Kamis, 27 November 2014

SAAT ALLAH MENGOYAKKAN LANGIT


Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun...” (Yesaya 64:1). Tak ayal lagi kalimat ini adalah doa permohonan seorang yang sedang putus asa atau depresi. Mungkin saja kita juga pernah mengalami situasi seperti ini. Ketika berhadapan dengan masalah pelik, tekanan berat bertubi-tubi dan kita dibuat tidak berdaya, lalu angan kita menerawang, “Andaikan Tuhan tidak tinggal diam! Andaikan sedikit saja Dia bertindak, maka keadaannya tidak seperti sekarang ini!

Di tengah ketidak berdayaan oleh karena Bait Allah dikuasai oleh orang-orang berdosa, Yerusalem pusat kultus Yudaisme menjadi kacau balau, ketidak-adilan, serta kehancuran moral terjadi di mana-mana yang nyaris meluluh-lantakan eksistensi Yahudi sebagai umat pilihan Allah. Yesaya menyadari bahwa penyebabnya bukanlah karena sesembahan orang-orang yang menganiaya itu lebih hebat ketimbang TUHAN mereka. Yesaya menyadari bahwa itu semua terjadi oleh karena dosa-dosa bangsanya, “... Engkau ini murka, sebab kami berdosa; terhadap Engkau kami memberontak sejak dahulu kala.”(Yesaya 64:5b). Kalau pun ada yang berbuat baik, kebaikan itu tidaklah tulus melainkan penuh dengan kepura-puraan “... dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin. Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu; sebab Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap kami, dan menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami.”(Yes 64:6-7)

Yesaya percaya, meskipun diri dan bangsanya berada diujung kehancuran namun ia tahu bahwa Allahnya adalah TUHAN yang penuh kasih sayang, laksana seorang ayah mengasihi anaknya, “Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami!” Yesaya pun tahu hanya ada satu kunci untuk sebuah pemulihan, yakni bertobat dan taat kepada kehendak Bapa, seperti tanah liat yang mau dibentuk oleh tukang periuk, “Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu” Yesaya pada zamannya menantikan langit yang terkoyak tanda Allah mau turun dan peduli. Dalam iman Kristiani, langit itu sudah terkoyak, Allah telah campur tangan memberikan Putera Tungal-Nya, “..lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."(Matius 3:17).

Hari ini kita kembali memasuki minggu-minggu Adven. Adven selalu dihubungkan dengan penantian. Adven bermakna masa penantian. Menanti siapa dan dengan cara bagaimana? Adven bagi umat kristiani mengandung dua pengertian. Pertama, menyiapkan diri dalam menyambut perayaan Natal, kelahiran Tuhan Yesus Sang Juruselamat dunia. Bersama dengan momentum ini, kita semua diingatkan kembali akan janji Tuhan sendiri tentang kedatangan-Nya kembali. Kedatangan yang kemudian bukan lagi berperan sebagai Juruselamat, melainkan Hakim Agung yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Merayakan masa Adven berarti kita berada dalam dua masa kedatangan Tuhan. Kedatangan-Nya pertama Ia telah menunjukkan diri-Nya sebagai jalan keselamatan. Barangsiapa menyambut-Nya ia akan memperoleh hidup yang kekal. Menyambut keselamatan bukan sekedar pernyataan verbal atau perasaan percaya saja, melainkan menjalani hidup dengan kesetiaan penuh sampai akhir kepada ajaran dan kehendak-Nya, serta yakin bahwa Tuhan pasti menolong. Dalam bahasa Paulus, tidak bercacat pada hari kedatangan Tuhan Yesus (I Korintus 1:8). Dengan menjalani hidup seperti itu maka sesungguhnya kita sedang menyiapkan diri menyongsong kedatangan-Nya.

Bagaimana sebaiknya memaknai Adven kali ini? Saya teringat akan kisah yang dituturkan oleh William J. Bausch, seorang imam pensiunan keuskupan Trenton, New Jersey. Ia bertutur tentang tiga orang bersaudara dengan bakat khusus.

