Kamis, 13 Maret 2025

YESUS MENOLAK JALAN PINTAS

Apa yang dilihat, dipandang membawa kenikmatan, kenyamanan dan kekaguman orang lain itulah yang segera viral, ditiru dan menjadi trend. Nyatanya, orang kian berlomba menjadi kaya, berkuasa dan dikagumi. Hedonisme di satu sisi dicibir dan dihujat. Namun, diam-diam dirindukan dan dikejar. Ketika kita membuka mata, ternyata negeri ini yang katanya religius, berketuhanan yang Maha Esa yang membuat tidak ada tempat bagi orang-orang yang tak bertuhan, ternyata sesungguhnya merupakan kedok di mana hedonisme dipuja, surga bagi koruptor dan kaum hipokrit. Di era keterbukaan dan viral medsos menjadi panglima, sulit menyembunyikan aib. Dari kasus “Pertamax oplosan” sampai amplop coklat Sidang Komisi 6 DPR, dari manipulasi PT Antam sampai Minyak Goreng subsidi, dari subsidi pupuk sampai korupsi PLN, semua menjadi terang-benderang. Jalan pintas adalah upaya mudah menikmati pelbagai kesenangan. 

 

Tepatlah apa yang dahulu diwanti-wanti oleh Paulus, ”Kesudahan mereka adalah kebinasaan, ilah mereka adalah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” (Filipi 3:19). Peringatan Paulus jelas bukan ditujukan pada negara Konoha. Bahkan ini jauh sebelum negara Wakanda dirancang, dua ribu tahun lalu! Filipi adalah Jemaat yang pertama didirikan oleh Paulus di wilayah Eropa Timur (Kisah Para Rasul 16). Wilayah ini merupakan koloni Romawi di Makedonia. Sebagai koloni, kiblat penduduk Filipi tentu saja tertuju ke Roma dengan segala kemegahannya. Ya, mereka merindukan hidup sebagai orang-orang yang dihormati, punya gelar, dekat dengan penguasa dan tentunya hidup dalam kemewahan. Hedonisme menjadi impian dan jalan pintas adalah cara paling ekonomis meraih semua itu!

 

Paulus tegas. Ia mengatakan tidak! Bukan kehidupan para borjuis yang harus menjadi teladan. Yesuslah yang harus menjadi teladan bukan kemewahan kaum borjuis Romawi. Maka tidak segan Paulus mengingatkan jemaat Filipi untuk mencontoh dan meneladani Yesus yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai hak yang harus dipertahankan, melainkan Ia telah mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, taat sampai mati, bahkan mati dengan cara disalibkan (Filipi 2:1-11). Apa yang dinasihatkan Paulus, bukan hanya sekedar nasihat yang dituliskan. Namun, ia sendiri telah menjalani. Paulus tidak memilih jalan pintas. Demi Kristus dan kasihnya kepada banyak orang ia rela menderita bahkan dipenjarakan. Penjara tidak lagi bisa mengekang karya pelayanannya. Maka dengan lugas, Paulus menegaskan agar orang-orang Filipi mengikuti teladannya (Filipi 3:17).

 

Benar, Paulus tidak asal bunyi. Apa yang ia kerjakan mengikuti jejak Yesus Kristus. Yesus pun tidak mencari kuasa dan popularitas dari dunia. Walau jalan itu sulit, Yesus tetap menghadapinya. Perjalanan menuju Yerusalem adalah harga mati. Bukankah hal ini telah diteguhkan oleh Musa dan Elia di puncak gunung itu?Jadi, tidak ada jalan untuk menghindari apalagi mengambil jalan pintas. Lalu, apa yang terjadi dan peluang seperti apa yang sebenarnya bisa Yesus ambil agar terhindar dari penderitaan bahkan kematian tragis itu?

 

Setelah peristiwa transfigurasi yang meneguhkan-Nya, Yesus berjalan dari kota ke kota, desa ke desa dengan arah ke Yerusalem (Lukas 13:22). Ia mengajar dan memberitakan Injil Kerajaan surga; menyembuhkan yang sakit dan mengusir setan. Maka datanglah beberapa orang Farisi menemui-Nya, kata mereka: Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” (Lukas 13:31). Benarkah sekelompok orang Farisi ini berniat baik agar Yesus tidak bernasib sama seperti Yohanes Pembaptis? Sebagian orang meragukannya. Mengapa? Sebab, Herodes belum pernah mengeluarkan maklumat untuk membunuh Yesus. Mereka sendiri yang merancang kebohongan agar Yesus meninggalkan wilayah Galilea. Mereka gerah, sebab Yesus semakin disukai di daerah itu. Mereka mendesak dengan seolah-olah mau menyelamatkan nyawa Yesus untuk segera pergi ke Yudea!

