Kamis, 29 Oktober 2026

PEMIMPIN YANG DIPIMPIN ALLAH

Memasuki kawasan industri Tangerang, mobil kami terus melaju mengikuti petunjuk dari Google Map. Apa daya sinyal sering terganggu dan sialnya kuota internet habis. “Gunakan petunjuk akamsi (anak kampung sini) yang berlalu lalang, pasti tidak akan nyasar!” Ujar seorang sahabat yang menemani perjalanan. Mobil melaju mengikuti arus, jalan yang paling banyak dilewati kendaraan. Lama-lama kami mulai curiga: jalan semakin menyempit dan kendaraan mulai berkurang. Kini, tinggal satu mobil di depan kami. Dengan berharap cemas, mobil yang diikuti ini akan keluar ke jalan lebar dan mengarah ke tujuan. Ternyata, mobil yang diikuti itu berhenti di sebuah rumah, dan jalan di depan sudah buntu. Mobil itu bukan menunjukkan jalan, tetapi hendak membawa pulang penumpang ke rumah mereka!

 

Kita sering mengikuti orang yang berjalan di depan, entah itu secara harfiah atau simbolik. Persoalannya, bagaimana jika orang yang “di depan” itu ternyata tidak menunjukkan jalan yang tepat atau bahkan menyesatkan? 

 

Seorang yang berjalan di depan; pemimpin adalah orang yang mampu melihat ke arah mana ia akan melangkah. Ini penting, sebab orang-orang yang dipimpinnya akan mengikuti jalan itu. Seorang pemimpin harus bertanya pada dirinya sendiri: “Siapa yang sedang memimpin hidup saya ketika saya dipercaya memimpin orang lain?” 

 

Siapa yang sedang memimpin para pemimpin bangsa kita? Apakah dipimpin Allah atau dikendalikan oleh nafsu keserakahan? Apakah mereka dipimpin Allah sehingga kebenaran, etika dan moralitas menjadi landasan berpijak untuk melangkah menuju Indonesia emas? Ataukah mereka hanya menggunakan nama Allah untuk membenarkan kehendak sendiri? Pertanyaan ini berlaku juga bagi setiap orang yang dipercaya memimpin gereja, keluarga, dan komunitas lainnya.

 

Ketika Yosua, menggantikan Musa memimpin bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan, di bahunya terletak tanggung jawab yang maha berat. Ia harus membawa umat memasuki tahap baru dalam perjalanan mereka. Kisah ini tidak menempatkan Yosua sebagai figur otoriter. Allah tetap pemegang kendali. Ia menyatakan penyertaan-Nya dan bekerja di tengah umat-Nya. Di sini kita menemukan prinsip penting: Yosua, sebagai pemimpin menerima mandat untuk menjalankan tanggung jawab bukan dengan otoriter, atau hak untuk memiliki orang-orang yang dipimpinnya. 

 

Kepemimpinan Yosua sangat menginspirasi kehidupan kita berbangsa. Jabatan publik bukan milik pribadi. Anggaran negara bukan uang pribadi dari sang pejabat. Sumber daya alam bukan semata-mata komoditas yang boleh dikelola semaunya. Wewenang bukan izin untuk bertindak memuluskan keserakahan! 

 

Ketika kekuasaan diperlakukan sebagai milik pribadi, korupsi dan penyalahgunaan wewenang mendapatkan tanah yang subur untuk tumbuh. Ketika keputusan publik lebih menguntungkan kelompok yang memiliki akses dan pengaruh, pertanyaan tentang konflik kepentingan menjadi sangat penting. Bayangkan, segelintir orang yang punya akses pada pemerintahan lantaran telah berjasa mengusung seseorang hingga menjadi penguasa dapat mempengaruhi kebijakan dan mengangkangi undang-undang. Oligarki, tampak seperti kentut: baunya menyengat namun tidak tampak! Persoalannya bukan tidak boleh kaya dengan mengelola sumber daya alam, melainkan apakah konsentrasi  pengaruh itu membuat keputusan publik yang dituangkan melalui peraturan dan undang-undang berorientasi pada kemakmuran bersama atau justru mengorbankan sesama dan alam untuk kepentingan sendiri!

