Selasa, 24 Maret 2026

MELAMPAUI KEMULIAAN

Kapan terakhir Anda menerima sanjungan? Tidak masalah kalau lupa kapan seseorang memberi sanjungan kepada Anda, tetapi mungkin ada yang tidak pernah lupa, yakni: reaksi ketika Anda menerima sanjungan. Senang, gembira dan yang sejenisnya! Ya, benar kalau perasaan Anda berbunga-bunga saat mendapatkan sanjungan, Anda normal. Sebagian besar orang merasakan perasaan yang sama!

 

Tunggu dulu sebelum rasa senang itu dapat memanipulasi Anda. Memang benar, tujuan utama dari sanjungan adalah membuat seseorang senang. Namun biasanya dilakukan untuk mendapatkan keuntungan dari si pembuat sanjungan. Ini sering kali muncul dalam hubungan sosial, kerja, apalagi dunia politik! Secara psikologis, sanjungan bisa meningkatkan rasa percaya diri sementara bagi yang menerimanya. Penelitian menunjukkan efek luar biasa dari sanjungan. Orang yang disanjung akan memberikan bantuan atau apa saja yang diingini dari si penyanjung hingga 79% (Naomi Grant, Mount Royal University Canada, 2010). Ini bergantung dari bahasa sanjungan dan momen yang tepat. Tetapi seiring berjalannya waktu orang yang disanjung merasa kosong bahkan menyakitkan ketika motif yang sesungguhnya terbongkar.

 

Berbeda dari sanjungan, pujian tulus diberikan seseorang oleh karena ia merasakan kehadiran orang yang dipujinya itu punya makna dan dampak dalam kehidupannya. Ini bukan pura-pura atau ada maksud tertentu. Bagaimana cara membedakannya. Sedikit sulit, namun pohon selalu dikenal dari buahnya. Amati, apakah pujian diulang secara konsisten atau hanya saat butuh bantuan.

 

Yesus masuk ke Yerusalem dengan menunggang keledai. Orang banyak mengelu-elukan-Nya. Daun-daun palem dilambaikan sebagai pertanda penyambutan terhadap seorang pembesar. Bahkan, sejumlah orang rela menghamparkan pakaian mereka diinjak oleh keledai yang membawa Yesus masuk Yerusalem. “Hosana bagi Anak Daud!” Yerusalem gempar, pembesar Yahudi gusar!

 

Kalau Anda yang duduk di atas keledai itu, menerima sanjungan dan pujian, dan Anda mempunyai kuasa luar biasa: mengusir setan, menyembuhkan segala penyakit dan membangkitkan orang mati, bagaimana perasaan Anda? Banyak orang memimpikan momen ini. Kuasa ada di tangan, para pemuja siap mendukung, dan tentu saja kemuliaan di depan mata!

 

“Hosana bagi Anak Daud!” adalah pekik yang tidak sembarangan. Ini berasal dari Mazmur 118:25-26. Ini bukan sekedar doa biasa, tetapi teriakan iman di tengah tekanan hidup. Ini pernyataan bahwa orang yang datang itu membawa otoritas penuh dari Allah. Teriakan itu memproklamirkan bahwa Yesus adalah seorang Mesias. Ini seumpama seorang anak yang tersesat di keramaian, ia berusaha sekuat tenaga berteriak memanggil ayahnya. Umat Israel mengharapkan pembebasan dari penindasan Roma. 

 

Selama ini mereka tertekan, menderita dan sengsara. Kini, mereka terkesan oleh mukjizat yang dilakukan Yesus. Pengusiran Setan, pemulihan penyakit bahkan penyembuhan seorang buta dari lahir dan yang lebih dahsyat adalah bahwa Yesus sanggup membangunkan Lazarus yang sudah dikubur empat hari lamanya. Tentu saja ekspektasi utama dari mereka adalah menghendaki Yesus menjadi raja politik!