 

Sebagian orang berpendapat berbeda. Bisa jadi, apa yang dikatakan sekelompok Farisi itu benar adanya. Mengapa? Herodes geram terhadap sepak terjang Yesus, sebab Ia memberi kesaksian yang sangat baik tentang Yohanes Pembaptis yang baru saja dipenggalnya yang mengajarkan tentang pertobatan. Herodes sangat ingin mengusir Yesus dari wilayah kekuasaannya, dan kalau pun ia tidak berani membunuh-Nya, minimal ia dapat menakut-nakuti-Nya dengan pesan ancaman itu.

 

Apa pun itu, jelas yang dihadapi Yesus adalah tantangan. Namun, di balik tantangan itu ada peluang untuk menghindar. Ada jalan pintas untuk tidak menderita dan dibunuh! Bagaimana tanggapan Yesus? Tidak mundur sejengkal pun! “Pergilah dan katakanlah kepada si rubah itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi, hari ini, besok, dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidak mungkin seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem.” (Lukas 13:32,33). Rubah, sebagai sebutan untuk Herodes menggambarkan karakter dan tabiat yang licik. Rubah atau serigala terkenal dengan kecerdikan, tipu daya, dan kebengisannya. Ia memangsa korbannya di tempat yang jauh dari liangnya sendiri. Meskipun demikian, Yesus sama sekali tidak gentar. Ia tahu apa yang harus dilakukan-Nya. Bahkan, dengan cara bagaimana Ia harus mati tampaknya tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya!

 

Yesus mengirim pesan melalui kelompok Farisi ini kepada si Rubah itu: Aku tahu bahwa Aku harus mati. Aku menyadarinya, ini tidak akan menjadi masalah buat-Ku. Melainkan, kematian itu jugalah yang Kupilih. Oleh karena itu katakanlah kepadanya bahwa, Aku tidak takut mati. Ketika Aku mati, Aku akan selesai! Aku tahu bahwa Herodes tidak dapat melukai-Ku sedikit pun, bukan hanya karena saat-Ku belum tiba, tetapi juga karena tempat yang ditentukan bagi kematian-Ku adalah Yerusalem, yang tidak termasuk wilayah kekuasaannya. “Tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem!

 

Tampaknya Yesus menguasai panggung. Ia tahu benar narasi yang bakal dilakoni-Nya. Meski begitu banyak peluang dapat Ia ambil agar terhindar dari pelbagai kesulitan, penderitaan, penolakan, penistaan dan pembunuhan, Yesus bergeming! Yesus tidak mencari penderitaan dan sensasi kematian salib. Tidak! Ia menempuhnya sebagai jalan pembebasan bagi umat manusia. Cinta kepada Sang Bapa dan umat manusia membuat-Nya tegar menghadapi semua rintangan. Berbeda dengan Abraham yang pernah sangsi terhadap janji Allah sehingga ia mengambil jalan pintas untuk menghadirkan keturunan yang tidak kunjung hadir, Yesus setia sampai akhir!

 

Sangat mungkin ketika Anda menyimak renungan ini, Anda sedang dalam persimpangan jalan. Ada jalan pintas yang memudahkan jalan Anda mulus mencapai ambisi diri. Di sisi lain, ada jalan terjal, proses panjang dan berbelit ketika Anda harus setia membuktikan cinta Anda terhadap Tuhan dan sesama. Mungkin suara bisikan si penggoda – yang minggu lalu kita simak – kembali merayu, katanya: “Inilah kesempatan terbaikmu. Kesempatan tidak akan terulang untuk kedua kali. Ketika engkau mengambilnya, maka hutangmu beres, derajatmu naik, dan orang tidak lagi merendahkanmu!”

 

Masihkah dalam kondisi ini Anda akan tetap mengingat peristiwa pencobaan Yesus dan jalan terjal yang Yesus lalui. Masihkah kita sama seperti Paulus yang mengikut dan meneladani Yesus dengan harga mati, meski jeruji besi dan belenggu yang mendera tetapi tetap bersukacita (ingat salah satu tema surat Filipi adalah tentang sukacita!). Semoga kita dapat melewati setiap tantangan dengan meneladani Kristus!

 

 

Garut, 13 Maret 2025 MInggu II Prapaskah tahun C 

Jumat, 07 Maret 2025

BERANI MENGHADAPI PENCOBAAN

Ben Ferencz mengalami masa kecil yang teramat berat. Keluarga Ferencz melarikan diri dari Romania untuk menghindari penindasan terhadap orang Yahudi selamat dari Holocaust. Mereka tiba di atas kapal dengan dek terbuka pada pertengahan musim dingin yang nyaris membekukan tulang. Ferencz belakangan menjadi pengacara dan menuntut para penjahat perang Nazi selama persidangan di Nuremberg.

