Jumat, 25 Juli 2014

IKATAN PERJANJIAN ALLAH DENGAN MANUSIA



Belakangan santer terdengar dari mulut para politikus, “Dalam politik, tidak ada yang tidak mungkin, semua bisa terjadi! Hari ini kawan, besok lusa jadi lawan begitu sebaliknya.” Pernyataan ini muncul ketika kedua kubu kandidat presiden yang diusung oleh beberapa partai mendeklarasikan dukungan mereka. Bahkan, salah satu kubu menyatakan diri bahwa kualisi mereka adalah kualisi permanen. Lantas, para pengamat politik menyatakan: dalam politik tidak ada yang permanen, kecuali kepentingan menggapai kekuasaan itu sendiri. Demi meraih kekuasaan manusia tidak lagi memerhatikan etika, moralitas, apalagi memahami perasaan orang atau pihak lain. Hati nurani seolah telah kehilangan tahtanya! Itulah yang sedang dipertontonkan belakangan ini. Entah sampai kapan sandiwara ini berakhir.

Walaupun semua sudah tahu bahwa sisi wajah buruk politik memperlihatkan karakter seperti itu, toh banyak orang yang terus menggandrunginya. Dan tentunya, selihai apa pun seseorang bermain di ranah ini, tetap saja kalau seseorang atau sebuah partai dibohongi dan dihianati, janji-janji politiknya dianggap tidak berlaku lagi lalu ditinggalkan pada saat “kapalnya hampir karam” tentu menjadi geram. Setiap orang tidak senang ditipu dan dihianati bahkan seorang penipu ulung pun tidak akan suka kalau dirinya ditipu!

Yakub, si penipu ulung. Bapak dan abangnya sendiri berhasil ia tipu! Pada gilirannya, ia pun tidak merasa senang ketika diperdayakan oleh sang paman yang kelak menjadi mertuanya, Laban. Bayangkan, demi Rahel orang yang ia cintai dan ingin dimilikinya, Yakub rela membayarnya bekerja selama tujuh tahun. Namun, apa yang terjadi setelah tujuh tahun? Bukan Rahel yang diberikan Laban, melainkan Lea dengan alasan tidak lazim menikahkan dulu sang adik sementara si kakak masih lajang, jika masih tetap mengingini Rahel, Yakub harus menebusnya dengan tujuh tahun lagi bekerja. Demi cinta matinya itu, Yakub menyanggupi. Ia bekerja tujuh tahun lagi demi mendapatkan cinta sejatinya. