Kamis, 21 Agustus 2014

DIPANGGIL UNTUK MEWUJUDKAN IBADAH YANG BERKENAN KEPADA ALLAH

Sama seperti di Eropa dan Amerika Selatan, di mana orang sudah terbiasa berpesta dan berdansa dengan mengenakan topeng di wajah sebelum masa Adven. Di Papua Nugini pun topeng menjadi bagian dari kebudayaan. Orang Sepik memiliki topeng kayu yang besar, yang dipegang oleh para penari. Bayangkan para penari yang bersembunyi di balik topeng, mereka melakukan gerak-gerik tertentu dan tidak pernah mengatakan apa-apa. Semua orang di daerah itu mewarnai wajah mereka untuk berdansa, sebagian untuk menutupi jati diri mereka, mereka menutupi wajah dengan jelaga untuk bertempur, dan dengan lumpur untuk berduka cita. Lalu, tentu, para penjahat menutupi wajah mereka dengan kerudung untuk menyembunyikan jati diri mereka.

Manusia gemar menyembunyikan diri di balik topeng hal itu tentu sangat mudah ditebak: untuk menguntungkan diri sendiri. Ibadah sering dipakai sebagai topeng. Ya, topeng kesalehan dan kemunafikan. Amos sudah lama mengkritik ibadah seperti ini. Ibadah meriah, korban-korban bakaran dari ternak pilihan, nyanyian, dan tarian. Namun, itu semua adalah topeng untuk menutupi kebokbrokan moral mereka yang suka menindas dan gemar membual. Ibadah yang berkenan kepada Allah sejatinya adalah sikap hati yang mencintai Allah dan terekspresi melalui ritual dan gaya hidup. Ritual dan gaya hidup merupakan wahana atau sarana mempersembahkan diri seutuh-utuhnya buat yang dicintainya, yakni Tuhan! Dalam bahasa Paulus, “Persembahkanlah Tubuhmu kepada Allah!” (Roma 12:1).
Persembahkan tubuhmu kepada Allah..,”. Bagi Paulus tidak ada pelayanan atau ibadah yang lebih mulia dari seorang pengikut Kristus kecuali mempersembahkan tubuhnya. Apakah artinya? Haruskah diartikan secara harafiah dengan mengorbankan tubuh sendiri, seperti yang terjadi pada agama-agama suku primitif? Tentu tidak seperti itu! Setiap orang Kristen yang menghayati imannya dengan benar akan menyakini bahwa hidupnya yang lama telah ditebus oleh darah Kristus. Bukan dengan emas dan perak, melainkan dengan darah yang teramat mahal. Sehingga dosa dan kuasanya tidak lagi membelenggu dirinya. Orang yang mempunyai keyakinan demikian akan memandang bahwa kini dirinya dan seluruh tubuhnya adalah milik Allah. Dipersembahkan kepada Allah artinya seluruh olah pikiran karya dan karsa semata-mata ditujukan untuk kemuliaanNya.
Paulus memandang, idealnya tidak ada pemisahan dalam konsep ritual ibadah dan dan gaya hidup atau kerja sehari-hari.  Orang yang bekerja di dunia sekuler: di pabrik, kantor, toko, pemerintahan dan sebagainya sama mulianya ketika ia melayani  dan beribadah di rumah Tuhan atau gereja. Paulus memahami bahwa ibadah yang sejati itu tidak lain dari mempersembahkan kehidupan sehari-hari kepadaNya, bukan sesuatu yang dibatasi pada kegiatan-kegiatan di lingkup gereja saja, melainkan memandang seluruh dunia sebagai Bait Allah.

Seseorang memang bisa mengatakan , “Saya akan ke gereja untuk beribadah kepada Allah,” tetapi seharusnya ia berkata, “Saya akan ke pabrik, ke toko, ke kantor, ke sekolah, ke garasi, ke pelabuhan, ke sawah dan ladang, ke kandang sapi, ke kebun, ke ruang pengadilan, dan seterusnya, untuk beribadah kepada Allah.” Di tempat-tempat itulah saya harus memuliakan nama-Nya. Inilah sebenarnya persembahan yang diharapkan Allah bahwa di mana pun kita berada di situ nama Tuhan dimuliakan. Apa dampaknya jika setiap anggota GKI melakukan gaya hidup demikian? Saya percaya bahwa GKI akan tumbuh menjadi gereja yang sesungguhnya; menerangi dan menggarami dunia di sekitarnya. GKI akan menghasilkan anggota-anggotanya yang tidak munafik, tidak memakai ibadah sebagai topeng kesalehan melainkan orang-orang yang terbiasa hidup menuruti kehendak Tuhan sekali pun bukan di dalam kandangnya, yakni gereja. Kualitas yang baik dengan sendirinya akan disukai banyak orang sehingga pertambahan merupakan keniscayaan. Lihatlah cara hidup jemaat pertama yang dicatat dalam Kisah Rasul 2: 41-47. Kualitas iman mereka berdampak pada pertambahan. “…Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah dengan orang yang diselamatkan.” (ay.47)

