Selasa, 31 Desember 2019

TOTALITAS PENYERTAAN ALLAH

Kalau aku berpikir mengenai diriku, maka aku senantiasa membayangkan diri-Mu di hadapanku. Mengapa begitu? Mengapa Engkau selalu mengejar aku dan menyertai selalu kesadaranku? Tidakkah Engkau lelah? Tetapi lebih dari itu, tidakkah Engkau mau sejenak saja meninggalkan diriku, biar aku merasa sendiri dan tidak peduli akan yang lain?

Ah, Engkau juga yang lain itu! Engkaulah yang bukan aku, berbeda dariku dan bukan menjadi bagian dari hidupku. Tetapi siapakah Engkau sebenarnya?

Kalau aku berpikir mengenai diriku, maka aku merasa kecil dan takut. Aku merasa seperti anak kecil yang membutuhkan uluran tangan-Mu. Kehadiran-Mu membuatku sadar akan ketidak-berdayaanku. Tiba-tiba aku merasa diri telanjang, tanpa pakaian, tanpa keunggulan, tanpa keutamaan, tanpa apa-apa, miskin sekali. Tiba-tiba aku merasa diri telanjang dan Engkau memandangku. Engkau senang tetapi aku malu. Engkau sayang tetapi aku ragu. Engkau menang, tetapi aku menjadi bisu. Kesucian-Mu, kebesaran-Mu, kekuasaan-Mu sungguh-sungguh meremukkan keberadaanku. Apakah sebenarnya yang Engkau mau?

Allah adalah Sang Engkau Abadi (Toi absolu) kata Gabriel Marcel. Dalam hubungan Aku – Engkau, semestinya yang terjadi adalah perbedaan – bahkan perlawanan – yang saling melengkapi. Gabriel Marcel mengajak kita berpikir dan tafakur, sama seperti pemazmur, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:3-4).

Kalau aku berpikir mengenai diriku, maka aku merasa kecil dan takut. Aku merasa seperti anak kecil yang membutuhkan uluran tangan-Mu. Bisa jadi kalimat ini menggambarkan situasi kita dalam menatap ke depan, melangkah di tahun yang baru. Betapa tidak? Ada segudang alasan untuk kita menjadi kecil, ciut seperti anak kecil di tengah-tengah rimba raya. Hitung-hitungan keuangan yang pastinya tidak bakalan cukup menopang kebutuhan keluarga. Iuran BPJS bukan lagi naik, tetapi loncat, iuran PLN, PAM, uang sekolah anak-anak, cicilan rumah, kendaraan, biaya konsumsi makan dan lain sebagainya yang sudah mencekik leher yang tidak ditunjang dengan kenaikan pemasukan keuangan. Sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan pesimis dan takut!

Ketakutan lain yang jelas-jelas ada di depan mata, mana kala orang-orang yang kita kasihi terbaring sakit bahkan mungkin saja ada di antara mereka sudah pergi untuk selama-lamanya! Dalam kondisi seperti ini sangat wajar ketika kita menjadi seperti anak kecil yang berhadapan dengan tantangan luar biasa!

Narasi pemazmur tidak berhenti pada pertanyaan, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Ia melanjutkan – tentunya berdasarkan hubungan yang erat dan pengalamannya bersama dengan Sang Engkau itu. “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.” (Mazmur 8:5-6). Manusia bukan siapa-siapa, ia tidak lebih dari debu dan tanah. Namun, TUHAN begitu rupa mengingat dan memberinya peran istimewa. Kasih karunia Allah itu nyata dalam mengangkat dan memberinya kuasa.

Bukankah, Allah di dalam Kristus telah melakukan itu? Ia memakai orang-orang sederhana untuk menghadirkan kasih-Nya. Lihat, Yusuf, Maria, kaum gembala…bukankah mereka orang-orang sederhana? Totalitas Allah bukan sekedar ucapan atau menyuruh utusan-Nya untuk menyapa dan memberdayakan manusia. Tidak! Dalam bacaan pertama minggu lalu kita diingatkan, “Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala.” (Yesaya 63:9). Dia sendiri datang untuk menebus dan mengembalikan manusia sebagai gambar Allah!

Totalitas Allah digambarkan bukan dengan mengutus duta atau suruhan-Nya. Dia sendiri datang menyapa dalam segala kelemahan dan kerentanan-Nya. Dia hadir dalam diri Anak-Nya. Seperti yang diungkapkan Paulus, “Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima sebagai anak.” (Galatia 4:5). Sebagai anak yang lahir dalam tradisi Yahudi, Yesus menjalani apa yang anak-anak lain alami. Ia disunat dan diberi nama ketika genap usianya delapan hari (Lukas 2:21). Nama Yesus, yang melekat pada diri-Nya, tepat seperti yang dikatakan malaikat kepada Maria. Nama Yesus berarti “TUHAN menyelamatkan” atau “TUHAN adalah keselamatan” yang searti juga dengan “Imanuel” (Allah menyertai kita!)

Ia lahir sebagai anak manusia dan takluk dalam tradisi Taurat agar kita menjadi anak-anak Allah. “Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.” (Galatia 4:7) demikianlah totalitas Allah dalam menyelamatkan manusia.

Tiba-tiba aku merasa diri telanjang dan Engkau memandangku. Engkau senang tetapi aku malu. Engkau sayang tetapi aku ragu. Engkau menang, tetapi aku menjadi bisu. Kesucianmu, kebesaranmu, kekuasaan-Mu sungguh-sungguh meremukkan keberadaanku. Apakah sebenarnya yang Engkau mau? 

Hanya satu yang Allah mau, buka hati kita. Jangan ragu, malu dan membisu!  Sambutlah Dia dan biarkan Dia bertakhta dalam kehidupan kita. Bukan saja penyelamatan-Nya yang totalitas. Sebagai sosok Imanuel, Dia senantiasa menyertai dalam pelbagai kemelut kehidupan kita. Ingat, bahwa di dalam Dia kita adalah anak-anak-Nya yang sudah tentu disertainya. Oleh karena itu, marilah kita melangkah ke masa depan dengan keyakinan penuh bahwa Dia akan senantiasa menyertai kita.


Jakarta, Selamat Tahun Baru, 1 Januari 2020


Senin, 30 Desember 2019

HATI BARU YANG PENUH PENGERTIAN

Sejarah memperlihatkan selama seorang tokoh atau pemimpin memenuhi harapan para pengikutnya, maka ia akan dipuja-puji. Sebaliknya, ketika tidak lagi memenuhi keinginan, maka sang pemimpin bukan hanya kehilangan dukungan, tetapi juga dicaci maki beberapa di antaranya dianiaya dan dibunuh. Ujian bagi pemimpin adalah memertahankan integritas moral di tengah godaan untuk terus mengokohkan fanatisme pendukungnya.

Dalam perjalanan awal pelayanan-Nya, tampaknya Yesus berhasil memikat banyak orang. Ke mana pun Ia pergi, orang banyak berbondong-bondong mengikuti-Nya. Mukjizat yang dilakukan-Nya tak pelak lagi menjadi buah bibir dan daya tarik. Namun, setelah Yesus mulai berbicara hal serius tentang tubuh dan darah-Nya sebagai “makanan” dan “minuman”, muncullah kesangsian. Perlawanan menjadi lebih nyata dan orang mulai meninggalkan Dia. Alih-alih Yesus memanjakan para pengikut-Nya, Ia memerlihatkan integritas dan jati diri-Nya, “Akulah terang dunia; barang siapa mengikuti Aku, Ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12).

Pada perayaan Pondok Daun itu, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai “terang dunia” yang melampaui terang Israel yang bersinar dalam Tempat Suci pada perayaan itu. Terang dunia dinyatakan dalam tindakan Yesus yang memelekkan mata orang buta sejak lahir. Tidak hanya fisiknya ia melihat, namun mata batinnya dicerahkan untuk melihat terang yang sesungguhnya. Sebaliknya, Farisi yang selalu memosisikan diri sebagai orang-orang yang merasa membawa terang dengan mengajarkan perintah-perintah Allah melalui Taurat justru tidak melihat seberkas titik cahaya pun dalam diri Yesus!

