Kamis, 22 Januari 2026

TERANG DI TENGAH BAYANG-BAYANG

“Jalur laut” tidak seindah “Jalur Sutera” yang berkembang pada zaman Kaisar Wu (Han Wudi) dari dinasti Han di Tiongkok yang memerintah sekitar 141 – 87 SM. Pembangunan Jalur Sutera mempunyai misi membuka hubungan diplomatik dan perdagangan antara Tiongkok dengan wilayah Asia Tengah, Persia hingga Romawi. Perkembangan selanjutnya, jalur ini menjadi urat nadi perdagangan darat dan laut yang kemudian dikenal sebagai Jalur Sutera. Disebut demikian karena sutera menjadi komoditas utama Tiongkok waktu itu. Jalur Sutera membentuk dan memperkaya peradaban besar dunia melalui perdagangan, pertukaran budaya, agama, ilmu, dan teknologi. Maka tidak berlebihan jika Jalur Sutera disebut-sebut sebagai rahim peradaban global, tempat berbagai bangsa saling mempengaruhi dan membentuk dunia modern.

 

Sementara, Jalur Laut banyak memiliki kisah kelam ketimbang cerita manis. Jalur Laut adalah rute perdagangan kuno Via Maris. Ini adalah jalur darat utama yang menghubungkan Mesir di Selatan dengan Mesopotamia di Timur Laut. Rute ini melintasi wilayah Zebulon dan Naftali, dimulai dari Pelabuhan Akko atau Tirus, melewati lembah Izreel, lalu ke laut Galilea. Inilah jalur yang dipakai oleh raja Asyur, Tiglat-Pileser III untuk menyerbu Israel Utara pada 732 SM. Akibat penyerbuan ini, Israel Utara mengalami penderitaan hebat. Tiglat-Pileser III memerintahkan untuk mengangkut penduduk Naftali dan Zebulon keluar dari Israel dan dibuang ke Asyur. Inilah peristiwa yang menjadikan Naftali dan Zebulon sebagai wilayah Israel yang paling direndahkan. Kerentanan ini terus berlanjut. Jalur Laut telah menjadi lintasan pasukan asing yang terus-menerus berlangsung. Ini menyebabkan mereka yang masih tertinggal di Naftali dan Zebulon menjadi sasaran penjarahan, dan nyaris hancur total. Mereka berada dalam bayang-bayang kekelaman!

 

Predikat bangsa yang hidup dalam kegelapan akibat bayang-banyak penaklukkan Asyur melekat pada daerah yang dilintasi Jalur Laut ini: Naftali, Zebulon dan seluruh Galilea meski Asyur telah beranjak karena dikalahkan Babel. Mungkinkah “bangsa yang diam dalam kegelapan” ini dapat melihat terang? Mungkinkah Galilea, Naftali dan Zebulon melepaskan diri dari label negatif itu? Mungkin! Bukankah dulu nenek moyang mereka yang dipimpin Yosua telah menang menghadapi koalisi raja-raja Utara Kanaan di Hazor? Ya, Yosua pernah mengalahkan mereka secara menyeluruh (Yosua 11:1-15).

 

Kini, Yosua yang baru: Yehosua, Yesus ada di tengah-tengah bangsa yang mempunyai label berada dalam bayang-bayang kekelaman; bangsa yang diam dalam kegelapan. Benar, sepintas kehadiran Yesus bagaikan seorang pecundang yang takut terhadap Herodes Antipas yang telah memenjarakan Yohanes. Narasinya jelas, “Ketika Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditahan, menyingkirlah Ia ke Galilea.” (Matius 4:12). Yesus menyingkir! Naftali, Zebulon dan Galilea bukan merupakan wilayah yang menjadi rancangan misi-Nya! Yesus takut dan menghindar! Bukankah itu yang paling gampang dibaca dalam narasi ini?

 

Ini sama seperti Yusuf membawa keluarga kecil ke Mesir. Tampak jelas Yusuf takut dan ia bersama Maria berusaha kabur untuk menyelamatkan bayi Yesus dari ancaman pembunuhan Herodes Agung. Di balik apa yang terlihat; upaya menghindar ada maksud dan tujuan yang lebih dalam. Matius membingkainya dalam kalimat, “supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya….(Matius 4:14) lalu Matius menuliskan nubuat itu tepat seperti yang dicatat dalam Yesaya 8:23 – 9:1.

