Apa yang dilihat, dipandang membawa kenikmatan, kenyamanan dan kekaguman orang lain itulah yang segera viral, ditiru dan menjadi trend. Nyatanya, orang kian berlomba menjadi kaya, berkuasa dan dikagumi. Hedonisme di satu sisi dicibir dan dihujat. Namun, diam-diam dirindukan dan dikejar. Ketika kita membuka mata, ternyata negeri ini yang katanya religius, berketuhanan yang Maha Esa yang membuat tidak ada tempat bagi orang-orang yang tak bertuhan, ternyata sesungguhnya merupakan kedok di mana hedonisme dipuja, surga bagi koruptor dan kaum hipokrit. Di era keterbukaan dan viral medsos menjadi panglima, sulit menyembunyikan aib. Dari kasus “Pertamax oplosan” sampai amplop coklat Sidang Komisi 6 DPR, dari manipulasi PT Antam sampai Minyak Goreng subsidi, dari subsidi pupuk sampai korupsi PLN, semua menjadi terang-benderang. Jalan pintas adalah upaya mudah menikmati pelbagai kesenangan.
Tepatlah apa yang dahulu diwanti-wanti oleh Paulus, ”Kesudahan mereka adalah kebinasaan, ilah mereka adalah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” (Filipi 3:19). Peringatan Paulus jelas bukan ditujukan pada negara Konoha. Bahkan ini jauh sebelum negara Wakanda dirancang, dua ribu tahun lalu! Filipi adalah Jemaat yang pertama didirikan oleh Paulus di wilayah Eropa Timur (Kisah Para Rasul 16). Wilayah ini merupakan koloni Romawi di Makedonia. Sebagai koloni, kiblat penduduk Filipi tentu saja tertuju ke Roma dengan segala kemegahannya. Ya, mereka merindukan hidup sebagai orang-orang yang dihormati, punya gelar, dekat dengan penguasa dan tentunya hidup dalam kemewahan. Hedonisme menjadi impian dan jalan pintas adalah cara paling ekonomis meraih semua itu!
Paulus tegas. Ia mengatakan tidak! Bukan kehidupan para borjuis yang harus menjadi teladan. Yesuslah yang harus menjadi teladan bukan kemewahan kaum borjuis Romawi. Maka tidak segan Paulus mengingatkan jemaat Filipi untuk mencontoh dan meneladani Yesus yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai hak yang harus dipertahankan, melainkan Ia telah mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, taat sampai mati, bahkan mati dengan cara disalibkan (Filipi 2:1-11). Apa yang dinasihatkan Paulus, bukan hanya sekedar nasihat yang dituliskan. Namun, ia sendiri telah menjalani. Paulus tidak memilih jalan pintas. Demi Kristus dan kasihnya kepada banyak orang ia rela menderita bahkan dipenjarakan. Penjara tidak lagi bisa mengekang karya pelayanannya. Maka dengan lugas, Paulus menegaskan agar orang-orang Filipi mengikuti teladannya (Filipi 3:17).
Benar, Paulus tidak asal bunyi. Apa yang ia kerjakan mengikuti jejak Yesus Kristus. Yesus pun tidak mencari kuasa dan popularitas dari dunia. Walau jalan itu sulit, Yesus tetap menghadapinya. Perjalanan menuju Yerusalem adalah harga mati. Bukankah hal ini telah diteguhkan oleh Musa dan Elia di puncak gunung itu?Jadi, tidak ada jalan untuk menghindari apalagi mengambil jalan pintas. Lalu, apa yang terjadi dan peluang seperti apa yang sebenarnya bisa Yesus ambil agar terhindar dari penderitaan bahkan kematian tragis itu?
Setelah peristiwa transfigurasi yang meneguhkan-Nya, Yesus berjalan dari kota ke kota, desa ke desa dengan arah ke Yerusalem (Lukas 13:22). Ia mengajar dan memberitakan Injil Kerajaan surga; menyembuhkan yang sakit dan mengusir setan. Maka datanglah beberapa orang Farisi menemui-Nya, kata mereka: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” (Lukas 13:31). Benarkah sekelompok orang Farisi ini berniat baik agar Yesus tidak bernasib sama seperti Yohanes Pembaptis? Sebagian orang meragukannya. Mengapa? Sebab, Herodes belum pernah mengeluarkan maklumat untuk membunuh Yesus. Mereka sendiri yang merancang kebohongan agar Yesus meninggalkan wilayah Galilea. Mereka gerah, sebab Yesus semakin disukai di daerah itu. Mereka mendesak dengan seolah-olah mau menyelamatkan nyawa Yesus untuk segera pergi ke Yudea!