Yesus menggemakan dan memenuhi nubuat Nabi Yesaya yang biasa kita baca dalam perayaan-perayaan Natal, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yesaya 9:1). Tentu saja “terang” dan “gelap” adalah metafor. Hidup diliputi oleh kegelapan adalah pengalaman yang amat sulit. Dalam bahasa Kitab Suci “kegelapan” bukan hanya berarti pekatnya malam, melainkan kekuatan si jahat yang dapat menggoda manusia dan membelokkannya dari jalan yang benar ke arah tujuan yang sesat. Dari jalan menuju hidup ke arah kebinasaan.

Banyak manusia tersesat, tidak tahu lagi arah mana jalan yang harus ditempuh karena kegelapan melingkupinya. Banyak di antara kita telah tersesat dan kehilangan arah. Kita cenderung mengikuti apa pun oleh setiap orang yang hidup dalam budaya zaman masa kini. Tentu saja banyak yang baik, namun sering kali hedonisme, pemuasan dan pementingan diri sendiri menjadi hal yang dipandang lumrah, padahal bisa membutakan dan membungkan terang itu. Akibatnya, kita kehilangan arah dan menjadi takut!

Para ilmuwan telah menemukan hal-hal baru yang menakjubkan. Era masa kini disebut era industri 4.0, bahkan sudah ada negara yang siap dengan teknologi 5.0! Teknologi baru yang benar-benar mencengangkan. Namun, pertanyaannya tetap saja: “Dengan segala teknologi dalam genggaman, pengetahuan dan kekuasaan kita, tahukahke mana kita akan berjalan? Apakah yang kita kehendaki untuk diri kita sendiri dan untuk umat manusia serta semua ciptaan? Apakah kita menggunakan teknologi untuk kekuasaan dan kemuliaan kita sendiri dan untuk menaklukkan orang lain? Ataukah kita ingin menggunakannya untuk kehidupan, relasi, perdamaian, pemeliharaan semua ciptaan, dan kesejahteraan Bersama sehingga semua orang – tanpa membedakan suku, budaya, agama, kemampuan atau ketidakmampuan mereka – dapat dan mampu menemukan tempat dan martabat mereka masing-masing? Apakah kita ingin dikuasai oleh ketakutan atau oleh kasih?”

Salomo rupanya menyadari – sebagai raja punya kekuasaan dan potensi luar biasa pada zamannya – maka hal utama yang ia minta adalah hikmat atau pengertian untuk menimbang mana yang baik dan mana yang buruk; mana yang benar dan mana yang jahat. Ia meminta agar mata hatinya diberi terang! Terang itulah yang akan menolongnya melihat perkara yang samar menjadi terang benderang. Terang itulah yang mampu menelanjangi kelaliman.

Tanpa terang dalam hati, kita mudah diombang-ambingkan oleh si jahat. Kita tidak lagi mampu membedakan mana yang baik yang menjadi kehendak Tuhan dan mana yang merupakan keinginan kita sendiri. Apalagi ketika Tuhan memberi kita posisi dan jabatan strategis. Belum lagi seperti Salomo, banyak di antara kita tidak mampu membedakan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari jauh-jauh.

Yesus, Sang Terang dunia yang telah datang itu, Ia hadir menyapa dan memberi makna serta arah hidup kita dan seluruh umat manusia. Ia datang untuk menyatakan apa yang seharusnya dilakukan oleh umat manusia. Ia datang dengan cinta kasih dan penerimaan terhadap siapa pun – pelacur, pendosa, pemungut cukai – dan semua orang tanpa kecuali. Ia hadir sebagai Terang oleh karena orang dapat dengan kasat mata melihat, mendengar dan mengalami kebaikan, pengampunan dan cinta kasih Allah di dalam diri-Nya. 

Terang yang dihadirkan Yesus berbeda dari pandangan sejarah manusia. Sejarah peradaban manusia menempatkan teknologi, kekuasaan, kepemimpinan dengan kekuatannya sebagai sarana untuk mengabdi pada kekuasaan itu sendiri. Namun Sang Terang menunjukkan arah baru. Arah baru itu bukan mengarah pada diri sendiri atau egosentris, melainkan dari diri sendiri untuk sesama dan semua makhluk. Yesus datang untuk menyatakan kepada kita masing-masing siapakah kita ini dengan segala sesuatu yang ada pada kita. Ia merangkul kita dengan kehangatan cinta-Nya.Ini merupakan pernyataan tentang jati diri kita yang paling dalam. Ia datang untuk menyatakan bahwa diri kita berharga, dicintai dan penting. Ia ingin kita semua terpanggil untuk meneruskan terang itu.

Kita dipanggil untuk berkembang dalam kasih dan kebenaran, bukan dalam ancaman dan ketakutan, bukan dalam semangat menguasai dan menaklukkan. Ia datang untuk menyatakan bahwa kita harus mengambil tempat kita di dunia sebagai pewarta-pewarta cinta kasih dan perdamaian! Ini semua dapat terjadi apabila kita dengan sungguh-sungguh membuka hati, menerima Sang Terang itu dan membiarkan hati kita dibentuk oleh-Nya menjadi hati yang baru. Hati yang baru yang penuh dengan pengertian; bukan pengertian untuk diri sendiri. Melainkan, mengerti kehendak Allah, mampu mengerti kebutuhan sesama dan siap menghadirkan cinta kasih bagi semua makhluk!


Jakarta, Akhir Tahun 2019

Jumat, 27 Desember 2019

BERDAMAI DENGAN KESULITAN

“Berdamai dengan kesulitan.” Koq kesulitan diajak damai? Bukankah harus dihindari? Pernahkah Anda menghadapi kesulitan yang teramat berat, lalu Anda ingin memilih mati saja? Buat apa hidup, kalau terus-menerus menanggung beban berat!

Selama nafas masih ada, selama itu pula kesulitan akan menghampiri kita, demikian kata pepatah bijak. Bahkan, sejak lahir kita semua sudah teken kontrak dengan apa yang Namanya kesulitan hidup. Ini pula yang terjadi dengan Yesus. Meski Ia disebut Sang Mesias, Anak Allah yang Mahatinggi, tidak luput dari kesulitan. Sejak Ia lahir, nyawa-Nya sudah terancam! Itulah sebabnya malaikat Tuhan meminta Yusuf memboyong Maria dan Anak-Nya mengungsi ke Mesir.

Ada hal menarik ketika kita membaca narasi keluarga kudus yang mengungsi ke Mesir ini. Agustinus Gianto dalam bukunya “Membarui Wajah Manusia”, menyebut ada empat tokoh yakni, Malaikat yang menampakkan diri kepada Yusuf, kemudian Yusuf, lalu “Anak serta ibu-Nya”, dan akhirnya, “Herodes – ayah dan anak”. Mungkin kita heran mengapa Anak dan ibu-Nya menjadi satu tokoh. Di sini kita perlu mengikuti alur cerita Injil Matius dengan cermat dan berusaha memahami maksudnya. Bila kita membaca dari dekat ayat-ayat Matius 2:13,14,20,dan 21, Yesus dan Maria keduanya selalu disebut bersamaan. Mereka tidak dapat dipisahkan. Jadi, Matius menampilkan mereka sebagai satu tokoh dengan dua sisi. Tokoh ini adalah tokoh yang dilindungi oleh daya-daya dari langit dengan cara yang sangat manusiawi, dengan memakai kesahajaan Yusuf!

Kekuatan jahat ditokohkan dengan sosok yang memiliki “dua sisi juga”, yakni Herodes dan anaknya. Namun, kekuatan ini tidak dapat berbuat banyak. Bukan tanpa maksud Matius menggambarkan Herodes, ayah-anak itu sebagai kekuatan gelap yang turun-temurun merusak dan menghancurkan kehadiran Allah di antara manusia. Dengan menyadari hal itu, kita dapat mengerti gerak-gerik kehadiran kekuatan jahat di dunia ini: ia akan hadir terus, memakai kekuasaan dan menungganginya untuk memusuhi kemanusiaan. Tidak penting lagi buat kita sekarang, siapa persisnya yang membadankan kuasa ini. Yang mencolok adalah perkaranya, kegiatannya yang destruktif terhadap kemanusiaan dan keutuhan ciptaan. Kekuatan jahat itu bisa memakai orang ini atau orang itu, Herodes yang dulu atau Arkhelaus, anaknya. Sekarang pun masih terus ada dalam macam-macam bentuknya yang hanya dapat dikenal oleh orang yang jeli mata batinnya seperti Yusuf. 