 

Injil Matius melihat dari perspektif rancangan Allah. Hadirnya Yesus di tengah-tengah “bangsa yang diam di dalam kegelapan” merupakan pemenuhan janji Mesianik. Allah mengingat mereka, menjawab kegelisahan dan menanggalkan stigma negatif menjadi wilayah tempat di mana Terang yang sesungguhnya itu hadir! Di sinilah Yesus menyerukan seperti apa yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis, “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Matius 4:17. Terang itu sudah hadir dan berkarya, tidak ada cara lain untuk menyambut-Nya kecuali hidup dalam pertobatan!

 

Di wilayah yang kadung dengan stigma buruk ini, Yesus juga memanggil murid-murid yang pertama. Mereka bukan orang-orang kalangan atas atau cerdik pandai. Mereka adalah nelayan sederhana yang juga punya stigma buruk; orang-orang Galilea! Bukan Yesus tidak tahu dan tidak menyadari stigma buruk orang Galilea. Namun, tampaknya Yesus optimis bahwa mereka kelak dapat menjadi penjala-penjala manusia. Reputasi seseorang tidak harus terpaku pada stigma atau label yang dilekatkan kepada orang tersebut. Melainkan, pada komitmen dan konsistensi untuk menjalani apa yang dipandangnya sebagai kebenaran. Mau melekatkan diri pada sumber kebenaran itu, maka niscaya terang itu perlahan tapi pasti akan menyeruak ke permukaan!

 

Hari ini mungkin Anda sedang kecewa karena menyandang label, stigma dan keadaan negatif. Anda bukan berada di “Jalur Sutera”, tetapi di “Jalur Laut”. Orang-orang meremehkan pendidikan Anda, pekerjaan, lingkungan pergaulan, keluarga Anda. Seolah mereka tidak percaya ada sesuatu yang baik yang dapat Anda lakukan. Situasi seperti ini sungguh tidak menyenangkan! Atau bisa jadi, Anda memang sedang tenggelam dalam kehidupan yang negatif. Akibatnya, penderitaan dan kesulitan menjadi bagian dari kehidupan yang harus Anda terima. Hidup di bawah bayang-bayang kekelaman!

 

Ketika Anda membaca narasi Yesus berada di “Jalur Laut”, daerah yang selama ini disebut kekelaman atau kegelapan, maka ini bukan kebetulan! Terang itu telah hadir dan ingin menyinari hati Anda. Ingatlah bahwa label, stigma, kondisi buruk dan negatif tidak berarti membentuk reputasimu. Jangan merasa nyaman di bawah bayang-bayang kekelaman itu.   Terang itu telah hadir dan Ia mengenyahkan bayang-bayang kelam itu. Terang itu bukan kebetulan hadir, tetapi bagian dari rancangan-Nya yang menginginkan kamu memancarkannya juga kepada yang lain.

 

Tak ada cara lain untuk menyambut Terang itu; bertobat! Bertobat bukan dengan bersolek mendandani dan mengubah identitas. Ada sesuatu dari dalam yang mau berubah. Cahaya Terang itu akan mencerahkan hati dari sinilah kita mampu meninggalkan segala kekelaman. Ini terjadi bukan karena paksaan, tetapi hati yang mampu melihat perkara yang lebih baik, indah dan agung. Mengapa Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes meninggalkan jala dan ayah mereka? Larikah mereka dari tanggung jawab sebagai seorang laki-laki yang harus menjadi tulang punggung keluarga? Saya kira tidak! Panggilan itu dengan jernih dapat mereka dengar. Mereka melihat ada yang lebih indah, baik, benar, mulia dan agung, yakni mengikut panggilan Sang Terang itu!

 

Benar, hari ini Anda tidak perlu meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan karya Anda sama seperti Simon dan teman-temannya. Meskipun ada orang-orang tertentu yang terpanggil dan fokus melayani penuh waktu. Namun, Anda dapat berkarya di mana Tuhan menempatkan Anda, bahkan di dalam situasi kelam sekalipun. Kini, yang diperlukan adalah komitmen dan konsistensi berjalan dalam Terang Kristus! 

