dipahami dalam terang kata-kata yang dicatat Yohanes 18:36, "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.". Tatanan-tatanan politik berkait erat dengan kebebasan manusia, sehingga penyempurnaannya harus terus diupayakan. Tetapi, misi Yesus tidak pernah bertujuan sesempit itu! Yesus mau membebaskan manusia bukan hanya dari tekanan politik Kaisar (sebagai mujud dari ambisi keserakahan manusia). Namun, Yesus mau membebaskan manusia dari belenggu dan perbudakan yang bercokol dalam hatinya untuk membukanya bagi kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia.

Jawaban Yesus bukanlah jawaban orang yang pandai berkelit dari jebakan lawan dengan kata-kata manis mereka. Namun, melalui persoalan pelik ini, justeru Yesus mengajarkan makna esensi dari ajaran-Nya bahwa, setiap orang harus tahu dan mengerti tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan Allah kepada-Nya. Manusia mestinya memiliki kesadaran bahwa kehidupannya di bumi ini bukanlah miliknya sendiri, melainkan pemberian dari Allah. Menyadari ini, jika saja apa yang dianggap menjadi milik Kaisar, harus dikembalikan kepada Kaisar, apalagi yang kita yakini sebagai milik Allah mestinya harus sepenuhnya dikembalikan bagi kemuliaan nama-Nya. Tidak ada apa pun yang melekat pada diri kita adalah hak milik kita. Semua dari pada-Nya, semua adalah pinjaman dan pemberian, maka pada akhirnya harus dikembalikan. Dengan cara bagaimana? Berkarya sebaik-baiknya di dunia ini, bukan untuk kemuliaan dan keuntungan sendiri, melainkan bagi Dia Sang Penguasa sesungguhnya!

Jadi, jangan diplintir: ajaran Yesus ini utamanya bukan boleh tidaknya membayar pajak kepada penguasa, melainkan tentang apa yang harus kita lakukan bagi kemuliaan-Nya.

Jakarta, 19 Oktober 2017

Rabu, 18 Oktober 2017

SAKSI MATA

Venesia pada abad pertengahan adalah kota penting sebagai pemasok rempah-rempah. Dari mana asalnya rempah itu? Tentu bukan dari daratan Eropa. Melainkan dipasok oleh para pedagang, terutama pedagang Arab. Untuk mencegah orang banyak mengakses sumber rempah itu secara langsung, maka diciptakannya mitos. Banyak mitos yang menggambarkan bahwa, lokasinya dijaga monster raksasa, hingga dihuni oleh para kanibal buas.

Adalah Ludovico di Varthema seorang yang mencoba mematahkan mitos itu. Pada 1502 ia meninggalkan keluarga dan kotanya, Bologna untuk memulai menjelajahannya. Dari Aleksandria dia menempuh perjalanan. Bersama para jemaah haji ia masuk Mekah dan Madinah (dialah seorang non-muslim pertama yang memasuki kota suci itu). Dari Yaman, ia menuju ke Persia, India, Malaka, Aceh dan sampailah ke Banda, Ternate dan Tidore.

Tahun ini, tepat 500 tahun silam Varthema wafat. Pesan yang sangat terkenal, "Ingatlah bahwa testimoni dari satu saksi mata akan lebih bernilai ketimbang sepuluh kabar burung." Apa yang dikatakannya berasal dari penglaman hidupnya. Ia tidak hanya percaya kepada kabar burung khususnya mitos-mitos tempat rempah berada. Ia membayar mahal untuk membuktikannya, untuk menjadi saksi mata.
Jangan puas hanya dengar "kabar burung", termasuk dalam ranah iman dan spiritualitas. Jadilah "saksi mata" di mana kita menyaksikan dan mengalami sendiri apa yang kita imani.

"Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau." (Ayub 42:5)