“Jalur laut” tidak seindah “Jalur Sutera” yang berkembang pada zaman Kaisar Wu (Han Wudi) dari dinasti Han di Tiongkok yang memerintah sekitar 141 – 87 SM. Pembangunan Jalur Sutera mempunyai misi membuka hubungan diplomatik dan perdagangan antara Tiongkok dengan wilayah Asia Tengah, Persia hingga Romawi. Perkembangan selanjutnya, jalur ini menjadi urat nadi perdagangan darat dan laut yang kemudian dikenal sebagai Jalur Sutera. Disebut demikian karena sutera menjadi komoditas utama Tiongkok waktu itu. Jalur Sutera membentuk dan memperkaya peradaban besar dunia melalui perdagangan, pertukaran budaya, agama, ilmu, dan teknologi. Maka tidak berlebihan jika Jalur Sutera disebut-sebut sebagai rahim peradaban global, tempat berbagai bangsa saling mempengaruhi dan membentuk dunia modern.
Sementara, Jalur Laut banyak memiliki kisah kelam ketimbang cerita manis. Jalur Laut adalah rute perdagangan kuno Via Maris. Ini adalah jalur darat utama yang menghubungkan Mesir di Selatan dengan Mesopotamia di Timur Laut. Rute ini melintasi wilayah Zebulon dan Naftali, dimulai dari Pelabuhan Akko atau Tirus, melewati lembah Izreel, lalu ke laut Galilea. Inilah jalur yang dipakai oleh raja Asyur, Tiglat-Pileser III untuk menyerbu Israel Utara pada 732 SM. Akibat penyerbuan ini, Israel Utara mengalami penderitaan hebat. Tiglat-Pileser III memerintahkan untuk mengangkut penduduk Naftali dan Zebulon keluar dari Israel dan dibuang ke Asyur. Inilah peristiwa yang menjadikan Naftali dan Zebulon sebagai wilayah Israel yang paling direndahkan. Kerentanan ini terus berlanjut. Jalur Laut telah menjadi lintasan pasukan asing yang terus-menerus berlangsung. Ini menyebabkan mereka yang masih tertinggal di Naftali dan Zebulon menjadi sasaran penjarahan, dan nyaris hancur total. Mereka berada dalam bayang-bayang kekelaman!
Predikat bangsa yang hidup dalam kegelapan akibat bayang-banyak penaklukkan Asyur melekat pada daerah yang dilintasi Jalur Laut ini: Naftali, Zebulon dan seluruh Galilea meski Asyur telah beranjak karena dikalahkan Babel. Mungkinkah “bangsa yang diam dalam kegelapan” ini dapat melihat terang? Mungkinkah Galilea, Naftali dan Zebulon melepaskan diri dari label negatif itu? Mungkin! Bukankah dulu nenek moyang mereka yang dipimpin Yosua telah menang menghadapi koalisi raja-raja Utara Kanaan di Hazor? Ya, Yosua pernah mengalahkan mereka secara menyeluruh (Yosua 11:1-15).
Kini, Yosua yang baru: Yehosua, Yesus ada di tengah-tengah bangsa yang mempunyai label berada dalam bayang-bayang kekelaman; bangsa yang diam dalam kegelapan. Benar, sepintas kehadiran Yesus bagaikan seorang pecundang yang takut terhadap Herodes Antipas yang telah memenjarakan Yohanes. Narasinya jelas, “Ketika Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditahan, menyingkirlah Ia ke Galilea.” (Matius 4:12). Yesus menyingkir! Naftali, Zebulon dan Galilea bukan merupakan wilayah yang menjadi rancangan misi-Nya! Yesus takut dan menghindar! Bukankah itu yang paling gampang dibaca dalam narasi ini?
Ini sama seperti Yusuf membawa keluarga kecil ke Mesir. Tampak jelas Yusuf takut dan ia bersama Maria berusaha kabur untuk menyelamatkan bayi Yesus dari ancaman pembunuhan Herodes Agung. Di balik apa yang terlihat; upaya menghindar ada maksud dan tujuan yang lebih dalam. Matius membingkainya dalam kalimat, “supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya….(Matius 4:14)” lalu Matius menuliskan nubuat itu tepat seperti yang dicatat dalam Yesaya 8:23 – 9:1.