 

Dari sekian banyak pujian dan sanjungan yang mengharapkan diri-Nya menjadi Mesias politik. Tentu saja ada yang tulus memuji dan berterima kasih kepada-Nya. Yesus tidak menolak pujian dan sanjungan itu. Inilah penggenapan Zakaria 9:9. Namun, di tengah sanjungan itu kalau kita meminjam catatan Lukas (Lukas 19:41-44), Ia menangisi Yerusalem. Mengapa? Sebab, mereka tidak mengenali-Nya dengan baik. Kebanyakan mereka menyanjung karena ada maksud tertentu, ada niat untuk menjadi masyarakat superior dengan menjadikan-Nya Raja atas Israel! Ini pelajaran buat kita: pujian sejati lahir dari iman mendalam yang mengenal Yesus dengan baik, bukan euforia sementara!

 

Euforia sementara itulah yang membuat mereka dalam waktu sekejap berubah. Teriakan “Hosana Anak Daud”, berubah menjadi, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Perubahan itu drastis sekaligus dramatik. Mirip dengan hari ini; Minggu Palmarum, sekaligus Minggu Sengsara! Dari sanjungan berubah menjadi cacian dan olok-olokan! Oop, tunggu dulu. Sebelum kita menghakimi penduduk Yerusalem yang dengan sekejap mata berubah, lebih baik introspeksi diri. Bukankah ini cerminan diri kita? Kita memuji, menyanjung Yesus sebagai Anak Allah yang Mahatinggi, Sang Penebus, dan banyak lagi gelar lainnya ketika kehidupan ini terasa baik-baik saja dan keinginan kita terlaksana. Bagaimana kalau sebaliknya? Harus menanggung penderitaan, doa-doa sudah lama tidak dikabulkan, hidup ini terasa tidak adil dan dunia mencibir? Bukankah pujian kita juga bisa mendadak menjadi caci maki dan penghianatan?

 

Sementara prosesi terus berjalan. Yesus tidak berusaha menuruti ambisi pemuja-Nya. Ia berjalan dalam ketaatan. Sambil menangisi Yerusalem dan juga kita, Ia tidak kecewa karena disalahpahami. Bahkan ketika bertubi-tubi fitnah dan rekayasa peradilan yang dirancang bermuara pada pembunuhan, Ia tidak membela diri. Kebenaran selalu menemukan jalannya. Pilatus bahkan sama sekali tidak menemukan alasan untuk menghukum mati Yesus. Bahkan kebenaran itu diungkapkan oleh istri Pilatus Caludia Procula yang membisikkannya di telinga sang suami. Pilatus tahu kebenaran, namun demi posisi dan untuk menyenangkan orang banyak ia memilih membungkam dan menyangkalnya. Oop, tunggu dulu! Jangan buru-buru menghakimi Pontius Pilatus. Renungkanlah, bagaimana kalau kita berada di posisinya? Sanjungan rakyat yang sekejap bisa menjadi murka dan pemberontakan. Dapatkah kita teguh berpihak pada kebenaran? Di Negeri ini tidak kurang banyak orang yang tahu etika, moral, dan kebenaran, namun tidak banyak yang bersedia membayarnya!

 

“Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Ini teriakan dari ramuan kecewa dan manipulasi para pemimpin Yahudi. Mereka kecewa karena Yesus tidak memenuhi harapan politik mereka dan para pemimpin Yahudi memakai momen ini untuk menghasut. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita tentang bahaya iman euforia tanpa pengenalan Yesus yang mendalam akan membuka ruang bagi hasutan yang segera mengingkari kebenaran.

 

Yesus diam, Ia tidak membela diri! Ini bukan karena kehabisan kata-kata, melainkan tindakan yang sarat makna. Sikap diam Yesus merupakan penggenapan nubuat Yesaya 53:7, “Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian… Ia tidak membuka mulutnya.” Yesus tahu bahwa “jalan ke Yerusalem” adalah penggenapan janji Allah dan di sinilah Ia menyerahkan diri untuk menanggung dosa manusia. “Anak Manusia datang … untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45). Jika Yesus membela diri dan bebas maka salib tidak terjadi!

 

Ada kalanya seorang dokter bedah tidak bereaksi dan berargumen terhadap komentar orang-orang di sekitarnya. Ia fokus pada penyelamatan pasiennya, bukan membela diri. Yesus fokus pada ketaatan kehendak Bapa untuk sebuah misi penyelamatan. Yesus tidak mengejar pada yang “terlihat benar”, tetapi benar di hadapan Allah! Inilah yang disebut melampaui kemuliaan!

 

Manusia sibuk mencari kemuliaan euforia, sehingga membuang energinya untuk pengakuan, validasi dan bahkan mengingkari kebenaran. Mungkin itu bisa membuat mulia. Namun, sayang hanya sesaat. Yesus mengajarkan tentang kemuliaan yang melampaui apa yang ditawarkan dunia ini. Ya, ada kalanya kita diam dan tidak usah membela diri. Ada saatnya, penderitaan itu menyapa dan mampir dalam hidup kita, tidak usah disesali. Ada saatnya, kita disalahpahami dan dituduh, tidak usah sedih. Yesus mengajarkan ada konsistensi dalam ketaatan dan ada kemuliaan yang sejati. Kejarlah itu!

 

 

Jakarta, 24 Maret 2026, Minggu Palmarum dan Minggu Sengsara Tahun A 

 

 

Selasa, 17 Maret 2026

MELAMPAUI KEHILANGAN

Siapa pun pernah mengalami kehilangan. Entah barang, uang, harga diri, kesempatan, atau bahkan belahan jiwa! Dampaknya? Tergantung dari seberapa dekat dan berharganya yang hilang tersebut. Barang kesayangan yang mahal tentu saja akan menimbulkan perasaan kehilangan yang lebih berat ketimbang uang recehan yang hilang. Bagaimana jika orang yang kita cintai hilang? Jelas, pukulan telak!

 

Bayangkan ada seorang ibu, sebut saja Ibu Bertha. Bu Bertha setiap hari menyiapkan makanan untuk sarapan pagi. Meja makan itu selalu ramai dengan celotehan suami, dan anak-anak. Ada ketawa dan canda, tapi tidak sedikit pula sentilan. Namun, suatu hari penyakit mematikan menimpa salah satu anak ibu tersebut. Maut menjemputnya!

 

Kehilangan luar biasa yang dirasakan keluarga itu. Sejak saat itu, suasana berubah. Meja makan tetap ada, Ibu Bertha tetap memasak dan menyediakan hidangan. Tetapi ada satu kursi yang kosong. Pada minggu-minggu pertama ibu itu selalu menaruh piring di kursi kosong itu. Seakan anaknya masih ada! Ini yang disebut oleh Kubler Ross sebagai penyangkalan. Ibu Bertha menyangkal bahwa anaknya telah tiada. Terkadang penglihatannya menyadarkan bahwa anaknya telah tiada. Ia marah sambil memukul dada dan berkata, “Tuhan, kenapa Engkau ambil anakku? Padahal aku lebih rela menghadap Engkau terlebih dahulu!” Inilah yang disebut tahap kemarahan.

 

Dalam penyesalannya Ibu Bertha juga berkata dalam hatinya, “Seandainya waktu itu aku melakukan ini dan itu. Seandainya saja dokter tidak terlambat mendiagnosa dan mengobati sakit anakku, ini pasti tidak terjadi! Ibu ini mulai dalam proses tawar-menawar. 

 

Kalimat yang sama keluar dari dua orang perempuan sahabat Yesus yang meratapi Lazarus, saudara mereka yang sudah empat hari meninggal, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati”(Yohanes 11:21; 32b). Marta dan Maria menyesalkan Yesus datang terlambat. Mereka percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan penyakit apa pun. Namun kini, Lazarus sudah menjadi jenazah, empat hari pula, maka tidak ada gunanya lagi. Sudah terlambat dan mereka kehilangan orang yang sangat dicintainya.

 

Yesus sangat memahami kesedihan mereka dan semua kerabatnya. Bahkan Ia pun terguncang hebat. Yesus menangis! Di sinilah drama kesedihan mendalam diperlihatkan Yesus. Dalam Injil Yohanes tidak ada peristiwa yang begitu mengguncang hati Yesus dan membuatnya sedih yang teramat dalam selain peristiwa kematian Lazarus. Guncangan hebat hanya bisa ditandingi ketika Yesus bergumul menjelang penangkapan-Nya di taman Getsemani.