Kesahajaan Yusuf membuat kekuasaan jahat itu tidak bisa berbuat banyak, walau kuasa mereka tidak dipunahkan. Pada saat yang sama, kesahajaan orang seperti Yusuf itu menjadi kebijaksanaan yang menyelamatkan. Yusuf paham situasi zamannya. Matius menyiratkan dengan cara diam-diam pada ayat 22. Diceritakan, Yusuf mendengar bahwa yang menjadi raja di Yudea ialah anak Herodes, yakni Arkhelaus. Kemudian disebutkan bahwa ia takut kembali ke sana. Dengan segala sisi kemanusiaannya, termasuk rasa takut, Yusuf mampu membaca gerak-gerik kekuasaan yang luar biasa itu. Ia pandai membaca kekuatan jahat itu mengarah. Namun, lebih dari itu, Yusuf mahir mengenal bimbingan ilahi dan menurutinya. Pada Matius 2: 22, tidak lagi diceritakan malaikat yang memberi petunjuk. Hanya disebutkan bahwa Yusuf dinasihati dalam mimpi. Matius seolah hendak menyarankan, kini Yusuf sudah menjadi orang yang peka akan bimbingan dari “atas”. Ia tahu apa yang harus diperbuat.

Dari sudut pandang tertentu, Yusuf ditampilkan sebagai tokoh ideal yang kehadirannya untuk memudahkan orang memahami cara Tuhan melindungi “Anak dan ibu-Nya”. Namun, bila dibaca dengan minat untuk mengerti kemanusiaan, sambil merasa-rasakan apa yang dialami Yusuf, akan tampil seorang tokoh Yusuf yang sungguh nyata, yang berhasil menjalani liku-liku kehidupan dengan bimbingan ilahi menghindari jatuh ke dalam pengaruh dan kekuasaan jahat. Yusuf adalah orang yang peka terhadap suara ilahi yang berpijak di bumi dan berhasil mengatasi pelbagai kesulitan.

Belajar dari Yusuf, kunci menghadapi kesulitan sangat sederhana: peka terhadap bimbingan Tuhan, mampu membaca tantangan, tidak mengabaikan rasa kemanusiaan termasuk rasa takut dan yang paling penting adalah mengerjakan petunjuk ilahi! Mungkin kita akan protes: Yusuf tokoh yang sudah disiapkan Allah untuk menjaga misi Allah. Enak buat Yusuf, malaikat langsung ngomong, nah kalau kita, mana ada malaikat mau datang? Ya, benar mungkin faktanya begitu. Namun, bukankah setiap anak-anak Tuhan disiapkan bukan untuk menjadi pecundang dalam menghadapi masalah? Setiap anak Tuhan disiapkan untuk menjadi pemenang dan menjadi berkat buat sesamanya! Bukankah juga setiap saat Tuhan menghadirkan para malaikatnya di sekitar kita? Tugas utama malaikat Tuhan bukan membentangkan sayapnya atau kemilau cahayanya. Bukan! Tetapi menyampaikan petunjuk dan maksud Allah. Bukankah ada banyak “malaikat” Tuhan yang memberikan petunjuk di sekitar kita? Ia bisa hadir lewat teman, bawahan, orang tua, anak, saudara, bahkan orang yang kita benci sekalipun! Malaikat Tuhan bisa hadir dalam ciptaan-Nya, melalui peristiwa-peristiwa kehidupan, melalui mimbar dan perenungan firman. Jadi, yakinlah bahwa Tuhan memberi bimbingan yang sama kepada kita, agar kita mampu berdamai dengan kesulitan!

Kembali kepada cerita kesulitan yang membuat orang bisa frustasi dan bunuh diri. Suatu hari, Norman Vincent Peale, penulis buku yang menjadi best seller “You Can If You Think You Can kedatangan seorang pria yang memohon nasihat darinya. Laki-laki itu mengeluh karena ia sudah bosan menjalani kehidupan dengan pelbagai masalah di dalamnya. Ia berencana untuk melakukan bunuh diri agar bisa keluar dari kejenuhan hidupnya itu.

“Tampaknya itu sebuah jalan keluar yang menarik, tetapi saya punya saran. Begini, bagaimana jika sebelum kamu melakukan bunuh diri, kamu mencoba mengikuti nasihat saya agar kamu tidak mati sia-sia,” pinta Peale.

“Baiklah, saya akan turuti kata-kata Anda untuk terakhir kalinya,” jawab pemuda itu.

“Bayangkan bahwa hidupmu tinggal sehari lagi. Besok malam, ketika kamu akan tidur, anggaplah malam itu adalah malam terakhir kamu menikmati tempat tidurmu yang mewah. Besok pagi, ketika kamu bangun tidur, pikirkan apa saja yang akan kamu lakukan dengan waktu yang amat terbatas itu. Bertindaklah seolah-olah hari itu adalah hari terakhir dalam hidupmu. Pergilah ke meja makan, nikmati sarapan pagimu dengan santai, minta menu istimewa yang kamu sukai, dan berbincang-bincang dengan orang-orang terdekatmu, katakanlah apa yang kamu ingin sampaikan sebagai pesan terakhir kepada mereka. Ingat itu hari terakhirmu! Dalam perjalanan menuju kantor, minta sopirmu melewati rute yang tidak biasa, siapa tahu ada hal-hal menarik yang selama ini belum pernah kamu ketahui. Tataplah Gedung-gedung dan pepohonan yang berada di sepanjang jalan itu. Dalam perjalanan ke stasiun, berjalanlah perlahan dan pandanglah baik-baik rumah dan kotamu. Pandanglah tetanggamu untuk yang terakhir kalinya. Di atas kereta, sadarilah bahwa ini adalah yang terakhir kalinya naik kereta ke kota. Lihatlah untuk yang terakhir kalinya hal-hal yang tidak kamu sukai karena kamu segera tidak akan melihatnya lagi.” Peale menjelaskan secara rinci tindakan apa saja yang harus dilakukan pemuda itu sebelum mengakhiri hidupnya. Lelaki itu berjanji melakukan apa yang dinasihatkan kepadanya dan melaporkan hasilnya.

Anak muda itu tidak sabar menunggu hari esok. Dia membayangkan hari-hari itu adalah terakhir baginya. Dalam perjalanan pulang ia memandang ke luar jendela dan tidak membaca surat kabar sore itu. Ia merasa kagum dengan kerlap-kerlip lampu menghiasi kota. Ia merasa perjalanannya sore itu adalah perjalanan yang sangat mengagumkan. Kemudian, di bawah cahaya rembulan dia pulang ke rumahnya. Ia tidak menggunakan kunci seperti biasanya, tetapi mengetuk pintu rumahnya. Ketika pintu dibuka dari dalam, tampak istrinya yang terlihat begitu cantik tersinari lampu teras. Saat itu juga ia memeluk dan mencium istrinya. Ini hari tidak seperti biasa, semua terasa indah!

“Saya langsung memeluk dan memberinya ciuman yang paling mesra di sepanjang hidup kami berdua. Saat itulah dan di situlah saya bertekad untuk meneruskan hidup ini, keesokan harinya, dan pada hari-hari berikutnya selama Tuhan masih menganugerahkan kehidupan buat saya.” Kata lelaki itu pada Peale. Mendengar pengakuan itu, Peale sangat senang. Ternyata nasihat sederhana bisa menyelamatkan nyawa seseorang. 

Bukalah mata, telinga, pikiran dan hati kita. Ada malaikat Tuhan di sekitar kita, masalahnya apakah kita menerima tuntunan dan petunjuknya seperti Yusuf?

Jakarta, 27 Desember 2019

Selasa, 24 Desember 2019

MENYATAKAN KEMULIAAN ALLAH

Suatu hari, seorang ulama kampung mengundang Nasrudin untuk makan malam di rumahnya. Hari itu, Nasrudin hanya makan sedikit saja. Pikirnya, menyiapkan perut untuk ruang makanan yang lezat! Apa yang terjadi kemudian? Nasrudin kelaparan setibanya di rumah sang ulama. Tak heran jika ia terlihat tidak sabar menanti makanan dihidangkan.

Namun, setelah dua jam, sang ulama belum juga menawarkan makanan kepada Nasrudin. Sebaliknya, ia terus berbicara tanpa henti tentang sejumlah kisah tentang keagamaan. Menit demi menit berlalu, Nasrudin mulai kesal dan akhirnya ia memberanikan diri memotong pembicaraan ulama itu.

