Semerbak minyak narwastu murni memenuhi setiap sudut ruangan. Aroma kemurnian minyak yang setara 60 juta bila dikonversi dengan uang rupiah sekarang, berdasarkan standar upah minimun Jakarta justru menggelisahkan hati Yudas Iskaryot. Ia terusik, minyak mahal itu dibuang percuma di kaki Yesus. Ya, bagian tubuh paling bawah, biasanya kotor dan berdebu. Ini pemborosan dan mubazir!
“Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” (Yohanes 12:5). Menjual barang yang berharga, yang bisa digunakan untuk memperlihatkan status diri lalu hasilnya diberikan kepada orang-orang miskin merupakan perbuatan mulia. Tidak ada yang salah! Hampir semua agama mengajarkan hal itu, bahkan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan pun akan mengangguk setuju kalau perbuatan tersebut merupakan ekspresi kebaikan. Altruisme!
Bukankah kita sering berdecak kagum ketika melihat kebaikan para pengusaha besar yang menyisihkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) bagi kemanusiaan dan perbaikan lingkungan atau para filantropis yang melakukan tindakan filantropi; dermawan dan peduli terhadap penderitaan sesama. Kita terpesona sambil bergumam, “Koq zaman sekarang masih ada orang yang mau peduli dan berkorban untuk sesamanya?” Kekaguman ini pertanda bahwa semakin langka kita menjumpai orang-orang yang tulus mau peduli dan berkorban di tengah-tengah perkembangan zaman yang semakin egoistik.
Nyatanya? Ya, tepat! Jauh lebih banyak dan lebih masif orang seperti Yudas. Membungkus niat busuk dengan perilaku altruisme dan filantropi. Terlihat dari luar sangat peduli dengan penderitaan sesama dan busuk di dalam; merancangkan keuntungan untuk diri sendiri. Ini lazim dipertontonkan dengan vulgar dalam kampanye-kampanye calon-calon penguasa dengan janji-janji selangit yang secara logika sulit diwujudkan; sekolah gratis, pelayanan kesehatan gratis, makan bergizi gratis, jalan dan jembatan di bangun, pemberantasan kemiskinan sampai ke akar-akarnya, kesetaraan gender, menjamin kebebasan beragama dan berpendapat. Nyatanya? Sebelum bertanya pada rumput yang bergoyang, Anda dapat menemukan jawabnya tersebar di mana-mana!
Ternyata Yudas sangat mudah ditiru dan diaplikasikan di sepanjang zaman dan tempat, kayak pengantar pengakuan iman saja! Sebaliknya, sikap Maria sangat sulit untuk diikuti. Minoritas yang sesungguhnya! Ini hukum alam, barang yang banyak bertebaran biasanya produk KW, barang tiruan dan biasanya jauh lebih murah ketimbang barang tulen, ori dan asli. Mahal dan sulit didapat!
Mahalnya barang tulen erat kaitannya dengan proses panjang yang harus dilalui. Tidak ada cara instan untuk menghasilkan produk ori. Demikian juga dengan iman. Tidak ada cara instan untuk membentuk iman seseorang dengan baik. Ada banyak batu uji dalam setiap tahapan kehidupannya. Abraham mengalami jatuh bangun hingga akhirnya kita menyebutnya bapa orang percaya, demikian pula tokoh-tokoh iman lainnya.
Saulus, sebelum menjadi Paulus adalah orang yang mengalami benturan keras dalam kehidupannya. Bukan hal mudah melepaskan kebanggaannya lalu membangun kembali apa yang dulu dia hancurkan. Curahan hatinya mengatakan, “Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah…” (Filipi 3:8). Bagi banyak orang pada zaman itu, pencapaian Paulus luar biasa. Ini mimpi banyak orang Yahudi! Namun, perjumpaannya dengan Yesus menungangbalikkannya. Koq bisa? Pengalaman imannya mengatakan, “…melainkan dengan kebenaran karena percaya kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.” (Filipi 3:9). Anugerah Allah di dalam Kristus itulah yang membuat Paulus tidak pernah merasa rugi meski ia dipenjara dan dianiaya. Panggilan hidupnya jelas, bukan mengejar keuntungan duniawi lagi, melainkan memuliakan Dia yang telah menjumpai dan memeluknya. Inilah puncak iman itu: Mengucap syukur!