 

Dari sudut pandang iman, pertanyaan etisnya menjadi jelas:


Apakah kewenangan digunakan untuk kepentingan rakyat atau kewenangan menjadi kesewenangan untuk kepentingan pribadi? 


Apakah kebijakan dan undang-undang dibuat secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan?


Apakah kelompok yang lemah turut didengar ketika keputusan diambil?

 

Yosua memberi teladan tentang kepemimpinan yang bersandar kepada Allah. Namun harus diingat, bagi kehidupan bernegara, ketergantungan kepada Allah tidak boleh dijadikan tameng pengganti akuntabilitas: hanya dengan memakai “nama-Nya” seolah-olah semua dapat dipercaya. Seorang pemimpin tetap harus bersedia diperiksa, dikritik, dan dimintai pertanggungjawaban. Pemimpin yang dipimpin Allah dengan rendah hati akan mengatakan, “Ini tanggung jawab yang diserahkan kepada saya, silahkan untuk diperiksa dan dikritik!”

 

Dalam bacaan Injil hari ini, Matius 23:1-12 Yesus mengecam para pemimpin Yahudi: ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka mengajarkan sesuatu tetapi tidak melakukannya. Mereka memberi beban kepada umat, sementara mereka sendiri tidak bersedia memikulnya. Mereka sangat suka dihormati. Kritik Yesus sangat tajam karena persoalannya bukan sekedar kesalahan pribadi. Ini kesenjangan antara kewenangan moral yang mereka miliki dan cara mereka menjalankannya. Pemimpin dapat memiliki jabatan yang sah, gelar yang tinggi, dan kewenangan yang besar. Namun, semua itu tidak otomatis menjadikan setiap keputusannya benar.

 

Pemimpin yang tidak bersedia mendengar kritik berisiko kehilangan kemampuannya untuk mengoreksi dirinya sendiri. Pemimpin yang hanya menerima laporan “asal bapak senang” akan menjerumuskannya pada jurang kehancuran! Benar, kritik masyarakat tidak selalu benar. Ada kritik yang berasal dari kebencian, data dan fakta yang keliru, ada pula yang disampaikan secara tidak bertanggung jawab. Oleh sebab itu, kritik perlu ditanggapi dengan obyektif: perlu diperiksa berdasarkan fakta dan data!

 

Kritik dan ketidaksetujuan tidak harus diartikan dengan pemberontakan atau pembangkangan. Demonstrasi damai bukanlah ancaman bagi negara. Pertanyaan tajam dan gugatan bukan berarti benci dan tidak nasionalis. Dalam masyarakat demokratis, kritik merupakan salah satu cara masyarakat mengawasi penggunaan kekuasaan. Pemimpin yang bijak tidak harus menyetujui semua kritik. Melainkan, ia harus bersedia mendengar, memeriksa bukti, menjelaskan keputusan, memperbaiki kesalahan, dan mempertanggungjawabkan tindakannya.

 

Di sinilah pengajaran Yesus tentang kerendahan hati menjadi relevan. Kerendahan hati bukan ditafsirkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh tegas. Kerendahan hati berarti seorang pemimpin tidak menganggap dirinya kebal terhadap koreksi. Gereja pun harus melakukan otokritik: Apakah gereja berani menyuarakan ketidakadilan, termasuk ketika kritik itu tidak populer? Apakah gereja hanya mengkritik pemimpin yang tidak disukai? Bagaimana kalau ada anggotanya yang duduk dalam parlemen atau pemerintahan yang melakukan ketidakadilan? Apakah gereja berani bersuara? Jangan sampai gereja menjadi seperti orang Farisi yang ditegur Yesus: Pandai mengajarkan kebenaran, tetapi enggan menerapkannya ketika kebenaran itu menuntut pengorbanan. Para pemimpin yang dipimpin Allah tidak akan menganggap kritik sebagai musuh yang harus dibungkam, tetapi akan melihatnya sebagai kesempatan untuk menguji apakah kepemimpinannya masih berjalan di jalan yang benar atau tidak. 