“Bolehkah aku bertanya, wahai ulama?” Nasrudin mulai bertanya.
Tentu saja sang ulama gembira, apa yang ia paparkan Panjang lebar ditanggapi Nasrudin. “Apakah gerangan pertanyaanmu, Nasrudin?” Sang ulama bersiap-siap menjawab pertanyaan bernuansa agama itu agar ia bisa meneruskan kisahnya.

“Saya penasaran,” kata Nasrudin, “Apakah orang-orang dalam kisah yang engkau ceritakan itu tidak pernah kelaparan?”

Terbentang jurang lebar antara narasi keagamaan dengan kebutuhan umat, sehingga firman itu tidak membuahkan dan mengubah perilaku umat. Bisa jadi narasi keagamaan itu begitu luhurnya sehingga tidak menyentuh. Narasi itu kehilangan empati terhadap kebutuhan umat. Atau umat yang tidak mau mengerti, seperti Israel yang dikenal dengan sebutan umat yang tegar tengkuk!

Jurang itu perlu jembatan!

Kalau Lukas dan Matius menceritakan asal-usul manusiawi Yesus, Yohanes berbeda. Injil ini diawali bukan dengan hiruk pikuk orang-orang yang harus mencatatkan diri di kota mereka masing-masing atas perintah Kaisar Agustus. Atau kesibukan para Majusi yang hendak melakukan perjalanan jauh demi menyembah Sang Mesias yang baru dilahirkan. Yohanes berbicara mengenai asal-usul ilahi dari Yesus. 

Jauh sebelum orang meributkan prolog Injil Yohanes sebagai saduran dari himne Platonis, kitab Amsal yang ditulis beberapa abad sebelum kelahiran Yesus, berbicara tentang hikmat (baca: firman / logos) Allah.

TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya…
Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, 
sebelum bumi ada.
Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir….
Sebelum gunung-gunung tertanam, aku telah lahir …
Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana …
Aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan,
setiap hari aku menjadi kesayangan-Nya,
dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya …. (Amsal 8:22-30)

Asal-usul keilahian Yesus menurut Injil Yohanes ini intinya adalah kata Yunani logos yang biasa diterjemahkan dengan Firman atau Sabda. Tidak salah, namun logos mempunyai arti yang lebih luas, tidak hanya menunjuk pada kata yang terucap tetapi juga gagasan dan pikiran yang ada di balik kata yang terucap itu. Firman atau Sabda ini punya daya untuk menciptakan, mengubah dan membarui. Sama seperti ucapan, gagasan dan apa yang ada di balik pikiran kita tidak bisa dipisahkan dari diri kita: Logos, Firman atau Sabda itu pada hakikatnya adalah Allah sendiri.

Logos, Firman atau Sabda itu adalah ”Terang” Ilahi yang hadir di dunia ini. Segala sesuatu diciptakan, dibentuk, dibaharui oleh Firman yang adalah Terang Ilahi, maka segala sesuatu diciptakan oleh Terang Sabda-Nya. Itu artinya, Terang itu tersembunyi tetapi dinyatakan dalam semua ciptaan-Nya. Semua ciptaan itu memancarkan Terang sang pencipta-Nya. Bunga memancarkan keindahan dan harumnya, gunung-gunung memancarkan kekuatannya, kicau burung mengangungkan semarak kemuliaanya, ombak dan badai menandakan kedasyatan-Nya. Dalam setiap ciptaan ada Terang ilahi, namun sering kali manusia tidak menyambut Terang itu!

Bahkan Terang itu juga datang dan menyapa umat-Nya melalui para nabi dengan berbagai cara menyampaikan Terang itu, namun mereka tidak menerima-Nya juga. Meski demikian, dunia yang dipenuhi oleh kekerasan dan diliputi kegelapan, Allah yang menerangi dan menciptakan terus berkarya. Allah menyatakan kehendak-Nya, Terang-Nya itu kepada orang-orang kudus, kepada para nabi, selama berabad-abad di seluruh dunia, dengan menunjukkan kepada mereka tentang bagaimana mereka harus hidup. Namun lagi-lagi, manusia tidak menerima Terang itu; tidak mengindahkan-Nya!

“Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.” (Yohanes 1:11)

Apakah Allah menyerah?

Tidak!

“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia, Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kuasa.” (Ibrani 1:1-3)

Selanjutnya cahaya kemuliaan dan gambar wujud Allah itu tinggal di antara kita. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita…” (Yohanes 1:14). Allah yang abadi, pencipta langit dan bumi, menjadi seperti kita: manusia yang lemah dan fana. Ia menjadi bayi yang membutuhkan seorang ibu, dikandung dalam rahimnya, diberi makan oleh susunya, membutuhkan kasihnya dan kasih kehadiran Yusuf sebagai ayah agar dapat hidup dan berkembang sebagai manusia. Ia “tinggal di antara kita” – yang dapat diartikan : “Ia mendirikan kemahnya di antara kita”. Ia menjadi peziarah dan saudara, berjalan melewati padang gurun dunia Bersama dengan kita. Ia menjadi bagian dari sejarah, sambil menunjukkan jalan – yang adalah diri-Nya sendiri – menuju Allah dan damai universal yang sesungguhnya.

Yesus, Sang Firman yang menjadi manusia. Dalam diri-Nya orang melihat Allah yang penuh misteri. Firman itu menyatakan siapa Allah yang sesungguhnya dengan kasat mata. Allah yang dikenal sebagai yang rahmani dan rahimi; dulu para nabi dan orang hanya mengenal konsep dan gagasannya. Melalui Yesus, Firman itu terlihat bagaimana sifat Allah yang rahmani dan rahimi itu karena Yesus memperagakannya. Dulu, para nabi berbicara tentang apa itu pengampunan, di dalam Yesus – ia tidak hanya mengajarkan pengampunan, bahwa orang harus mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali – orang melihat sendiri pengampunan itu seperti apa. Di depan para penganiaya-Nya, di kayu salib, Ia mengatakan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!” Dulu Raja Daud mengatakan, “TUHAN adalah gembalaku yang baik!” Kini orang mendengar dan merasakan bahwa Yesus adalah Gembala yang baik itu!

Firman itu telah menjadi manusia. Yesus menjadi Sabda yang kelihatan dan dengan demikian Ia memuliakan Allah. Dengan jalan hidup-Nya sebagai Terang dunia, Yesus telah menerangi apa yang masih gelap, apa yang masih disangsikan dan kemudian semuanya bermuara untuk memuliakan Sang Bapa. Firman itu tidak kembali dengan sia-sia.

Dengan jalan itulah Allah membangun “jembatan” sehingga tidak ada lagi jurang yang memisahkan ketidakmengertian manusia dengan apa yang Allah kehendaki. Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita harus menerima Terang itu, hanya dengan jalan itu kita diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Kuasa yang bukan untuk dilayani dan menaklukkan, meliankan untuk menjadi anak-anak yang terus memancarkan Terang itu. Di dunia ini masih begitu banyak tindakan kekerasan, ketidakadilan, keserakahan dan kerakusan. Sama seperti Yesus menghadirkan Terang dan menyatakan kemuliaan Allah (baca: menghidupi Sabda Allah), kita juga dipanggil-Nya untuk melakukan cara itu. Dunia tidak butuh kata-kata, sebagaimana Nasrudin tidak membutuhkan dongeng tentang kisah-kisah agama yang panjang lebar…

Selamat menjadi terang dan menyatakan kemuliaan Allah.
Selamat Natal 2019!

Senin, 23 Desember 2019

KEMULIAAN DALAM KESEDERHANAAN

Injil Lukas mengisahkan kelahiran Sang Mesias bukan di tempat yang selayaknya, apalagi di istana kerajaan. Bukan! Sang Mesias lahir di tengah-tengah rakyat jelata yang sedang mengantri di tengah-tengah sebuah pencacahan jiwa yang dilakukan oleh Kaisar Agustus. Tak pelak lagi, Yesus merupakan bagian dari kejelataan yang marjinal itu. Kelahirannya akrab dengan suara ternak dan gembala serta kaum papa.