Hidup beribadah seperti itu, lanjut Paulus, menuntut perubahan  secara radikal. Kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi sebaliknya harus berubah. Untuk menyatakan gagasan ini, Paulus memakai dua kata Yunani yang hampir tidak dapat diterjemahkan. Kata yang ia pakai untuk “menjadi serupa dengan dunia ini ialah kata, suschematizesthai akar katanya schema, yang artinya: “bentuk luar yang selalu berubah-ubah, dari tahun ke tahun dan dari hari ke hari. Berubah seiring dengan kondisi lingkungan dan waktu. Schema seseorang tidak sama ketika ia berumur tujuh belas tahun dengan ketika ia berumur tujuh puluh tahun. Dulu tampilan fisiknya prima, gagah. Kini renta dan sakit-sakitann. Tampilan dan gaya busana seseorang tidak sama ketika ia akan bekerja ke pabrik dengan ketika ia akan pergi ke jamuan makan malam. Itulah schema yang terus-menerus berubah. Oleh karena itu Paulus berkata, “Jangan berusaha menyesuaikan kehidupanmu kepada kebiasaan-kebiasaan dunia; jangan menjadi seperti bunglon yang warnanya dapat berubah-ubah, menurut lingkungannya.” Tentu bukan perubahan seperti ini yang diharapkan Paulus.

Kata yang digunakan oleh Paulus untuk, “berubahlah dari dunia” ialah kata, “metamorphousthai”. Akar katanya morphe. Artinya, suatu bentuk atau unsur pokok/inti yang tidak berubah. Orang mempunyai schema, yang tidak sama pada  masa mudanya dengan ketika ia sudah tua, fisiknya pasti mengalami perubahan. Namun, ia mempunyai morphe yang sama; jiwa yang sama. Schema air bisa berwujud uap, es dan air. Namun morphe-nya sama yakni H2O. Bentuk luarnya bisa berubah namun dalam sel intinya tetap sama. Oleh karena itu, kata Paulus, untuk dapat beribadah dan melayani Allah, kita harus mempunyai suatu perubahan, bukan bentuk luar kita saja. Bukan schema-nya saja yang berubah melainkan morphe­­-­nya. Karakter atau kepribadiaan yang ada dalam diri kita. Itulah perubahan spiritualitas.

Bagaimanakah perubahan itu terjadi? Paulus mengatakan, bahwa yang ada pada kita adalah kehidupan “kata sarka”, apa artinya? Kehidupan yang dikuasai oleh tabiat manusia yang paling rendah; nafsu egoisme dan egosentrisme. Segala-sesuatu dilihat dari sudut pandang apa yang menguntungkan diriku. Jika dipandang dapat merugikan maka aku enggan untuk melakukannya. Coba bayangkan bila setiap anggota jemaat atau simpatisan GKI hidupnya hanya berpusat pada diri dan keinginannya. Pastilah terjadi banyak konflik dan pertentangan. Kehidupan gereja seperti ini sudah dapat dipastikan makin hari gereja makin tidak disukai. Tunggu saja saatnya gulung tikar!

Paulus mau agar kehidupan yang digambarkannya dengan kata sarka mengalami perubahan. Pembaruan hidup mengarah kepada kata christon yakni kehidupan di dalam Kristus. Kehidupan di dalam Kristus bukan hanya ucapan semata atau tampilan yang berubah, melainkan benar-benar dalam kerangka apa yang diajarkan dan diteladankan Yesus seoptimal mungkin dilakukan dalam praktek hidup. Menjadi gaya hidup sehari-hari. Selain kata christon, Paulus menyebut juga dengan kata pneuma, artinya kehidupan yang dikuasai oleh Roh Kudus. Kehidupan yang dikuasai oleh Roh Kudus pasti akan berbuahkan kebajikan. Pembaruan seperti itulah yang diinginkan Paulus. Bukan sekedar tampilan atau kulit luarnya belaka!

Ini harus terjadi jika kehidupan gereja ingin bergairah dan terus dipakai Tuhan menjadi berkat bagi dunia. Pembaruan budi atau spiritualitas mutlak harus terjadi. Kata yang dipakai untuk “pembaruan” adalah anakainosis.  Dalam bahasa Yunani ada dua istilah untuk kata “baru”. Yang pertama, kata itu neos. Neos berarti baru menurut batasan waktu. Kata itu sering disebut dengan new atau neo. Yang kedua, kata kainos artinya baru menurut sifat atau hakekatnya. Sebuah mobil Avanza Velos  adalah produk neos. Mobil ini baru menurut tahun keluarnya dan memang sebelumnya bentuk yang seperti itu belum pernah ada. Tetapi orang yang dulunya berdosa dan sekarang berada pada jalan Tuhan dengan mengerjakan apa yang Tuhan kehendaki adalah kainos. Pada saat Yesus masuk dalam kehidupan seseorang maka kehidupan orang itu adalah kainos, baru. Baru bukan tampilannya; orangnya terlihat ya itu-itu saja, tetapi karakternya dari dalam dirinya telah mengalami pembaruan. Egosentris dan egoismenya telah diubah oleh Yesus yang berkuasa di dalam dirinya dan ia menerimanya dengan sukacita. Sehingga ia dapat berkata seperti Paulus berkata, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20)



Apabila Yesus Kristus yang menjadi pusat kehidupan, barulah kita dapat mempersembahkan ibadah yang sejati di setiap detik dan setiap perbuatan kita kepada Allah. Apabila Kristus yang menjadi kepala gereja kita maka setiap saat dan detik, seluruh anggotanya akan hidup seperti Yesus hidup. Marilah kita berubah, bukan perubahan tampak luar atau topengnya saja melainkan berubah dari dalam. Perubahan spiritualitas! Percayalah jika kita semua punya komitmen untuk mau diubahNya, maka betapa pun sulitnya tantangan pelayanan gereja, Tuhan akan menyertai kita. Selamat ulang Tahun GKI!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar