Jumat, 06 Januari 2017

BAPTISAN SEBAGAI TANDA

Untuk menggaet pemilih, pada umumnya setiap partai politik melakukan pelbagai macam cara. Citra harus dibangun, agar khalayak percaya bahwa mereka punya kemampuan, komitmen, dan program yang baik untuk membangun kesejahteraan bersama. Agar dapat dipercaya, mereka juga menggelar pakta integritas. Beberapa waktu yang lalu ada partai politik yang menuntut seluruh kadernya untuk menandatangani pakta integritas bahwa mereka tidak akan melakukan tindakan korup ketika dipercaya menjadi pejabat publik atau pejabat pemerintah. Bahkan, jargon iklannya pun tegas-tegas menolak korupsi. Nyatanya, janji tinggal janji, pakta integritas hanya tinggal secarik kertas. Kini, publik melihat beberapa orang yang menjadi bintang iklan menolak korupsi, justeru meringkuk di penjara karena tersandung kasus korupsi.

Senada-seirama, setiap pejabat publik atau pejabat negara ketika akan memulai kariernya, mereka disumpah. Isi sumpahnya sudah teramat gamblang, yakni akan sungguh-sungguh mengabdi dan setia kepada bangsa dan negara serta menolak segala bentuk korupsi. Nyatanya, begitu banyak sumpah dilanggar demi memperkaya diri dan kerabatnya. Begitu pula dalam sidang pengadilan, sumpah kerap kali dilanggar, betapa pun sumpah itu dilakukan di bawah kitab suci! Pernyataan, pakta integritas dan sumpah pada akhirnya tidak hanya kehilangan makna tetapi juga mempermalukan diri sendiri apabila si pelakunya tidak dengan setia menjalaninya.

Bagaimana dalam kehidupan spiritual keagamaan? Apakah selalu sejalan antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan? Ternyata, untuk menyelaraskan pernyataan iman verbal dengan apa yang dilakukan sehari-hari tidaklah mudah. Banyak orang mengaku dirinya beriman, telah dibaptiskan dan dalam peristiwa baptisan itu menyatakan tekad, janji kesediaan untuk mengikut Tuhan dalam suka dan duka serta melakukan apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Nyatanya? Banyak di antara kita yang gagal atau justeru memilih untuk tidak melakukan komitmen semula. Kita dapat bercermin, apakah Tuhan gembira dengan prilaku seperti itu?

Dalam hubungannya dengan Tuhan, kira-kira apa yang dirindukan oleh Tuhan dan orang percaya? Apa yang Anda dan saya kehendaki dari Tuhan? O, tentu setiap orang punya harapannya sendiri. Ada yang menginginkan kehidupannya selalu diberkati. Ada pula yang menginginkan Tuhan segera hadir ketika kita menghadapi masalah, entah itu krisis keuangan, kesehatan, konflik rumah tangga dan sebagainya. Namun, rasanya tidak berlebihan bila kita simpulkan bahwa satu hal yang kita rindukan dari Tuhan dan Tuhan inginkan dari kita adalah kehidupan kita berkenan kepada-Nya. Sebab dengan Tuhan berkenan terhadap kita, akan dengan sendirinya Ia menyertai, memberkati dan memberikan pertolongan-Nya.

“Berkenan”, dari kata dasar “kenan”, Kamus Bahasa Indonesia mengartikannya: I. merasa senang (suka, sudi, setuju), 2. Dengan senang hati. Sungguh luar biasa jika hidup kita membuat Allah merasa senang, setuju, sudi pendek kata segala apa yang kita kerjakan disukai Tuhan. Bukankah tujuan di atas segala tujuan, kita sebagai ciptaan adalah menyenangkan Sang Pencita?