 

Jakarta, 22 Januari 2026, Minggu III Setelah Epifani, tahun A

Kamis, 15 Januari 2026

LIHAT DAN TINGGAL DALAM DIA

Pembeda manusia dengan hewan ada dalam kapasitas rasional dan spiritualnya. Dasar antropologis! Manusia punya kompleksitas kebutuhan. Abraham Maslow memetakannya dengan gambaran hierarki piramida kebutuhan. Bangunan piramida itu dimulai dari kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial atau kasih sayang, penghargaan dan berakhir dengan kebutuhan aktualisasi diri.

 

Benarkah setelah terpenuhinya seluruh piramida kebutuhan, manusia puas dan tidak lagi membutuhkan sesuatu? Saya yakin, Anda sepakat dengan saya. Belum tentu manusia mendapat kepuasan setelah semuanya terpenuhi. Dalam kapasitasnya sebagai makhluk rasional dan spiritual, ada yang menggelitik terus-menerus dalam diri manusia. Rasa ingin tahu dan memahami makna kehidupan akan selalu mengusik ketenangan manusia. Oleh karena itu kita mengenal manusia adalah makhluk yang bertanya. Homo interrogans!

 

Zēteite ti? “Apa yang kamu cari?” (zēteō: menyiratkan pencarian sesuatu yang hilang atau pencarian makna filosofis). Ini pertanyaan Yesus kepada dua orang murid Yohanes setelah mereka diminta meninggalkan Sang Pembaptis itu untuk mengikuti-Nya. Tampak jelas Yesus mengakui dan memberi ruang bagi sifat homo interrogans ini. Dalam percakapan sehari-hari, pertanyaan ini mendorong lawan bicara untuk mengklarifikasi, menjelaskan apakah informasi praktis yang diterimanya benar-benar valid atau tidak. Lebih jauh, pertanyaan, “Apa yang kamu cari?” jelas bukan seperti orang mencari koin yang jatuh. Pertanyaan ini menghantar orang berefleksi, menggali motif, kebutuhan atau tujuan dari hidupnya.

 

Pada zamannya, pertanyaan Yesus mencerminkan gaya seorang rabi yang menguji motiv muridnya. Tradisi Yahudi menggunakan dialog semacam ini untuk pencarian hikmat Taurat dan undangan spiritual mendalam bagi pencarian kebenaran seperti terekam dalam Mazmur 27:8, “Hatiku mengikuti firman-Mu: ‘Carilah wajah-Ku’; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN.”

 

“Rabi, di manakah Engkau tinggal?” “Pou meonai su?” Sepintas, pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk mendapatkan jawaban filosofis. Mereka membawanya dalam tataran praktis tentang di mana kediaman Sang Rabi itu. Meskipun demikian, jawaban yang berupa pertanyaan balik ini dalam tradisi para rabi abad pertama menandakan sebuah komitmen murid untuk mau datang ke rumah sang rabi, tinggal bersamanya, belajar dan melayani penuh waktu. Pengalaman itu telah diperoleh bersama Yohanes sebagai guru mereka.

 

Saya dapat membayangkan, pertanyaan ini mereka lontarkan dengan antusias. Mengapa? Dua orang murid Yohanes Pembaptis pernah tinggal bersama guru mereka. Mereka bergaul begitu dekat dengan “orang besar” yang menyerukan pertobatan dan menggemparkan di seantero Yerusalem, Yudea dan lembah Yordan. Nah, sekarang guru mereka yang telah sangat populer itu menunjuk Yesus yang dua hari lalu dibaptisnya sebagai sosok istimewa. Dialah Mesias itu! Tentu saja, orang yang disebut “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” oleh guru mereka, pastilah sosok yang jauh lebih hebat. Mereka antusias karena yakin akan mendapatkan pengajaran dan pengalaman hebat dari orang istimewa ini!

 

“Marilah dan kamu akan melihatnya!” Tidak sekedar jawaban yang menunjukkan alamat tempat Yesus bermukim. Ini adalah undangan! Melihat (eidete, bentuk imperative aorist dari oraw), ini bukan hanya melihat sekilas pandang. Ajakan untuk melihat ini berarti penglihatan mendalam, mengamati, dan menyimak yang sejajar dengan kata “tinggal” (menw) yang menandakan adanya transformasi dari rasa ingin tahu menjadi pengalaman relasi mendalam. Melihat adalah langkah awal untuk mengenal, merasakan, mengalami dan mengerti. Ini bagaikan ranting pokok anggur. Ia tinggal, terus tumbuh, dan pada akhirnya menghasilkan buah!