Sebagian orang berpendapat berbeda. Bisa jadi, apa yang dikatakan sekelompok Farisi itu benar adanya. Mengapa? Herodes geram terhadap sepak terjang Yesus, sebab Ia memberi kesaksian yang sangat baik tentang Yohanes Pembaptis yang baru saja dipenggalnya yang mengajarkan tentang pertobatan. Herodes sangat ingin mengusir Yesus dari wilayah kekuasaannya, dan kalau pun ia tidak berani membunuh-Nya, minimal ia dapat menakut-nakuti-Nya dengan pesan ancaman itu.
Apa pun itu, jelas yang dihadapi Yesus adalah tantangan. Namun, di balik tantangan itu ada peluang untuk menghindar. Ada jalan pintas untuk tidak menderita dan dibunuh! Bagaimana tanggapan Yesus? Tidak mundur sejengkal pun! “Pergilah dan katakanlah kepada si rubah itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi, hari ini, besok, dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidak mungkin seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem.” (Lukas 13:32,33). Rubah, sebagai sebutan untuk Herodes menggambarkan karakter dan tabiat yang licik. Rubah atau serigala terkenal dengan kecerdikan, tipu daya, dan kebengisannya. Ia memangsa korbannya di tempat yang jauh dari liangnya sendiri. Meskipun demikian, Yesus sama sekali tidak gentar. Ia tahu apa yang harus dilakukan-Nya. Bahkan, dengan cara bagaimana Ia harus mati tampaknya tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya!
Yesus mengirim pesan melalui kelompok Farisi ini kepada si Rubah itu: Aku tahu bahwa Aku harus mati. Aku menyadarinya, ini tidak akan menjadi masalah buat-Ku. Melainkan, kematian itu jugalah yang Kupilih. Oleh karena itu katakanlah kepadanya bahwa, Aku tidak takut mati. Ketika Aku mati, Aku akan selesai! Aku tahu bahwa Herodes tidak dapat melukai-Ku sedikit pun, bukan hanya karena saat-Ku belum tiba, tetapi juga karena tempat yang ditentukan bagi kematian-Ku adalah Yerusalem, yang tidak termasuk wilayah kekuasaannya. “Tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem!
Tampaknya Yesus menguasai panggung. Ia tahu benar narasi yang bakal dilakoni-Nya. Meski begitu banyak peluang dapat Ia ambil agar terhindar dari pelbagai kesulitan, penderitaan, penolakan, penistaan dan pembunuhan, Yesus bergeming! Yesus tidak mencari penderitaan dan sensasi kematian salib. Tidak! Ia menempuhnya sebagai jalan pembebasan bagi umat manusia. Cinta kepada Sang Bapa dan umat manusia membuat-Nya tegar menghadapi semua rintangan. Berbeda dengan Abraham yang pernah sangsi terhadap janji Allah sehingga ia mengambil jalan pintas untuk menghadirkan keturunan yang tidak kunjung hadir, Yesus setia sampai akhir!
Sangat mungkin ketika Anda menyimak renungan ini, Anda sedang dalam persimpangan jalan. Ada jalan pintas yang memudahkan jalan Anda mulus mencapai ambisi diri. Di sisi lain, ada jalan terjal, proses panjang dan berbelit ketika Anda harus setia membuktikan cinta Anda terhadap Tuhan dan sesama. Mungkin suara bisikan si penggoda – yang minggu lalu kita simak – kembali merayu, katanya: “Inilah kesempatan terbaikmu. Kesempatan tidak akan terulang untuk kedua kali. Ketika engkau mengambilnya, maka hutangmu beres, derajatmu naik, dan orang tidak lagi merendahkanmu!”
Masihkah dalam kondisi ini Anda akan tetap mengingat peristiwa pencobaan Yesus dan jalan terjal yang Yesus lalui. Masihkah kita sama seperti Paulus yang mengikut dan meneladani Yesus dengan harga mati, meski jeruji besi dan belenggu yang mendera tetapi tetap bersukacita (ingat salah satu tema surat Filipi adalah tentang sukacita!). Semoga kita dapat melewati setiap tantangan dengan meneladani Kristus!
Garut, 13 Maret 2025 MInggu II Prapaskah tahun C