Kelahiran Kristus berada dalam sejarah kelam. Umat Allah sedang berada dalam cengkeraman kekuasaan Kaisar Agustus. Agustus sebenarnya bernama Octavianus, nama lengkapnya Gaius Julius Caesar Octavianus. Dia dipandang sebagai kaisar terbesar sepanjang sejarah kekaisaran Romawi. Agustus dimuliakan bagaikan dewa, dia dianggap sebagai juruselamat dunia yang mendatangkan zaman keemasan untuk dunia.

Tentu saja, penulis Injil Lukas dengan sadar menempatkan keduanya berhadapan: Agustus dan Yesus. Seakan-akan Lukas berkisah, “Pada zaman pemerintahan Kaisar Agustus yang dipuja oleh dunia sebagai orang yang sangat mulia, bagaikan dewa dan penyelamat, lahirlah Juruselamat yang sesungguhnya, yakni : Yesus Kristus!

Untuk meneguhkan kemuliaan yang sesungguhnya itu, Allah, melalui malaikat-Nya menyiapkan para saksi. Bukan dari kalangan orang-orang mulia, bukan bangsawan atau kaum intelektual yang terpandang. Mereka para marjinal. Gembala! Para gembala adalah kaum marjinal secara ekonomi dan martabat. Koq bisa? Ya, Allah ingin memakai mereka untuk menyatakan kemuliaan Sang Mesias bukan melulu melalui kekuasaan dan kehormatan yang dipuja dan dikejar manusia! Ternyata bagi Allah siapa pun dapat dipakai-Nya untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Bagi Allah semua manusia adalah mulia!

Tanpa menunggu waktu lama, dengan keyakinan penuh bahwa utusan Tuhan telah berbicara kepada para gembala, mereka cepat-cepat pergi untuk menyambut Sang Mesias itu. Para gembala itu pergi bukan untuk membuktikan kebenaran para malaikat, melainkan mereka pergi untuk menyambut dan menjadi saksi kelahiran Sang Mesias. Terbukti ketika mereka tiba di tempat di mana Yesus dilahirkan, mereka menceritakan apa yang sudah didengar dari malaikat Tuhan. Peran gembala di sini sangat penting. Kelahiran Yesus Kristus diberi makna yang sesungguhnya oleh para gembala itu. Mereka memberi pernyataan yang mencengangkan banyak orang. Dan semua orang yang mendengarkannya heran!

Jika Yesus Kristus, Sang Juruselamat yang sesungguhnya hadir dalam kesederhanaan dan berpihak pada orang-orang miskin, menderita, terabaikan dan cenderung dianggap sampah. Mestinya, gereja yang mengaku sebagai penerus karya Kristus dapat menunjukkan kesederhanaan dan keberpihakan yang sama tanpa harus takut kehilangan kemuliaan. Kemuliaan yang sesungguhnya bukanlah dengan mendirikan mercu suar atau proyek dan program pelayanan yang spektakuler. Melainkan dengan setia meneruskan kasih Tuhan. Gereja harus berani berdiri di barisan paling depan menentang ketidakadilan dan berpihak kepada mereka yang teraniaya.

Gereja adalah Anda dan saya. Kita semua dapat berkarya meneruskan cinta kasih Tuhan kepada dunia ini. Mulailah dari diri kita untuk menyatakan kasih, pengampunan dan damai sejahtera bagi semua orang. Mulailah dari hal-hal kecil yang sederhana yang bisa kita lakukan. Senyum sapa dan berbagi apa pun yang baik merupakan cara kita untuk meneruskan cinta kasih Tuhan. Jangan berpikir nanti saja, mulailah dari sekarang. Sebab, bisa jadi esok atau lusa sudah terlambat. Lakukanlah dengan sukacita, rela dan tanpa pamrih. Jangan takut kehilangan kemuliaan. Yesus Kristus memberi contoh dan teladan: kemuliaan tidak pernah akan hilang meski ditampilkan dalam kesederhanaan sekali pun!

Selamat menyongsong dan merayakan Natal. Rayakanlah dengan kesederhanaan namun penuh dengan cinta kasih! Tuhan memberkati!

Selamat merayakan Natal 2019

Kamis, 19 Desember 2019

MENGHADAPI PERGUMULAN DENGAN IMAN

Suasana jelang Natal semakin terasa, bahkan sudah banyak di sana-sini orang Kristen merayakan Natal! Kalau saja kita mengikuti proses kelahiran Sang Juruselamat, mungkin saja merayakan Natal tidak semudah seperti sekarang kita merayakannya. Proses kelahiran itu melibatkan manusia, dan manusia yang diajak menghadirkan Sang Imanuel itu tidak serta-merta menerimanya tanpa melalui proses gumul dan juang.

Minggu Adven terakhir tahun A bacaan Injil terambil dari Matius 1 :18 – 25. Bagi komunitas umat Matius dan orang Kristen mula-mula, kelahiran Yesus bukanlah kejadian lumrah. Yesus Kristus dikandung dari Roh Kudus tetapi dilahirkan secara manusiawi oleh Maria dan dibesarkan oleh Yusuf. Injil Matius memberikan keterangan peristiwa yang tidak biasa ini melalui kata-kata malaikat kepada Yusuf melalui mimpi. Semua yang diucapkan malaikat itu merupakan penggenapan nubuat Nabi Yesaya (Yesaya 7:14), yang mengatakan bahwa seorang anak dara akan melahirkan anak laki-laki yang disebut Imanuel, yang artinya “Tuhan menyertai kita”. Sekilas berita ini mengalir begitu mudahnya. Kita jarang sekali memerhatikan pergumulan orang-orang yang menyiapkan kedatangan Sang Imanuel itu.

Dalam Matius 1:18 dan 20 disebutkan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus sebelum hidup layaknya suami-istri bersama Yusuf. Dalam adat istiadat Yahudi, sejak usia remaja, seorang gadis pada umumnya sudah dipertunangkan dengan calon suaminya jauh-jauh sebelum pernikahan. Pernikahan itu sendiri baru terjadi setelah keduanya siap membangun rumah tangga secara mandiri. Apakah pertunangan dapat dibatalkan? Ya, tentu saja! Ikatan pertunangan dapat dibatalkan dengan alasan-alasan tertentu. Salah satunya ialah bila calon istri didapati mengandung sebelum pernikahan. Menurut hukum adat itu, bakal suami wajib membatalkan ikatan pertunangan tadi.

Setelah pembatalan itu, pihak perempuan akan bebas dari ikatan itu dan dapat diperistri oleh orang lain secara sah. Kendati sudah dibebaskan dari ikatan pertunangan dan boleh diperistri oleh pria lain, namun kenyataannya: siapa yang mau mempersunting perempuan yang hamil di luar nikah? Yusuf, jelas ia mencintai Maria. Dia bisa membayangkan bagaimana nasib Maria kalau pertunangan itu ia batalkan. Di pihak lain, tentu saja Yusuf tahu hukum-hukum yang mengikatnya sebagai orang Yahudi. Dalam kondisi ini Yusuf bergumul!

Dalam pergumulannya, tercermin sikap Yusuf bahwa ia tidak egois. Ia tidak hendak menyusahkan Maria, tapi tetap mau menaati hukum tadi. Maka dari itu, ia bermaksud membatalkan pertunangannya dengan Maria secara “diam-diam”, artinya Yusuf membatalkan pertunangan itu bukan tanpa saksi, tetapi tidak memperkarakannya di muka pengadilan atau tanpa membuat pernyataan macam-macam tentang perkara tersebut. Dengan demikian, pembatalan itu akan sah menurut hukum, tetapi tidak mendatangkan aib bagi Maria.

Perhatikan apa yang dirancangkan Yusuf. Ia berusaha mencari jalan yang terbaik untuk memecahkan pergumulan hubungannya dengan Maria. Yusuf tidak mau gadis yang dicintainya dilecehkan oleh orang banyak lantaran ia hamil di luar pernikahan dengannya. Yusuf juga tidak mau ada hukum-hukum dalam tradisinya yang dilanggar. Itulah usahaoptimal yang dapat dilakukan oleh Yusuf. 

Namun apa yang terjadi sebelum niatnya dilaksanakan? Sesuatu yang luar biasa! Malaikat Tuhan datang menjumpai dan mengatakan kepada Yusuf, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” (Matius 1:20). “Mengandung dari Roh Kudus menggemakan berita-berita yang tercantum dalam Perjanjian Lama (Kejadian 18:11; 1Samuel 1) tentang Allah yang menyuburkan rahim perempuan-perempuan mandul. Melalui pernyataan ini, Injil Matius mau menegaskan Allah sendirilah Sang penyebab kehidupan Anak-Nya sebagai manusia. Dengan cara ini terungkap ikatan mendalam antara yang ilahi dengan yang insani.