Apa yang terjadi dengan Maria? Jika Paulus memberikan sisa hidupnya sebagai persembahan bagi kemuliaan Tuhan. Maria memberi setengah kati minyak narwastu murni. Apa yang terjadi sebelumnya dengan Maria? Alkitab mencatat bahwa ia bersaudara dengan Marta dan Lazarus. Kisah klasik tentang Marta dan Maria dapat kita pinjam dari catatan Lukas. Marta digambarkan sebagai orang yang sibuk di dapur menyiapkan ini dan itu untuk melayani Yesus dan murid-murid-Nya, sementara Maria duduk di kaki Yesus mendengarkan wejangan-Nya (Lukas 10:38-42). Iman datang dari pendengaran, demikian cara Yesus membentuk iman Maria.
Ibarat benih sebuah tanaman, pertumbuhannya kadang mengalami kendala dan tantangan. Maria pernah menyesali mengapa Yesus tidak lekas datang sehingga Lazarus yang sekarat itu keburu mati. “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” (Yohanes 11:32). Yesus tahu benar apa yang dirasakan Maria, maka Ia menangis! Yesus tidak mencela keraguan dan kekecewaan Maria. Ia menuntun Maria untuk tiba pada keyakinan, “Percayalah!” Demikian Yesus membentuk iman Maria. Jika Anda pernah kecewa, ragu dan mempertanyakan kasih Tuhan, jangan khawatir semua tokoh iman pun mengalami berada di posisi itu. Hanya saja mereka tidak berhenti di titik itu, melainkan terus melanjutkan ziarah hidupnya.
Maria, Marta dan tentunya orang-orang di kampung Betania itu heboh. Buah keyakinan itu nyata. Lazarus yang telah mati empat hari itu bangkit! Kehebohan inilah yang akhirnya memuncak pada kesepakatan orang-orang Farisi dan para imam kepala untuk membunuh Yesus. Dengan alasan bahwa peristiwa Lazarus yang dibangkitkan itu akan semakin banyak orang yang mengikut Yesus, maka tidak ada jalan lain, kecuali Yesus harus mati! Mukjizat-mukjizat lain, mungkin bisa ditepis, namun orang yang sudah mati empat hari lalu dibangkitkan, mustahil dilakukan oleh manusia! Yohanes mencatat akibat cinta-Nya yang begitu besar terhadap keluarga Maria inilah yang semakin mendekatkan Yesus pada kematian-Nya.
Maria menangkap getaran cinta kasih Yesus, barang kali inilah yang membuat kita mengerti setengah kati minyak narwastu murni di tangan Maria itu bukanlah benda mewah yang layak dipertahankan. Berhadapan dengan kasih-Nya tidak ada yang pantas untuk menjadi persembahan, kecuali hati yang bersyukur. Inilah puncak iman!
Bagaimana dengan Anda? Apakah getaran cinta-Nya menembus hatimu? Maria tahu, Yesus mencintainya dengan mengurbankan nyawa-Nya. Paulus sangat paham Yesus yang dulu dimusuhinya ternyata adalah Dia yang merelakan nyawa-Nya agar para pembenci-Nya merasakan aliran air kehidupan yang sesungguhnya.
Setiap orang yang mengenal-Nya akan dibentuk dengan pelbagai cara dan dalam konteks yang berbeda. Proses itu kadang menyakitkan, ngilu dan nyeri. Ini seperti perjalanan umat Allah di padang gurun menuju tanah perjanjian. Bila Anda saat ini, sakit, ngilu dan nyeri jangan buru-buru menyerah. Anda akan melihat dan mengalami sendiri betapa baiknya Tuhan itu. Perhatikan, jika proses yang Anda lalui dijalani dengan benar, maka muaranya adalah ungkapan syukur. Tidak ada lagi tuntutan Tuhan harus memenuhi keinginan ini dan itu karena Anda telah merasakan seluruh kebaikan Tuhan. Kini yang ada, Anda selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Tuhan sekali pun orang-orang di sekitar Anda menganggapnya sebagai tindakan konyol dan merugikan diri sendiri.
Jakarta, 4 April 2025 Minggu V Prapaskah, tahun C