 

Seorang pemimpin adalah orang yang memberi contoh dan teladan yang baik. Paulus mengingatkan jemaat di kota Tesalonika bahwa ia bekerja keras, tidak membebani mereka, serta hidup dengan saleh, adil, dan tidak bercela. Ini bukan pencitraan, sebab Paulus membuktikannya dengan perilaku dan tindakannya. Ia memperlakukan jemaat seperti seorang ayah yang menasihati dan menguatkan anak-anaknya. Paulus tidak hanya menyampaikan berita Injil melalui kata-kata. Kehidupannya ikut memperlihatkan kebenaran Injil yang diberitakannya. Di sinilah letak perbedaan antara pemimpin yang hanya memberi instruksi dengan pemimpin yang menghadirkan teladan.

 

Umat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang fasih berbicara, pandai berdebat, melainkan perkataannya dapat dipercaya, yang bersedia bekerja, tidak malu mengakui kesalahan, dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Dalam keluarga-keluarga kita apakah perilaku seperti ini terlihat dan diperagakan? Jangan berharap kepemimpinan nasional akan menjadi baik jika dalam keluarga anak-anak kita tidak melihat figur ayah, ibu, kakek, nenek, kakak hanya pandai mengatur dan menasihati tetapi tidak bersedia melakukan sendiri apa yang keluar dari mulut mereka!

 

Jakarta,29 Oktober 2026, Minggu Biasa Tahun A

Kamis, 22 Oktober 2026

HIDUP YANG MEWARISKAN IMAN DAN KASIH

Warisan, telah lama menjadi pokok persoalan konflik dalam keluarga. Ya, meskipun di sana-sini ada kisah yang baik dan membangun relasi keluarga menjadi lebih dekat dan mengalami kemajuan dalam taraf ekonomi. Namun, jumlahnya tidak banyak!

 

Sebenarnya, bukan terletak pada warisan anggota keluarga dan keturunannya mengalami konflik, melainkan lebih pada sikap seseorang memandang warisan. Apalagi kalau warisan itu dipahami sebatas harta, takhta, atau perusahaan. Maka, cara pandang terhadap “warisan” itu yang akan menentukan kelangsungan relasi antar anggota keluarga dan keturunan mereka, oleh sebab itu jika seseorang menghendaki kelangsungan hidup keluarga dan keturunannya mempunyai relasi yang baik maka tak ada jalan lain kecuali membekali mereka dengan sikap yang benar terhadap warisan. Sikap yang dilandasi oleh iman dan kasih. Dua hal ini sejatinya merupakan warisan yang sesungguhnya!

 

Hidup orang beriman tidak hanya dinilai seberapa lama seseorang menjalaninya, seberapa banyak yang telah dicapainya, atau seberapa besar pengaruh yang dimilikinya. Hidup seorang yang beriman akan terlihat dari apa yang ditinggalkannya bagi orang lain. Musa mengakhiri hidupnya setelah berjalan bersama dengan Allah memimpin bangsa Isral keluar dari Mesir. Paulus menggambarkan pelayanannya sebagai pelayan yang penuh kasih, bahkan seperti seorang ibu yang merawat anak-anaknya. Sementara itu, Yesus menegaskan bahwa inti sari kehidupan yang harus menjadi warisan utama adalah kehidupan yang mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya.

 

Ada sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan di tengah pencarian dalam dunia ini: “Apa yang akan tetap hidup setelah kita tidak ada lagi di dunia ini?” Seorang ayah mungkin bekerja keras sepanjang hidupnya untuk menyediakan rumah, pendidikan, dan masa depan yang baik bagi anak-anaknya. Ia menabung, membangun usaha, memastikan keluarga tidak kekurangan. Ya, semua itu adalah tanggung jawab dan kasih yang patut dihargai. Namun, bayangkan jika anak-anak kelak mewarisi rumah yang bagus, perusahaan besar, tetapi tidak pernah belajar mengampuni. Mereka memperoleh pendidikan tinggi, tetapi tidak punya hati yang peduli terhadap sesama. Mereka menikmati hasil kerja keras orang tuanya, tetapi tidak mengenal Allah yang selama ini menjadi sumber kekuatan orang tuanya.