Injil Matius melihat dari perspektif rancangan Allah. Hadirnya Yesus di tengah-tengah “bangsa yang diam di dalam kegelapan” merupakan pemenuhan janji Mesianik. Allah mengingat mereka, menjawab kegelisahan dan menanggalkan stigma negatif menjadi wilayah tempat di mana Terang yang sesungguhnya itu hadir! Di sinilah Yesus menyerukan seperti apa yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis, “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Matius 4:17. Terang itu sudah hadir dan berkarya, tidak ada cara lain untuk menyambut-Nya kecuali hidup dalam pertobatan!
Di wilayah yang kadung dengan stigma buruk ini, Yesus juga memanggil murid-murid yang pertama. Mereka bukan orang-orang kalangan atas atau cerdik pandai. Mereka adalah nelayan sederhana yang juga punya stigma buruk; orang-orang Galilea! Bukan Yesus tidak tahu dan tidak menyadari stigma buruk orang Galilea. Namun, tampaknya Yesus optimis bahwa mereka kelak dapat menjadi penjala-penjala manusia. Reputasi seseorang tidak harus terpaku pada stigma atau label yang dilekatkan kepada orang tersebut. Melainkan, pada komitmen dan konsistensi untuk menjalani apa yang dipandangnya sebagai kebenaran. Mau melekatkan diri pada sumber kebenaran itu, maka niscaya terang itu perlahan tapi pasti akan menyeruak ke permukaan!
Hari ini mungkin Anda sedang kecewa karena menyandang label, stigma dan keadaan negatif. Anda bukan berada di “Jalur Sutera”, tetapi di “Jalur Laut”. Orang-orang meremehkan pendidikan Anda, pekerjaan, lingkungan pergaulan, keluarga Anda. Seolah mereka tidak percaya ada sesuatu yang baik yang dapat Anda lakukan. Situasi seperti ini sungguh tidak menyenangkan! Atau bisa jadi, Anda memang sedang tenggelam dalam kehidupan yang negatif. Akibatnya, penderitaan dan kesulitan menjadi bagian dari kehidupan yang harus Anda terima. Hidup di bawah bayang-bayang kekelaman!
Ketika Anda membaca narasi Yesus berada di “Jalur Laut”, daerah yang selama ini disebut kekelaman atau kegelapan, maka ini bukan kebetulan! Terang itu telah hadir dan ingin menyinari hati Anda. Ingatlah bahwa label, stigma, kondisi buruk dan negatif tidak berarti membentuk reputasimu. Jangan merasa nyaman di bawah bayang-bayang kekelaman itu. Terang itu telah hadir dan Ia mengenyahkan bayang-bayang kelam itu. Terang itu bukan kebetulan hadir, tetapi bagian dari rancangan-Nya yang menginginkan kamu memancarkannya juga kepada yang lain.
Tak ada cara lain untuk menyambut Terang itu; bertobat! Bertobat bukan dengan bersolek mendandani dan mengubah identitas. Ada sesuatu dari dalam yang mau berubah. Cahaya Terang itu akan mencerahkan hati dari sinilah kita mampu meninggalkan segala kekelaman. Ini terjadi bukan karena paksaan, tetapi hati yang mampu melihat perkara yang lebih baik, indah dan agung. Mengapa Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes meninggalkan jala dan ayah mereka? Larikah mereka dari tanggung jawab sebagai seorang laki-laki yang harus menjadi tulang punggung keluarga? Saya kira tidak! Panggilan itu dengan jernih dapat mereka dengar. Mereka melihat ada yang lebih indah, baik, benar, mulia dan agung, yakni mengikut panggilan Sang Terang itu!
Benar, hari ini Anda tidak perlu meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan karya Anda sama seperti Simon dan teman-temannya. Meskipun ada orang-orang tertentu yang terpanggil dan fokus melayani penuh waktu. Namun, Anda dapat berkarya di mana Tuhan menempatkan Anda, bahkan di dalam situasi kelam sekalipun. Kini, yang diperlukan adalah komitmen dan konsistensi berjalan dalam Terang Kristus!
Jakarta, 22 Januari 2026, Minggu III Setelah Epifani, tahun A