Pernyataan malaikat Tuhan ini merupakan jalan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Yusuf. Barangkali juga jalan yang sulit dimengerti dan diterima. Bayangkan, Yusuf, semenjak pertunangannya dengan Maria, ia harus menjaga dan merawat mimpi-mimpi indahnya membangun keluarga kecil. Ia akan bekerja sebagai tukang kayu, Maria tentunya sebagai ibu rumah tangga akan merawat anak, mengurusi rumah dan menjadi curahan kasih sayangnya. Namun, kini kenyataan menjadi lain ketika ia harus berhadapan dengan rancangan Yang Ilahi. Yusuf harus merelakan impiannya dengan keyakinan bahwa rencana Allah pasti lebih baik dari apa yang ia rancangkan. Tugasnya akan tetap ada: Ia menjadi suami dari Maria dan ayah dari Yesus. Sebagai seorang ayah, ia bertanggung jawab anak yang dilahirkan oleh Maria itu akan dimasukkan dalam garis keturunannya: Ya, garis keturunan Raja Daud. Sebagai ayah pula, ia yang nantinya akan memberi nama kepada bayi yang dilahirkan Maria.

Kelahiran Yesus memenuhi janji Allah yang tercatat dalam Yesaya 7:14. Janji itu diberikan kepada Raja Ahaz. Ahaz diuji, kalau ia mempunyai iman yang sungguh terhadap Allah, ia akan melihat kekuatan Allah yang menyelamatkan umat-Nya. Keselamatan itu akan menjadi nyata ketika ada seorang anak dara mengandung dan melahirkan anak yang dinamai Imanuel. Namun, sayang Ahaz dikenal sebagai raja Yehuda yang membuat Allah murka. Ahaz bukanlah raja yang taat dan setia apalagi beriman teguh kepada Allah, maka dalam hidupnya Imanuel – dalam arti yang sesungguhnya – tidak pernah ia lihat dan rasakan. Sebaliknya Yusuf, barangkali adalah “Ahaz” yang berikutnya, ia melihat, mengalami bahkan terlibat langsung dalam pemenuhan janji Allah itu. Yusuf sejak semula dikatakan “seorang yang tulus hati”, ia seorang yang benar dan saleh. Tentu saja tidak berhenti di situ, Yusuf juga orang yang bergumul dan setia pada kehendak Allah. Dengan ketaatannya itulah Yusuf dipakai Allah untuk menjadi salah seorang yang terlibat dalam kelahiran Sang Mesias!

Sangat mungkin pada hari ini kita sedang menghadapi pergumulan yang tidak mudah. Kita mencari jalan keluar yang terbaik menurut kaidah-kaidah hukum positif dan ketentuan-ketentuan agama yang kita pandang sebagai kebenaran. Namun, bisa saja kita tetap tidak menemukan jalan keluarnya!

John Henry Newman, seorang teolog Inggris abad 19 pernah mengalami pergumulan berat ketika diperhadapkan pada tugas panggilannya baik sebagai teolog maupun pemimpin umat. Dalam pergumulannya ia menulis syair terkenal yang amat indah “Lead kindly light” (Bimbinglah daku wahai cahaya). Newman dimampukan untuk bertahan dan menemukan pilihan hidupnya karena ia membiarkan diri dipimpin oleh “cahaya”.

Dalam pergumulan dan dalam gelapnya jalan kehidupan, kita sering memohon kepada Allah untuk menerangi hati kita agar mampu melihat jalan yang dikehendaki-Nya; kita memohon terang kepada Allah untuk dapat melihat pilihan-pilihan kita dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi kita harus realistis. Mungkin kita tidak akan pernah diberikan cahaya yang terang benderang, mungkin bukan seperti Yusuf di tengah kegalauannya segera hadir malaikat Tuhan yang menyatakan jalan yang harus diambilnya. Namun, setidaknya kita hanya perlu sedikit saja terang, agar kita dapat terus melangkah. Dan untuk itu, di sinilah iman kita berperan! Iman seperti Yusuf, tidak hanya berpusat pada pementingan diri, melainkan iman yang mampu melihat rencana Allah buat banyak orang. Iman yang tidak ada niatan untuk menyakiti sesama. Iman yang mengerjakan apa yang baik. Iman seperti ini hanya dapat terjadi jika hati dan pikiran kita mau dan terbuka untuk diterangi cahaya ilahi!

Jakarta, Adven ke-4 Tahun A 2019

Jumat, 13 Desember 2019

HARUSKAH KAMI MENANTIKAN ORANG LAIN?

“Waiting for Godot” kisah klasik karya Samuel Beckett mengisahkan dua orang gelandangan: Vladimir dan Estragon yang sedang menunggu Godot. Sementara menunggu, mereka ngobrol tak tentu arah dan temanya, seolah sedang menghabiskan waktu saja lazimnya orang yang menunggu. Sambil ngobrol mereka mengamati yang satu topinya, yang lain sepatu bootnya. Namun, isi pembicaraan mereka tak ada satu pun yang penting.

Siapa Godot itu? Beckett tidak mau menjelaskan. Demikian pula dalam dialog antara Vladimir dan Estragon sama sekali tidak menggambarkan siapa Godot itu sehingga sedemikian pentingnya mereka menunggu. Sampai pada akhir babak pertama kisah itu, muncul seorang anak yang memberi tahu bahwa Godot tidak datang pada hari itu. Di babak kedua, hal sama diulang kembali. Vladimir dan Estragon berbicara panjang lebar, tidak menentu sementara menunggu Godot, hingga muncul seorang anak yang memberitahukan hal yang sama bahwa Godot tidak datang hari itu, tetapi besoknya ia akan datang.

Kisah Godot, mungkin mewakili kisah kita dalam kehidupan ini. Kita terlalu banyak bicara ngalor-ngidul, kita berpikir menduga-duga tentang Tuhan. Ya, Tuhan yang sangat idealis menurut pandangan kita. Lalu, kita ingin tahu dan mencoba menerangkan, setidaknya untuk diri dan kalangan kita sendiri tentang siapakah Tuhan itu, bagaimanakah sifat, karakter, dan perbuatan-Nya. Kita juga mencoba berdoa, berkomunikasi dengan gambaran Tuhan menurut kita itu. 

Dalam Minggu Adven ke-3 ini bacaan dan perenungan mengajak kita kritis terhadap pemahaman dan prilaku kita: Apakah kita ditipu oleh konsep yang muncul dari ilusi dan hasrat kita sendiri? Pikiran kita yang dipenuhi tentang konsep Tuhan – padahal konsep itu merupakan pantulan keinginan kita sendiri – dari ilusi dan hasrat kita? Bisa juga pikiran kita dipenuhi dengan Tuhan siang-malam, tetapi tidak pernah mendapat jaminan bahwa keyakinan kita itu benar.

Yohanes Pembaptis, sebagaimana narasi Injil Minggu (Matius 11:2-11) ini mempunyai konsep ideal tentang Mesias yang jalannya sudah ia siapkan. Mesias itu akan membawa kapak yang siap menebang akar pohon yang tidak berbuah; Mesias itu akan menghakimi dan menegakkan kekuasaannya. Namun, sampai akhirnya ia ditangkap dan dipenjarakan tanda-tanda itu tidak pernah muncul dan terlihat kasat mata! Lantas, di dalam penjara yang pengap itu ia menyuruh para muridnya pergi menghadap Yesus dan menanyakan kepada-Nya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Matius 11:3).

Mengapa Yohanes dipenjara? Ini lebih pada perkara politik. Seruan pertobatan yang dikumandangkan Yohanes seolah gendering perang bagi Herodes. Suara padang gurun itu mampu mengguncang rakyat. Ini jelas mengkuatirkan dan membahayakan kedudukan Herodes di hadapan penguasa Romawi. Alasan lainnya, Yohanes pernah mengecam keras perkawinan Herodes dengan Herodias yang waktu itu masih bersuamikan saudara tiri Herodes sendiri (Matius 14:4) ini terlarang menurut Imamat 18:6). Dalam penjara, Yohanes masih dapat menerima kunjungan para muridnya. Dari merekalah, Yohanes mendengar tentang apa yang dilakukan Yesus.