 

Ya, dua peristiwa penting yang mengguncang Yesus patut kita renungkan. Injil Yohanes tidak mencatat pergumulan di Getsemani sebab, Yesus telah menyelesaikannya di sini. Di hadapan peristiwa kehilangan Lazarus. Menghadapi kematian Lazarus, Yesus bergumul hebat. Oleh sebab itu kita dapat memahami kalau Yesus seolah-olah menunda kepergiannya ke Betania. Sejak Marta dan Maria mengirim pesan bahwa Lazarus sakit, Yesus menunda dua hari lagi untuk sampai di Betania. Wajar kalau Marta dan Maria menyesali keterlambatan Yesus. Andai Yesus langsung pergi ke Betania, Lazarus pun tetap meninggal. Mengapa? Catatan Injil Yohanes, Lazarus yang dibangkitkan itu telah empat hari meninggal! Jadi, baik langsung ke Betania yang membutuhkan waktu dalam perjalanan atau pun menundanya tetap saja, Lazarus sudah meninggal!

 

Inilah pergumulan berat Yesus versi Injil Yohanes yang setara dengan pergumulan Getsemani versi Injil sinoptis. Yesus sangat mencintai Marta, Maria dan Lazarus. Ketika Ia melakukan apa yang dikehendaki Marta dan Maria, itu berarti membawa-Nya pada kematian! Mengapa? Di Getsemani Yesus bergumul dengan penangkapan, penganiayaan, kesengsaraan dan kematian yang begitu dekat. Dalam peristiwa Lazarus, setelah Yesus membungkam para petinggi Taurat dalam penyembuhan mata orang yang buta sejak lahir. Kini, mukjizat yang lebih hebat terjadi. Membangkitkan orang mati. Ya, bukan hanya mati kemarin sore tetapi Lazarus yang telah empat hari mati! Maka tidak ada jalan lain bagi para pembenci Yesus kecuali Yesus harus mati. Lihat kisah selanjutnya. Para pemuka Yahudi itu bukannya turut bersukacita atas kebangkitan Lazarus, alih-alih bersepakat untuk membunuh Yesus!

 

Untuk mengembalikan kehilangan Marta dan Maria, Yesus harus membayar dengan nyawa-Nya sendiri. Inilah gambaran yang sebenarnya terjadi dalam penebusan Yesus untuk manusia berdosa. Getsemani terjadi dalam keluarga yang saling mengasihi. Untuk setiap kehilangan, Yesus telah terlebih dahulu kehilangan nyawa-Nya. Ia melakukannya melampaui kehilangan kita! 

 

Benar, meski kita cinta mati dan percaya penuh kepada Yesus tidak akan bisa mengembalikan orang-orang yang kita cintai yang telah meninggal. Namun, bukankah Yesus mengatakan kepada para murid dan pendengarnya bahwa Lazarus itu tidur? Kematian bukan berarti kehilangan total. Yesus dapat membangunkannya kapan saja. Bagi kita, Yesus menjelaskan bahwa kematian bukan kehilangan. Penebusan-Nya melampaui kehilangan kita!

 

Kembali kepada cerita Ibu Bertha. Kini datang saatnya ia tidak ingin makan bersama lagi. Ia memilih diam di kamarnya. Baginya, meja makan merupakan tempat yang menyakitkan. Kesedihannya semakin mendalam. Suatu hari suaminya dengan lembut berkata, “Ma, kita tidak bisa mengembalikkannya, tetapi kita juga tidak boleh kehilangan satu sama lain.” Perlahan Ibu Bertha kembali duduk bersama di sekeliling meja makan. Kursi itu tetap kosong. Tidak ada yang menggantikannya. Namun, kali ini ia berdoa dengan berlinang air mata, “Tuhan, aku tidak mengerti, tetapi aku percaya Engkau tetap bersama kami!”

 

Hari-hari berlalu, luka itu tidak hilang. Kursi itu tetap kosong. Tetapi meja makan itu kembali menjadi tempat kehidupan. Tempat setiap anggota keluarga saling menguatkan! Kehilangan tidak selalu “hilang”. Tuhan dapat menghadirkan kursi kosong itu dengan semangat baru. Berduka adalah proses dari tidak percaya, marah, menyesal, hancur sampai pada akhirnya kita dapat menerima. Penerimaan bukan berarti melupakan tetapi dipulihkan. 

 

Masalahnya sekarang adalah seperti yang Yesus tawarkan kepada Marta dan Maria, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (Yohanes 11:40).

 

Jakarta, 17 Maret 2026 Minggu Pra-Paskah V Tahun A