 

Sebaliknya, ada keluarga yang tidak memiliki banyak harta untuk diwariskan. Namun, anak-anak tumbuh dengan melihat orang tuanya yang tetap berdoa ketika menghadapi kesulitan, berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan, tidak sungkan menolong tetangga yang mengalami kesulitan, dan mengasihi sekalipun sedang terluka. Anak-anak itu mungkin tidak mewarisi kekayaan materi, tetapi mereka menerima sesuatu yang berharga: contoh nyata tentang bagaimana iman kepada Allah yang membentuk cara seseorang menjalani kehidupan. 

 

Iman dan kasih tidak cukup hanya menjadi kurikulum pelajaran atau nasihat. Keduanya perlu diperlihatkan melalui kehidupan sehari-hari. Mengapa? Orang-orang di sekitar kita akan lebih banyak mencontoh apa yang mereka saksikan ketimbang apa yang didengarkannya. 

 

Musa dikenal sebagai pemimpin yang tampaknya keras, tetapi ia berhati lembut. Kecintaannya kepada Allah dan kasihnya kepada umat Israel tidak diragukan lagi. Umat Israel menyaksikan sendiri dengan mata kepala mereka. Ulangan 34 mengisahkan akhir dari kehidupan Musa. Setelah hampir empat puluh tahun memimpin Israel keluar dari tanah Mesir, melewati padang gurun, dan menghadapi pelbagai pemberontakan umat, akhirnya Musa berdiri di atas Gunung Nebo. Dari sini, Tuhan memperlihatkan tanah yang dijanjikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Namun, Musa hanya diperkenankan melihat tanah itu. Ia tidak memasukinya!

 

Bagi seorang pemimpin yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membawa umat menuju tujuan tersebut, ini mengandung sisi yang menyedihkan. Akan tetapi, Ulangan 34 tidak menutup Musa dengan kegagalan. Justru dalam ayat 10-12, Allah memberikan penghormatan luar biasa. Tidak ada nabi yang seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka. Di sini kita belajar, bahwa keberhasilan hidup tidak selalu harus menikmati hasil perjuangan kita. Apakah perjuangan mereka sia-sia? Tentu saja tidak! Sebab, kesetiaan tidak hanya diukur dari apa yang berhasil seseorang nikmati tetapi juga dari apa yang ia kerjakan dengan setia di hadapan Tuhan.

 

Musa tidak memasuki tanah perjanjian, tetapi ia telah mengambil bagian penting dalam perjalanan umat Allah. Hidupnya telah mewariskan ingatan iman bagi bangsa yang pernah ia pimpin. Ia bagaikan seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya. Rela mati demi anak-anaknya dan mewariskan apa yang seharusnya diperjuangkan oleh anak-anaknya itu.

 

Hal yang serupa terjadi dalam diri Paulus. Dalam 1 Telasonika 7-8, Paulus menggambarkan dirinya seperti seorang ibu yang merawat dan mengasuh anak-anaknya. Ia begitu mengasihi jemaat itu sehingga bukan hanya ingin membagikan Injil Allah, melainkan juga hidupnya sendiri. Paulus tidak memandang jemaat sekadar orang-orang yang harus mendengarkan khotbahnya. Mereka adalah manusia yang perlu dikasihi, dirawat, dan ditemani dalam perjalanan iman mereka. Inilah contoh bagi kita bahwa iman dan kasih yang kita wariskan bukan hanya kebenaran yang dapat kita ucapkan, tetapi juga perbuatan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin sama seperti Musa, hasilnya tidak langsung kita nikmati. Tetapi warisan itu akan menjaga keluarga, keturunan, dan orang-orang yang kita kasih tetap berada dalam jalan Tuhan.