Yohanes pernah menyerukan bahwa Dia yang akan datang itu lebih berkuasa dari dirinya. Kalau dirinya membaptis orang dengan air, maka Ia yang akan datang itu membaptis dengan Roh dan api. Tampaknya ketika berseru, Yohanes belum jelas siapa orangnya. Dalam seruannya, Yohanes tidak menyebutkan Yesus sebagai orang yang lebih berkuasa dari dirinya. Namun, ketika Yesus datang dan meminta dibaptis olehnya, Yohanes tentunya menduga bahwa Dialah orangnya. Ada pengalaman spiritual. Injil menggambarkannya dengan terdengarnya kata-kata dari langit bahwa Yesus itu adalah Anak yang terkasih dan mendapat perkenan ilahi. Tetapi sekarang masalahnya, Diakah orang yang dinanti-nantikan itu? Keraguan ini bukan diartikan sebagai bentuk ketidakpercayaan. Yohanes tampaknya membutuhkan konfirmasi lebih lanjut, lebih lengkap untuk memastikan bahwa Yesus itu Mesias. Iman yang hidup tetap butuh informasi aktual, bukan sekedar mengamini rumus-rumus dokmatik belaka. 

Pertanyaan Yohanes Pembaptis tentang apakah Yesus itu betul-betul Dia yang akan datang, atau masih ada orang lain, menunjukkan bahwa Yohanes ingin mendengar berita yang terpercaya. ia juga mau mengajar murid-muridnya berani mengenal siapa tokoh Yesus itu sesungguhnya dengan menemuinya sendiri. Berusaha untuk mengerti mana tanda-tanda yang bisa membuat orang percaya adalah termasuk tindakan beriman. Percaya dan beriman itu seperti semua tindakan manusia lainnya; bisa dan butuh dipertanggungjawabkan. Iman bukan hanya sekedar perasaan mantap sesuai pola pikir sendiri. Malah rasa mantap itu bakal berkurang ketika menghadapi tantangan baru.

Yohanes sepertinya sedang menghadapi pergumulan iman mendasar: Di hati dan dalam niatan, ia percaya bahwa ada sosok yang akan datang untuk menyempurnakan warta Kerajaan Surga. Tetapi siapakah sosok itu dalam kenyataannya? Orang yang dikabarkan di mana-mana menegerjakan perkara-perkara ajaib itukah? Bila betul, bagaimanakah penjelasannya? Apa ada kelanjutan dengan cara-cara Yang Ilahi mewahyukan kehendak-Nya dan memperkenalkan diri dulu? Apa betul-betul dapat diterima manusia? Ataukah tokoh yang sekarang populer itu Cuma mau memanfaatkan gairah orang banyak melihat hal-hal yang mengguncang batin tapi tidak membawa kepada pengalaman yang utuh? Kebutuhan untuk mengkonfirmasi dan mempertanggungjawabkan terasa mendesak waktu itu karena seruan yang disampaikan Yohanes dan pengajaran yang diberikan Yesus sering dipertanyakan bahkan ditolak.

Yesus tidak langsung menjawab kebutuhan Yohanes Pembaptis. Ia meminta agar murid-murid Yohanes melaporkan kepada guru mereka apa yang mereka lihat dan dengar, yakni orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberikan berita gembira. Seakan Yesus menyatakan bahwa Ia telah memenuhi apa yang dinubuatkan nabi Yesaya, “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai….“ (Yesaya 35:5-6). Juga pewartaan kabar gembira untuk orang-orang miskin membuat Yesus terkonfirmasi memenuhi apa yang dikatakan dalam Yesaya 61:1, “Roh TUHAN Allah ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan…”

Yohanes dan banyak orang yang telah mendengar dan melihat karya Yesus diminta-Nya untuk kembali melihat narasi teks nubuat yang sering didengar dan mencoba untuk melihat kenyataan sekarang. Penyembuhan dan kabar gembira kepada orang-orang yang sengsara tadi membuat kedatangan Yesus dapat dipertanggungjawabkan dan terkonfirmasi! Pada akhir jawaban-Nya, Yesus menyebut berbahagia orang “yang tidak menolak-Nya”, ungkapan aslinya, “yang tidak tersandung karena Aku”. Orang yang bisa menerima warta Yesus tanpa tersinggung dan menyambut-Nya dengan merdeka boleh merasa bahagia. Mereka ini menerima Kerajaan Surga (bnd. Matius 5:3). Yesus memilih menunjukkan karya-Nya ketika orang menanyakan tentang diri-Nya. Ia tidak memilih berdebat.

Kita bisa menarik pelajaran dari lakon Godot – ini mungkin sekali kritik Samuel Beckett terhadap kehidupan beragama – bahwa berbicara mengenai God(ot) tidak ada artinya lagi. Pembicaraan semacam itu mandul dan bahkan menyisakan banyak persoalan baru, mengkafirkan orang yang tidak sepaham dan memupuk kebanggaan semu serta semakin ekslusif. Mestinya narasi kita adalah meneruskan narasi Yesus, yakni bagaimana memanfaatkan waktu yang ada dengan sungguh-sungguh meneruskan apa yang dilakukan oleh Yesus: menyembuhkan yang sakit, membebaskan yang tertindas, menyampaikan kabar baik bagi orang-orang miskin.

Pemikiran dan pembicaraan tentang Tuhan memang penting. Namun, tidak akan berguna jika tidak bermuara pada tindakan. Perhatian terhadap Tuhan harus terwujud dalam tindakan-tindakan yang berguna sementara kita menunggu kedatangan-Nya. Menunggu dengan melakukan karya-karya kebajikan akan menjadi peristiwa sukacita dan sama sekali tidak membosankan. Ibarat sang gadis menunggu kedatangan kekasihnya, ia bersolek dan menyiapkan segala sesuatu demi sang kekasih itu. Mari kita “bersolek” mempercantik hati kita; mari kita berbenah, apa yang buruk harus ditinggalkan karena kita akan menyambut dengan sukacita kedatangan-Nya. Gaudatte!


Jakarta, Gaudatte Adeven III Tahun A 2019

Jumat, 06 Desember 2019

DATANGNYA ZAMAN BARU

Rana Plaza, terletak di daerah Savar, Bangladesh, 30 km dari ibukota Dhaka, kini menjadi tempat yang tak terlupakan. Pada 24 April 2013, tepat pukul 08.30 ribuan orang terjebak di dalam reruntuhan gedung tersebut. Ratusan di antaranya meninggal dalam sekejap mata. Sisanya mengalami cacat, entah cacat tubuh atau cacat emosional.

Sekitar 3000 orang sedang bekerja dalam Gedung itu ketika bencana terjadi. Ada 500 mayat manusia berhasil dikeluarkan. Ratusan lainnya masih hilang. Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah korban lainnya belum dapat dipastikan. Entah berapa! Bencana mengerikan di Savar itu, seperti dicatat oleh der Spiegel, merupakan bencana terbesar di sejarah Bangladesh terkait dengan industri. Ribuan orang bekerja dalam situasi yang sangat tidak manusiawi untuk menghasilkan produk-produk tekstil bagi perusahaan-perusahaan pakaian Amerika dan Eropa. Perusahaan-perusahaan itu memperoleh keuntungan besar dari kultur korup yang mengakar di Bangladesh, dibarengi dengan ketidakpedulian pemilik pabrik terhadap kaum buruh mereka (Hasnain Kazim et.al, Mei, 2013).

Rupanya peristiwa menyedihkan itu bukan hanya sekali bagi warga di Savar. Pada 2005, Gedung itu juga runtuh dan merenggut 64 nyawa manusia. Mirip dengan peristiwa di Rana Plaza, Gedung itu juga merupakan bangunan ilegal. Pemilik Gedung itu adalah Sayed Shahriyar. Mertuanya duduk di kursi parlemen. Istrinya adalah hakim. Ia hanya menghabiskan waktu sebentar di penjara, sebelum akhirnya dibebaskan.

Pemilik Rana Plaza, Muhammed Sohel Rana, mencoba melarikan diri. Ia kemudian ditangkap oleh polisi di perbatasan India. Namun, Rana punya koneksi politik yang sangat kuat. Ia kaya raya. Apakah keadilan akan ditegakkan seadil-adilnya? Ia membangun gedung Rana Plaza di atas tanah ilegal. Walikota sendiri yang meresmikan gedung itu, walaupun itu bukan haknya. Ini kasus lumrah yang terjadi di Bangladesh. Gabungan antara korupsi, sikap rakus, dan tidak bertanggung-jawab akhirnya berujung pada bencana yang tidak sedikit memakan nyawa manusia.