 

Salah satu dari kisah Ferencz yang menarik adalah ketika ia mengenang pertama kali menginjakkan kaki di negeri Paman Sam. Ayahnya tidak bisa berbahasa Inggris. Akibatnya, sang ayah tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Mereka menetap di bagian New York yang dikendalikan mafia Italia di mana kekerasan menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Ferencz mengingat bahwa jalan hidup yang teramat terjal itu tidak membuat sang ayah menjadi gentar. Ia mengenang ucapan ayahnya: “Kehidupan waktu itu berat, tetapi mereka tidak tahu karena di tempat asal kami, kehidupan lebih berat lagi. Jadi, kami anggap itu perbaikan bagaimana pun juga!” Pencobaan pada umumnya dikaitkan dengan kehidupan berat, penuh derita dan air mata, meskipun dalam wujud lain ia bisa berupa kesuksesan, kemegahan, dan gemerlapnya kehidupan. 

 

Sama seperti sebuah rencana perjalanan panjang atau sebuah pertandingan akan bisa diatas apabila seseorang yang akan menghadapinya menyiapkan diri dengan berlatih. Seorang pendaki gunung tentu akan menyiapkan diri jauh-jauh hari sebelum ia mendaki sebuah gunung. Gunung yang tinggi dan bersalju, jelas membutuhkan persiapan lebih serius, bahkan ia harus membutuhkan waktu menyesuaikan suhu tubuh dengan temperatur di puncak gunung itu. Demikian juga dengan seorang petinju, jika ingin menang ia harus serius berlatih dan uji coba dengan lawan-lawan yang tangguh.

 

Kehidupan ini bagai perjalanan atau dalam bahasa Paulus, pertandingan. Sebuah perjalanan mengandaikan kita hanya tahu apa yang telah dilewati sedangkan jalan di depan adalah misteri. Sebuah pertandingan pun demikian, kemampuan lawan tidak pernah tahu, namun kita diberi waktu untuk menyiapkannya dengan berlatih. Kisah klasik pencobaan Yesus di padang gurun bisa dilihat dalam terang ini. Ya, seperti Gatotkaca yang digodok di kawah Candradimuka.

 

Dalam tradisi Injil Sinoptik, kisah pencobaan Yesus mengakhiri bagian persiapan dari karya Yesus di depan publik. Pencobaan ini tidak bisa dipisahkan dari peristiwa pembaptisan-Nya di Sungai Yordan. Yesus dicobai Iblis dalam status-Nya sebagai Anak Allah yang terkasih. Itu jelas dinyatakan dari suara langit. Yesus berada di padang gurun selama empat puluh hari, selama di situ Ia tidak makan apa-apa (Lukas 4:3). 

 

Di padang gurun selama empat puluh hari dan tidak makan apa-apa memaksa para pembaca narasi kisah ini ke masa lalu. Bukankah tokoh-tokoh Perjanjian Lama melakukan hal serupa. Musa menghabiskan waktu empat puluh hari berpuasa untuk menerima dua loh batu yang berisi tulisan Allah sendiri; Taurat. Elia yang harus tinggal empat puluh hari di padang gurun untuk sebuah persiapan perutusannya. Padang gurun dan angka empat puluh rupanya menyatakan persiapan bagi permulaan sebuah perutusan. 

 

 

Tiga kali Yesus dicobai Iblis di padang gurun itu. Narasi ketiga pencobaan itu sebagai dialog yang berisi permintaan dan jawaban. Iblis meminta dan Yesus menjawab. Semua jawaban yang diberikan Yesus merupakan kutipan dari sejarah umat Israel yang melintasi padang gurun dan terekam baik dalam kitab Ulangan. Dalam hal ini wawasan Yesus tentang Kitab Suci sangat mumpuni. Ketiga kutipan ini membawa pembaca kembali pada tiga peristiwa yang terjadi saat Israel keluar dari tanah Mesir. Waktu itu mereka ada dalam pencobaan di padang gurun dan ternyata gagal! Bagaimana dengan Yesus?

 

Mari kita lihat! Pencobaan pertama, rupanya Iblis tahu mengambil momentum yang tepat. Empat puluh hari tidak makan apa-apa tentu lapar. Yesus dicobai untuk mempergunakan kuasa-Nya sebagai Anak Allah mengubah batu menjadi roti. Jawaban Yesus mengacu pada peristiwa yang terekam dalam Ulangan 8:1-6 yang menjelaskan bahwa perjalanan dan ujian empat puluh tahun di padang gurun bertujuan agar umat Israel belajar rendah hati dan mengenali hasrat yang ada dalam hati mereka. Manna yang mereka makan hendak mengingatkan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Bukankah roti itu tersedia karena Allah yang memerintahkannya ada. Bagian ini diakhiri dengan, “Engkau harus berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan-Nya dan dengan takut akan Dia.” (Ulangan 8:6). 