 

Ada seorang ayah yang sepanjang hidupnya bekerja sebagai buruh bangunan. Tangannya kasar, punggungnya sering sakit, dan pakaiannya hampir selalu berbau semen. Rumahnya teramat sederhana, dan ia tidak mampu memberikan kemewahan kepada anak-anaknya. Tetapi setiap hari, pagi-pagi benar sebelum berangkat bekerja, ia selalu melakukan hal yang sama. Ia duduk sebentar di meja makan yang reyot, membuka Alkitab usangnya, lalu berdoa: “Tuhan, jagalah anak-anakku. Ajarlah mereka mengenal-Mu, bahkan ketika aku sudah tiada dan tidak bisa mendampingi mereka lagi.” Setelah itu ia berangkat bekerja.

 

Anak laki-lakinya, sebut saja Theo, tumbuh dewasa. Ia bersekolah, bekerja, lalu merantau ke kota. Di kota hidupnya berubah. Ia mulai jarang pulang. Telepon dari ayahnya sering tidak dijawab karena terlalu sibuk. Ketika ayahnya mengingatkan agar ia tidak melupakan Tuhan dan gereja, ia hanya menjawab, “Iya, Ayah. Nanti!”

 

Waktu terus berjalan hingga suatu hari ada kabar dari kampungnya bahwa ayah sakit keras. Theo segera pulang, tetapi terlambat. Ketika tiba di rumah, ayahnya sudah tiada. Setelah perkabungan selesai. Rumah sederhana itu terasa sangat sunyi. Di sudut ruangan, Theo melihat Alkitab usang milik ayahnya tergeletak di atas meja. Di sampingnya ada sebuah buku kecil berisi catatan doa. 

 

Dengan gemetar Theo membuka buku itu. Di sana tertulis nama-nama anggota keluarga. Nama istrinya, nama anak-anaknya. Ada juga nama-nama orang yang pernah bertengkar dengannya. Bahkan nama tetangga yang pernah memperlakukannya dengan tidak baik. Di samping setiap nama, ada tanggal dan kalimat pendek:

 

“Tuhan, tolong anakku menemukan jalan yang benar. Tuhan, jagalah keluarganya ketika aku tidak bisa berada di dekatnya.”

“Tuhan, mampukanlah aku mengampuni tetanggaku.”

 

Lalu, Theo menemukan satu halaman yang membuatnya terdiam lama. Di sana tertulis namanya sendiri:

“Tuhan, Theo semakin jauh dariku. Aku tidak tahu bagaimana menjangkaunya. Aku hanya bisa menyerahkannya kepada-Mu. Jangan biarkan Theo kehilangan kasih-Mu. Kalau suatu hari aku sudah tiada, biarlah ia tetap mengenal Engkau.”

 

Theo menangis. Ia menangis bukan karena ayahnya tidak meninggalkan warisan harta. Theo menangis karena baru menyadari betapa besar kasih sang ayah selama ini yang tidak ia lihat. Selama ini ia mengira ayahnya hanya seorang buruh bangunan yang pulang dengan tubuh lelah. Kini, ia menyadari bahwa setiap hari, di balik tubuh yang lelah itu, ada seorang ayah yang diam-diam membawa namanya ke hadapan Tuhan!

 

Beberapa bulan kemudian, ketika menghadapi persoalan besar dalam hidupnya, Theo kembali membuka Alkitab tua itu. Ia mulai berdoa, mula-mula dengan kata-kata yang kaku, kemudian dengan air mata. Ia tidak sempurna dalam sekejap. Tetapi perlahan-lahan, ia belajar mengampuni, memperbaiki hubungannya dengan keluarga, dan menolong orang lain.

 

Suatu malam, Theo duduk bersama anak-anaknya. Ia membuka Alkitab dan mulai bercerita tentang kakek. Dan kemudian mengeluarkan buku doa tua itu dan meletakkan di tangan anaknya. Warisan itu akhirnya berpindah tangan. Bukan berupa tanah, uang, rumah, atau perusahaan, melainkan iman yang terus hidup melalui kasih!

 

Kasih yang diajarkan Yesus: kasih kepada Allah dan sesama manusia, bukan sekedar teori. Ini harus diperagakan dan diturun-alihkan kepada anak-anak dan cucu kita!

 

Jakarta, 22 Oktober 2026, Minggu biasa tahun A. Untuk Penutupan Bulan Keluarga.