Bangladesh adalah negara eksportir tekstil terbesar kedua setelah Cina. Mereka mempekerjakan 4 juta orang. Sektor industri ini juga mengisi 80 persen pendapatan negara itu dari ekspor. Ketika protes dari kaum buruh terjadi, banyak orang panik. Setelah demo selesai, banyak pabrik menekan para buruhnya untuk mengejar ketertinggalan produksi. Mereka bekerja dalam rasa takut, upah rendah, dan situasi yang sama sekali tidak aman, mereka meninggal demi keuntungan beberapa pihak! Pimpinan serikat dagang di Dhaka, Roy Ramesch Chandra, seperti yang dikutip der Spiegel, menegaskan, “Para pekerja di Bangladesh harus membayar dengan nyawa mereka, sehingga para pembeli dari negara lain bisa membeli pakaian murah.” Menyedihkan! 

Bukan hanya di Bangladesh, bukankah untuk memuaskan ambisi kekayaan, kekuasaan dan ketenaran, manusia dapat menjadi serigala bagi sesamanya? Bukankah praktik-praktik seperti ini dapat dengan mudah kita temukan di Indonesia? Hari-hari ini kita digegerkan dengan maskapai Garuda yang membawa onderdil motor Harley Davidson serta sepeda Brompton milik petinggi maskapai pelat merah itu. Kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun, bangunan-bangunan yang berubah fungsi dan ilegal untuk tempat bisnis dan lain sebagainya. Bukankah ini semua buah dari keserakahan dan ketamakan manusia? Setiap orang yang masih waras dalam berpikir, pastilah akan tahu ujungnya nanti ketika keserakahan dan kemunafikan diagungkan. Bencana dan malapetaka! 

Yohanes pada zamannya sangat kuatir dengan perilaku buruk manusia. Ia tampil mengumumkan kedatangan Kerajaan Surga dan menyerukan agar orang bertobat. Dalam bahasa sekarang, seruan ini sama dengan ajakan untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam diri kita dan dunia sekitar. Apa yang terjadi sekarang adalah eksploitasi manusia dan sumber daya alam besar-besaran untuk memenuhi syahwat kerakusan dan ketamakan. Tak peduli bahwa di pihak lain ada manusia atau ciptaan lain menderita! Nafsu itu akan membuat manusia dan alam ini celaka. Tidak ada cara lain untuk mengatasinya kecuali menghadirkan zaman baru. Zaman yang sama sekali berbeda dari pola pikir dan paradigma lama yang mengusung hedonisme kerakusan. Zaman baru di mana praktik-praktik kehidupan yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, perdamaian dan kepedulian pada keutuhan seluruh ciptaan Tuhan. Untuk melangkah memasuki zaman baru, pertobatan mutlak harus terjadi. Maka pertobatan itu berarti terjadinya perubahan pola pikir. Yohanes menyerukan agar manusia mengalami perubahan akal budi. Maksudnya? Perubahan akal budi itu akan menuntun setiap orang untuk menjalani hidup yang tidak berpusat pada dirinya sendiri, tetapi pada Allah.

Pikiran yang telah diubahkan akan menghantar orang kepada perubahan hati. Hati adalah pusat seluruh pertimbangan manusia yang kemudian terpancar keluar menjadi tindakan. Perubahan pikiran dan hati akan bermuara pada perubahan perilaku: menghasilkan buah pertobatan yang sesungguhnya. Tidak mungkin seseorang mengatakan bahwa dirinya telah mengalami perubahan pola pikir dan hati yang baru, sementara ia masih tetap memanjakan nafsu kedagingannya.

Seruan Yohanes Pembaptis berada dalam konteks ini: Kekuasaan politik “kawin” dengan para pemuka agama, dalam hal ini kebanyakan mereka dari kelompok Farisi dan Saduki yang suka mengeksploitasi agama. Perkawinan ini menghasilkan kemunafikan yang sistemik dalam masyarakat. Yohanes menengarai adanya ketidakselarasan antara praktik religius dengan perilaku umat Allah. Di satu sisi, mereka mengagungkan klaim sebagai “anak-anak Abraham” (Matius 3:9). Namun, di lain pihak mereka menindas rakyat. Kekuasaan dan agama dipakai bukan untuk membangun peradaban baru yang menuju pada kemanusiaan yang lebih baik, melainkan sebagai alat mereka untuk memuaskan ambisi kekuasaan dan kepemilikkan. Maka Yohanes tidak segan-segan menyebut aliansi ini sebagai bukan sebagai anak-anak Abraham yang sesungguhnya, melainkan keturunan ular beludak!

Isi pemberitaan Yohanes diilhami Yesaya 40 seluruhnya bernada mesianis. Yohanes mengingatkan perlunya umat untuk bertobat, kembali ke jalan yang benar, yakni setia kepada Allah dan kepada perjanjian dengan-Nya. Allah baginya bukan pribadi yang jauh, melainkan Dia yang sedang berjalan menuju Israel – sementara dirinya menyiapkan jalan untuk itu. Jadi, bagi Yohanes tidak banyak lagi waktu tersedia: bertobat sekarang atau binasa! Berhadapan dengan Allah, manusia tidak cukup mengubah mentalitas saja, melainkan perlu kembali kepada Allah secara menyeluruh dengan mempersembahkan hidup bagi-Nya. Siapa yang tidak merangkul Allah, artinya tidak bertobat dengan sungguh-sungguh, akan terpaksa menghadapi murka-Nya. Binasa!

Sebagaimana seorang nabi, Yohanes tidak hanya mewartakan tentang kehancuran dan penghukuman. Ia juga menyampaikan sebuah pengharapan tentang zaman baru. Zaman itu ditandai dengan datangnya seorang tokoh yang akan menyelamatkan kehidupan. Kehidupan yang dimaksud adalah dunia baru yang terbebas dari kemunafikan dan ketidakadilan. Nada penuh harapan dalam Yesaya 11:1-10 (bacaan pertama Minggu Adven II tahun A) dapat menolong kita memahami zaman baru itu. Di sana sang nabi menubuatkan kedatangan Raja Damai keturunan Isai; ayah dari Raja Daud; leluhur Yesus. Raja itu akan memperoleh kebijaksanaan (Yesaya 11:1-2) untuk kemudian menegakkan keadilan (Yesaya 11:3-5) dan mendamaikan mereka yang biasanya hidup saling bermusuhan (Yesaya 11: 6-9) dan dengan demikian Ia menjadi pangkal harapan banyak orang (Yesaya 11:10).

Berita dan seruan Yohanes, tentunya saat ini pun menggema bagi kita. Jelas, kita tidak menginginkan dunia ini menjadi “Rana Plaza” melainkan merindukan datangnya zaman baru. Zaman di mana “Taman Eden” hadir di bumi; zaman di mana Kerajaan Surga bukan mimpi di siang bolong; zaman di mana harapan-harapan mesianik yang terekam dalam Yesaya 11:1-10 itu dapat terwujud. Tidak ada cara lain kecuali mengindahkan apa yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis itu. Bertobat! Pakailah waktu yang masih ada untuk kita bertobat. Bertobat yang bukan sekedar basa-basi, melainkan secara mendasar. Mulailah mengubah cara berpikir kita yang tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, melainkan mengutamakan apa yang Allah kehendaki. Apa itu? Ya, Allah menghendaki kita untuk mengasihi-Nya dengan cara mengasihi sesama dan semua ciptaan-Nya. Allah juga tidak menghendaki kita menjadi orang-orang yang munafik, sepertinya beribadah namun dalam hati, ibadah itu hanya untuk memuaskan diri sendiri.

Allah menginginkan kita bukan hanya sekedar menantikan zaman baru itu. Kita harus memulai zaman itu dari diri kita, komunitas kita dengan menghasilkan buah-buah pertobatan yang benar. Sering kita merindukan kehadiran sosok teladan yang dapat memberi contoh tentang cinta kasih, keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Nah, tidakkah kita sendiri tergugah untuk menjadi sosok yang kita rindukan itu?

Jakarta, Adven II Tahun A