 

Sayang, Israel terus mengeluh dengan mencari makanan selain manna yang diberikan Allah. Berapa banyak anak-anak Tuhan yang sulit belajar rendah hati, mereka selalu mengeluh dan menuntut? Berapa banyak orang yang tergoda untuk memuaskan dirinya dan terjebak dalam ketidakpuasan berkepanjangan sehingga tidak pernah merasa cukup? Akibatnya, menerima tawaran Iblis dengan cara korupsi, manipulatif dan yang sejenisnya. Yesus tidak mau memenuhi rayuan Iblis untuk mengubah batu menjadi roti! Bayangkan jika semua anak-anak Tuhan bersikap seperti Yesus. Lebih dari cukup untuk menggarami dunia ini!

 

Pencobaan kedua, kali ini Iblis membujuk Yesus untuk mengakui bahwa ada pihak lain yang menguasai dunia ini selain Allah. Ia membujuk-Nya untuk menyembah penguasa itu. Apa yang dilakukan Yesus? Jawaban Yesus mengacu pada seruan Musa kepada orang-orang Israel yang pada waktu itu mulai terpikat oleh kultus ibadah orang-orang Kanaan (Ulangan 12:30-31). Kurang apa Musa? Ia terus-menerus mengingatkan umat Israel untuk tidak mengikuti dewa-dewi asing (Ulangan 23:23-33). Yesus tampil begitu kontras dengan orang-orang Israel. Ia tegak lurus, menolak untuk menyembah selain Allah. Dia sendirilah yang harus disembah.

 

Saat ini dewa-dewi tidak seprimitif waktu Umat Israel berada di tengah-tengah bangsa Kanaan atau Amalek. Namun, bukankah betapa banyak anak-anak Tuhan yang mendua hati? Di gereja bisa qusuk beribadah, di luar ikut permainan sang penguasa lain. Bukan rahasia lagi, banyak orang rela membungkam kebenaran, meski berkali-kali didengungkan dan hati terusik demi kuasa!

 

Pencobaan ketiga, kali terakhir Iblis mencobai Yesus untuk menggunakan kuasa-Nya sebagai Anak Allah. Kali ini pun jawaban Yesus mengacu pada perjalanan umat Israel tepatnya ketika mereka mencobai Allah di Massa dan Meriba (Keluaran 17:1-7). Andai Yesus terbujuk, maka terpenuhilah bangsa-Nya yang menantikan Mesias yang jaya dan hebat dalam segala-galanya. Melalui jawaban ini, Yesus memperingatkan kita terhadap usaha mencobai Allah. Menjadi anak-anak Tuhan bukanlah untuk mendapatkan keistimewaan berlebihan!

 

Ketiga pencobaan yang dilakukan Iblis di padang gurun seolah menyiapkan perjalanan pelayanan Yesus selanjutnya. Yesus harus berhadapan dengan permusuhan, oposisi, dan penolakan yang terus-menerus bertambah intens apalagi menjelang masuk Yerusalem. Namun, Injil memperlihatkan bahwa Yesus tetap setia. Dia datang tidak membawa agenda-Nya sendiri tetapi memenuhi rencana Allah. Untuk sementara Iblis mundur dan menunggu waktu yang baik – Ini khas Injil Lukas – Iblis pergi menunggu waktu yang tepat. Dalam perjalanan-Nya kemudian, Yesus akan terus berhadapan dengan Iblis dalam pelbagai bentuknya. 

 

Pencobaan itu tidak hanya terjadi pada Yesus, para pengikut-Nya akan mengalami pelbagai pencobaan itu. Pencobaan dapat menolong kita, sama seperti keluarga Ferencz apa yang dihadapi di New York tidak seberapa ketika mereka sudah mengalami yang lebih berat di kampung halaman mereka sendiri. Jangan kecewa bila hidup ini penuh derita dan pencobaan. Percayalah itu akan membuat Anda lebih tangguh. Sama seperti Yesus, Ia tangguh dalam perjalanan-Nya sampai akhir karena tantangan berat itu telah lebih dahulu diatasi-Nya.

 

Jangan lengah! Banyak orang ketika berhasil mengalahkan tantangan menjadi lebih percaya diri dan percaya diri berlebihan membawa mereka pada sikap takabur. Takabur menggiring orang menjadi lengah. Ingat, Petrus pernah mengatakan bahwa Iblis itu seperti singa yang mengaum dan mengintai mencari mangsa. Siapa yang lengah, dialah mangsa empuk! Waspada dan senantiasa taat merupakan kunci kita bisa setia sampai akhir sama seperti Yesus!

 

 

Jakarta, 7 Maret 2025 Minggu I Prapaskah tahun C