Bagaimana caranya agar kehidupan kita dapat menyenangkan Tuhan? Cukupkah hanya mengaku percaya, dibaptiskan, memberikan persembahan dan menjalani ritual ibadah yang ditetapkan gereja? Dalam Alkitab banyak mengajarkan bagaimana kehidupan kita dapat berkenan kepada Tuhan. Benar, ibadah dan segala aspek ritual yang terkandung di dalamnya merupakan sarana atau cara kita dapat menyenangkan hati Tuhan. Tetapi Alkitab juga mengajarkan bahwa segala macam ritual ibadah, persembahan dan doa-doa manusia dapat berkenan kepada Allah hanya kalau orang yang melakukannya itu berkenan kepada-Nya. Penerimaan korban persembahan Habel membuktikan bahwa karakter Habel telah menyukakan hati Allah terlebih dahulu. Melalui korban persembahannya “ia memperoleh kesaksian bahwa ia benar karena Allah berkenan akan persembahannya” (Ibrani 11:4). Sebaliknya, Kain juga diberi peringatan, bahwa korban persembahannya akan diindahkan apabila kehidupannya berkenan kepada Tuhan ( Kejadian 4:7).
Ada begitu banyak kesaksian para nabi dalam Perjanjian Lama yang tidak segan mencemooh pemikiran manusia, termasuk di dalamnya para raja dan imam-imam yang membayangkan bahwa Allah dapat disuap oleh korban persembahan dan kemeriahan dalam ibadah, agar Allah berkenan kepada mereka. Tidak! Bagi Allah, persembahan itu berkenan kepada-Nya, hanya jika kehidupan manusia itu berkenan kepada-Nya, yakni dengan menjalankan apa yang dikehendaki-Nya. Contohnya bisa kita lihat dalam Hosea 8:13, “Mereka mencintai korban sembelihan: mereka mempersembahkan daging dan memakannya; tetapi TUHAN tidak berkenan kepada mereka. Sekarang Ia akan mengingat kesalahan mereka; mereka harus kembali ke Mesir!”

Ternyata untuk menyenangkan hati Tuhan tidak bisa kita memisahkan antara prilaku sehari-hari dengan ritual ibadah di gereja. Tidak bisa hanya dengan sekali dibaptis atau mengaku percaya kemudian segalanya menjadi beres dan berkenan kepada-Nya. Melainkan dengan rasa hormat dan takut akan Dia, dalam segala aspek kehidupan kita mengerjakan kehendak-Nya. Allah tidak memandang dari ras dan bangsa mana seseorang dapat berkenan kepada-Nya. “Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” (Kisah Para Rasul 10:35) Kata “berkenan” dalam ayat ini diterjemahkandari kata  (: diterima / accepted, acceptable). Jadi, Allah menerima siapa saja yang mengerjakan semua kehendak-Nya.

Dalam Alkitab hanya Yesus yang secara gamblang dinyatakan sebagai orang yang berkenan kepada Allah. Peristiwa itu terjadi dalam peristiwa baptisan di sungai Yordan oleh Yohanes. Yohanes menyerukan pertobatan kepada seluruh Israel dan Yehuda. Hanya dengan cara itulah kehidupan mereka akan kembali berkenan kepada Allah. Hadir di antara mereka orang Farisi dan Saduki yang merasa diri berasal dari keturunan umat istimewa. Tampaknya, Yohanes tidak peduli. Bertobat! Hanya itulah satu-satunya kemungkinan Allah berkenan. Namun, bagaimanakah dengan Yesus? Apakah Dia juga berdosa sehingga harus dibaptiskan juga? Perasaan rikuh dan tidak layak yang tampak dari Yohanes mencerminkan bahwa pembaptisan yang dilakukan Yesus bukanlah karena Yesus berdosa lalu harus disucikan. Melainkan, Yesus menyadari bahwa inilah yang kehendaki Bapa dan Ia kini menggenapinya (Matius 3:15). Lagi pula, sepertinya Yesus mendukung dengan apa yang dilakukan Yohanes dalam gerakan pertobatan nasional. Dalam momen inilah, ketika Yesus selesai dibaptis terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:17)

Kata yang dipergunakan ευδοκησα kata kerja dalam bentuk orisrt active indicative, first person singular dari kata dasar ευδοκεω leksikon Yunani menerangkan kata tersebut dengan:
1.It seems good to one, is one’s good pleasure a) think it good, choose, determine, decide b) to do eillingly c) to be ready to, to prefer, choose rather
2. to be well pleased with, take pleasure in, to be favourably inclined towrd one

Ketika Allah Bapa menyatakan kepada khalayak ramai di sungai Yordan bahwa Dia berkenan (memilih, menentukan, memutuskan dengan senang) jelas bukan karena pembaptisan itu sendiri, melainkan lebih karena memang Yesuslah yang telah dan akan terus menyenangkan hati Bapa seumur hidup-Nya. Dengan demikian baptisan, dalam peristiwa ini hanyalah sebagai tanda atau momentum di mana pernyataan Allah Bapa itu diperdengarkan.

Lalu, apakah baptisan itu menjadi tidak penting? Tidak juga! Bagi Yesus, baptisan-Nya di sungai Yordan justeru menjadi penting oleh karena di situlah Allah meneguhkan diri-Nya untuk menjalani misi di dunia ini. Dan bagi dunia, peristiwa itu menjadi bermakna oleh karena melalui Yesuslah kehidupan yang berkenan itu secara gamlang dapat terlihat, terasa, dan dialami dalam kesehari kehidupan. Baptisan bukan sekedar tanda harfiah atau riutual keagamaan yang hampa makna.
Bagi kita, baptisan menjadi bermakna apabila kita mau belajar dari peristiwa baptisan Yesus sendiri. Apakah kita memaknainya bahwa pada saat dibaptis, di situlah Allah meneguhkan kita untuk hidup setia dan beribadah kepada-Nya. Pada pihak lain kita menyambutnya dengan bertekad untuk hidup  menyenangkan hati Tuhan setiap hari? Kita dapat mengingat benang merah ritual ibadah dari Perjanjian Lama: bukan kemeriahan ibadah atau baiknya hewan persembahan yang diberikan kepada Allah, yang menentukan Allah berkenan, melainkan prilaku hidup dan karakter baik seseorang yang membuat persembahan itu diindahkan oleh Allah.

Cara, tempat, dan oleh siapa kita dibaptis bukan yang menjadi penentu kehidupan kita berkenan kepada Allah. Melainkan, bagaimana kita hidup: Apakah memberlakukan firman-Nya atau tidak!

Jakarta, 6 Januari 2017

Sabtu, 31 Desember 2016

BERKARYA KEBAIKAN BAGI MASA DEPAN

Selamat Tahun Baru! Barangkali kalimat inilah yang paling banyak kita dengar dan kita lihat. Bisa jadi kita pun sudah cukup bosan mengucapkan dan menuliskan dalam status media sosial kita. Kecuali, perubahan tanggal, bulan dan tahun yang telah disepakati oleh masyarakat dunia, apanya yang baru? Toh, hari-hari bergulir seperti biasa. Kita bangun pagi sampai terbenamnya matahari dan kembali dalam dekapan malam, melakukan segala aktivitas hampir sama seperti hari-hari kemarin. Tidak ada yang baru, kata Pengkhotbah! “Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu.” (Pengkhotbah 3:15).

Kalau demikian buat apa kita merayakan Tahun Baru? Benar, pergantian hari dari tanggal 31 Desember ke 1 Januari sama saja seperti pergantian hari-hari yang lain di sepanjang tahun. Menjadi berbeda oleh karena pada tanggal tersebut banyak negara menyatakan hari libur nasional dan kemudian dipakai sebagai penanda sebuah kurun waktu 365 hari atau satu tahun. Namun meskipun demikian, bagi orang percaya setiap momen pergantian waktu pasti ada maknanya. Pada peristiwa inilah kita disadarkan kembali akan ketidak berdayaan kita berhadapan dengan sang waktu. Tidak ada seorang pun yang dapat menghentikan bergulirnya sang waktu. Suka atau tidak, waktu akan terus bergulir.

Momentum pergantian kurun waktu satu tahun bagi orang percaya dapat dipergunakan sebagai saat merenungkan, tafakur akan segala peristiwa yang telah dialami sambil mengimani bahwa dalam setiap detik itulah TUHAN bekerja, memelihara, menyertai dan memberkati. Ia memberi pelbagai kesempatan untuk kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Ketika dengan cermat kita melihat kembali perjalanan hidup kita, sangat mungkin kita juga akan menemukan bahwa dalam setiap kesempatan Allah memberikan pelbagai kebaikan. Sehingga waktu-waktu yang kita jalani menjadi indah. “Segala sesuatu indah pada waktunya!” Begitu kata Pengkhotbah 3:11. Jadi, dalam pandangan yang seolah pesimis, Pekhotbah mau mengajak kita untuk melihat segala sesuatu yang kita jalani lewat rutinitas sehari-hari (kronologi), ternyata TUHAN memberikan kesempatan (kairos) untuk kita gunakan dengan baik. Dalam kronos, Ia memberikan kairos hingga segala sesuatu indah pada waktunya.

Indah pada waktunya”, kata Ibrani yang digunakan untuk “indah” dalam Pekhotbah 3:11 adalah yafe, bukan  kata tov seperti dalam kisah penciptaan yang mengungkapkan segala sesuatu diciptakan dengan sungguh amat baik; sungguh indah. Tov biasanya bermakna etis atau estetis. Sedangkan yafe mempunyai nuasa yang berbeda. Penggunaan kata yafe menunjukkan kedekatan penulis Pekhotbah (kohelet) dengan pemahaman Yunani mengenai kehidupan ini. Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya sesuai dengan rancangan-Nya. Ketika TUHAN merancangkan segala sesuatu terhadap umat-Nya, bisa jadi umat tidak mengalami kenyamanan. Hal ini sama seperti orang tua yang mendidik dan menggemleng anaknya. Dalam tradisi Yahudi, bisa saja ada teguran, kemarahan dan pukulan, tujuannya si anak akan tumbuh menjadi anak yang baik. Tentu pada waktu menerima gemlengan itu si anak tidak merasa nyaman (bnd. Ibrani 12:10,11). Namun, di ujungnya si anak akan merasakan keindahan. Jadi, indah pada waktunya (yafe) dapat kita simpulkan, sesuatu yang manis dan menyenangkan dapat kita nikmati dalam kehidupan kita setelah melalui masa-masa yang sulit. Hal ini mirip-mirip seperti kita menikmati adegan sebuah drama happy ending. Bisa saja di awal cerita sang tokoh utama begitu banyak diterpa pergumulan, dimusuhi dan begitu menderita. Namun, di akhir cerita ia dapat tersenyum, karena dapat berakhir dengan manis!

Dalam kehidupan manusia konsep yafe merupakan keindahan atau tepatnya kebahagiaan yang sesungguhnya. Orang yang menghayati segala sesuatu indah pada waktunya akan merasakan dan mengalami di penghujung kehidupannya ia akan tersenyum lebar oleh karena melihat seluruh rangkaian kehidupannya (meskipun banyak pergumulan) dapat diakhirinya dengan manis. Ya, saat itulah ia melihat rancangan TUHAN yang begitu sempurna dalam kehidupannya.

Hidup ini tidak langgeng, pasti akan segera berakhir. Bagaimanakah akhir kehidupan kita? Kecuali TUHAN, tak satu pun di antara kita tahu. Yang jelas kehidupan pada saat ini akan sangat menentukan akhir hidup kita. Sebagai umat Allah, kita percaya bahwa di penghujung kehidupan kita akan terjadi sebuah penghakiman yang menentukan apakah kita termasuk orang yang mendapatkan kebahagiaan atau tidak; apakah hidup kita berakhir dengan keindahan yang manis atau sebaliknya. Jauh-jauh hari, Yesus sudah mengingatkan kepada kita tentang penghakiman terakhir itu, salah satunya apa yang tercatat dalam Matius 25:31-46. Di hari penghakiman itu, manusia akan dipisahkan dalam dua kelompok : domba atau kambing. Pembagian kelompok ini terkait dengan tindakan atau pekerjaan yang dilakukan seseorang semasa hidupnya. Apa yang kita lakukan selama hidup ini akan dinilai: apakah kita telah memanusiakan sesama, bahkan yang dianggap paling hina atau mengabaikannya dengan sama sekali tidak memedulikannya.

Dari sejak lahir sampai TUHAN memanggil kita, TUHAN telah memberikan sebuah kurun waktu (kronos) kehidupan. Di dalam kronos kehidupan kita, TUHAN berulang kali memberikan kesempatan (Kairos) untuk kita dapat menyatakan cinta kasih dan kepedulian kita terhadap sesama. Di sinilah terdapat pilihan buat kita: menggunakan kesempatan itu dengan menyalurkan kebaikan TUHAN atau menahan berkat TUHAN itu untuk diri sendiri? Atas pilihan itu kita kelak dihakimi! Waktu yang singkat ini, jika kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya maka kita akan menikmati kehidupan yang kekal (aion: waktu keabadian) dalam langit baru dan bumi yang baru di mana Allah berkenan hadiir di tengah-tengah umat-Nya.

Jika kita diberi kesempatan memasuki tahun baru ini, ingatlah tidak setiap tahun menjadi kesempatan. Tidak ada jaminan tersedia kesempatan dalam kehidupan kita, sebab aka nada akhir dari kehidupan kita. Oleh karenanya pakailah kesempatan yang ada ini dengan selalu berbuat dan engerjakan kebajikan seperti apa yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Yesus.

30 Desember 2016