 

“Apa yang kamu cari?” Pertanyaan ini akan selalu relevan. Ini seakan mengaduk-aduk kembali pencapaian-pencapaian yang telah kita raih. Benarkah semua itu telah mengenyangkan jiwa kita? Dapatkah manusia terpuaskan setelah semua kebutuhan menurut piramida Maslow terpenuhi?

 

Lihat dan tinggal dalam Dia, mestinya bukan sekedar tema. Ini adalah undangan untuk semua orang yang ingin menemukan makna hidup. Ternyata, bukan dengan makanan dan minuman, sandang dan perumahan manusia bisa dikenyangkan dan dipuaskan. Bukan dengan benteng kokoh dan senjata mutakhir manusia dapat merasa aman. Bukan pula dengan kepandaian, relasi dan memvalidasi diri, manusia merasa bahagia dan berharga. Lalu, adakah yang benar-benar dapat menyegarkan dahaga jiwa manusia? Ada! Lihat dan tinggal di dalam Dia! Dengan jalan menerima undangan ini, meminjam bahasa Paulus, Anda akan merasakan kepenuhan yang sesungguhnya, Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal….. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun…” (I Korintus 1:5,7).

 

Namun, bukankah dalam keseharian selalu saja ada orang yang mengeluh: Mengapa saya sudah sekian lama mengikut dan tinggal bersama Yesus, tetap saja tidak merasa damai sejahtera? Tetap saja gelisah dan merasa kekurangan! Keluhan semacam ini bisa saja muncul. Apakah undangan dan janji Tuhan hanya isapan jempol? Tentu saja tidak! Mari kita telusuri makna dari tinggal dalam Yesus. Ini artinya “tetap tinggal”, berdiam, atau berelasi secara permanen. Bukan opsional atau part time. Sekali lagi ini seperti ranting yang menempel; ia tidak pernah lepas sekalipun sekejap saja. Apa dampaknya kalau ranting itu lepas? Mati! Namun, kalau ia tinggal tetap maka yang terjadi, ranting itu akan terus menerus dialiri nutrisi dari akar, pokok anggur dan akhirnya menuju ranting yang akan membuatnya berbuah!

 

Tinggal di dalam Yesus berarti membangun relasi intim. Setiap orang yang bersedia tinggal bersama-Nya pasti akan merasakan cinta kasih-Nya, mencerna ajaran-Nya, dan mencontoh perilaku-Nya. Perlahan namun pasti ia akan meniru, melakukan apa yang dilakukan Yesus. Ia akan memperjuangkan apa yang diperjuangkan Yesus. Karakter dirinya berubah. Kini, ia memiliki karakter Yesus. Ini terjadi secara alamiah, seperti ranting yang terus tumbuh. Buahnya adalah keniscayaan! Cukup menyambut seruannya. Lihat, lalu menyediakan diri tinggal bersama-Nya. Di situ Anda akan merasakan persahabatan sejati, kasih tanpa pamrih, dan tentu kekayaan yang sebenarnya!

 

“Marilah dan kamu akan melihatnya.” Undangan ini mengalir di sepanjang Injil Yohanes yang ditulis oleh orang yang menyebut diri “murid yang dikasihi”. Yesus tidak pernah mendesak atau memaksakan sesuatu kepada siapa pun. Dengan lembut Ia mengundang setiap orang, termasuk Anda!

 

Tinggal bersama-Nya, di sana Anda akan menemukan apa yang sebenarnya Anda cari selama ini. Jalan inilah yang membuat Anda tidak takut menghadapi kekurangan, alih-alih merasa kaya meskipun orang lain memasukkan Anda dalam daftar orang miskin, tidak cemas dalam keadaan terdesak, tidak membenci ketika dimusuhi karena hati Anda penuh dengan kedamaian di situ tidak ada lagi ruang kepahitan dan dendam, kehidupan Anda akan memancarkan aliran-aliran sungai kehidupan karena Anda tinggal bersama dengan sumbernya! 

 

 

Jakarta, 15 Januari 2026, Minggu II sesudah Epifani tahun A