Konon, ada seorang kepala desa memiliki tiga orang putera. Masing-masing puteranya memiliki bakat khusus. Si sulung memiliki bakat untuk menanam pohon-pohon zaitun. Dari kepandaiannya itu, ia pun dapat menukarkan minyak zaitun dengan pelbagai peralatan dan pakaian. Putera kedua adalah seorang penggembala. Jika ada dombanya yang sakit, ia mempunyai kemampuan yang hebat untuk menyembuhkannya. Ia sangat mengerti domba-dombanya. Dan si bungsu adalah seorang penari. Jika ada hal-hal kurang menyenangkan dalam keluarga, kedukaan atau ketika seseorang merasa jemu dengan musim dingin yang sangat menggigil, atau terlalu lelah bekerja, putera ketiga ini punya kemampuan untuk menghibur dengan tariannya.

Pada suatu hari, ayah mereka harus pergi untuk melakukan suatu perjalanan yang jauh. Entah kapan akan kembali. Ia memanggil ketiga puteranya dan berkata, “Anak-anakku, seluruh penduduk desa ini sekarang bergantung kepada kalian. Kalian masing-masing mempunyai bakat khusus untuk menolong orang. Karena itu, selama aku pergi, cobalah pergunakan bakat khusus kalian sebaik mungkin dengan bijaksana, sehingga ketika aku kembali nanti, aku akan mendapati keadaan desa kita akan jauh lebih baik dan sejahtera dari pada sekarang ini!” Ia memeluk mereka satu per satu lalu pergi.

Semula, semuanya berjalan dengan baik. Namun, pada suatu ketika angin dingin mulai bertiup dan muncul badai salju disertai hujan es yang begitu dasyat. Malapetaka pertama terjadi. Pucuk-pucuk pohon zaitun patah dan untuk memulihkannya lagi diperlukan waktu yang cukup lama. Lama- kelamaan penduduk desa itu kekurangan kayu bakar. Karena putus asa, penduduk desa itu mulai menebangi pohon-pohon zaitun, tanpa disadari mereka justeru menghancurkan sebagian hutan zaitun desa itu.

Tambah lagi, salju dan es membuat para pedagang tidak dapat menyeberangi sungai-sungai atau melewati jalan di desa itu. Akibatnya, penduduk desa saling berbisik,”Ayo, kita sembelih dan makan domba-domba itu supaya kita tidak mati kelaparan!” Pada mulanya putera yang kedua menolak, ia sangat menyayangi domba-dombanya itu. Namun, akhirnya ia diperhadapkan pada pilihan yang teramat sulit: menyelamatkan domba-dombanya atau membiarkan warga desanya mati kelaparan dan kedinginan. Ia berkata dalam hatinya, “Untuk apa menyelamatkan domba namun aku membiarkan saudara-saudaraku musnah binasa?” 

Dengan kemurahan dan hikmat anak pertama dan kedua, penduduk desa memiliki kayu yang cukup untuk menyalakan api dan makanan berupa daging domba untuk dimakan. Bagaimana pun juga musim dingin yang hebat dan berkepanjangan telah membuat penduduk desa itu patah semangat. Mereka bahkan mulai putus asa. Sedikit demi sedikit, keluarga demi keluarga mulai meninggalkan desa itu untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Kini musim semi mulai datang. Kedatangannya menghilangkan gumpalan-gumpalan es musim dingin. Ketika itulah sang kepala desa, ayah dari tiga putera itu kembali. Ia melihat hanya ada satu cerobong asap yang mengepulkan asap. “Apa yang terjadi dan apa yang kalian lakukan?” katanya dengan tergopoh-gopoh begitu ia tiba di rumahnya dan bertemu dengan ketiga puteranya. “Apa yang terjadi dengan penduduk desa kita?”

“Oh, Ayah, maafkan saya,” kata putera pertama, “Penduduk desa kedinginan dan mereka memintaku untuk menebang pohon-pohon zaitun untuk dijadikan kayu bakar dan aku melakukannya. Aku kehilangan bakatku. Aku tidak pantas lagi disebut sebagai penjaga tanaman.”

“Jangan marah, Ayah,” kata putera kedua. “Domba-domba mati kedinginan dan penduduk desa binasa karena lapar. Aku telah memberikan domba-domba itu untuk disembelih guna mencegah kebinasaan yang lebih parah.”

Kepala desa itu mengerti akan pengorbanan mereka dan menjawab, “Jangan cemas, anakku. Kalian telah melakukan yang terbaik yang dapat kalian lakukan dan kalian telah bertindak benar dan manusiawi. Kalian telah menggunakan bakat kalian dengan bijaksana untuk menyelamatkan orang-orang lain. Tetapi coba katakan kepadaku, apa yang terjadi dengan mereka? Di mana mereka sekarang?”

Kedua orang bersaudara itu menatap dengan cemas kepada si bungsu. Lalu si bungsu berkata, “Selamat datang, Ayah. Ya, saat itu keadaan sangat sulit. Makanan dan kayu bakar hanya sedikit. Aku pikir, tidak sepantasnya aku menari pada saat penderitaan seperti itu. Lagi pula, aku harus menghemat tenaga agar aku dapat menari jika ayah pulang.”

“Kalau begitu, menarilah, puteraku,” kata kepala desa itu, “untuk desaku yang kosong dan begitu juga hatiku. Isilah sekali lagi dengan semangat dan kegembiraan. Ya, ayolah menari!”

Ketika bangkit berdiri, wajah putera bungsu itu tampak meringis kesakitan dan terjatuh. Kakinya menjadi kaku dan kesakitan karena selama musim dingin, terlalu banyak duduk sehingga tidak dapat digunakan lagi untuk menari. Sang ayah merasa begitu sedih, sehingga untuk marah pun ia tak sanggup lagi. Ia hanya berkata kepada si bungsu, “Desa kita merupakan sebuah desa yang kuat. Desa ini sebenarnya masih dapat bertahan terhadap kekurangan kayu dan bahan makanan serta musim dingin, tetapi tidak akan bertahan tanpa pengharapan. Karena engkau gagal menggunakan bakatmu dengan bijaksana maka penduduk desa ini menjadi putus asa. Sekarang apa? Desa ini kosong dan engkau sendiri pincang. Aku tidak menghukum, hukuman telah telah dijatuhkan dengan sendirinya kepadamu!”

Saya membayangkan, si bungsu mungkin akan mengatakan, “Andai saja waktu dapat diputar kembali, pasti aku tidak teledor.” Nada sesal  seperti itu juga yang dialami bangsa Israel yang terekam dalam Yesaya 64. Pasal ini dimulai, “Sekiranya, Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun, sehingga gunung-gunung goyang di hadapan-Mu,…” M.C. Barth, menafsirkan orang-orang Israel ini sangat menderita: mereka baru saja dijajah, saudara-saudaranya dibunuh, rumah-rumahnya dibakar, dan masa depan mereka gelap. Hal itu merupakan konsekwensi dari ketidaktaatan Israel dalam sebagai bangsa pilihan di hadapan Allah.  

Namun, ketika mereka berkumpul untuk berbakti, mereka ingat akan tindakan kasih setia Tuhan. Mereka ingat kembali akan perbuatan Allah di masa lampau. Mereka berharap Tuhan memberikan kemurahan dan kesempatan lagi. “Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” Beruntunglah Israel, masih ada kesempatan kembali ke tanah perjanjian.

Andaikan, waktu dapat diulang. Adalah kalimat penyesalan, Yesus tidak ingin murid-murid-Nya menyesali diri pada waktu kedatangan-Nya kembali. Ia mengajarkan agar setiap orang selalu berjaga-jaga dengan melakukan apa yang telah diajarkan dan ditelandankan oleh-Nya, sebab saatnya nanti tidak pernah ada orang yang tahu. “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.” (Markus 13:32). Ayat-ayat selanjutnya, Yesus mengajarkan agar semua orang berhati-hati dan berjaga jaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar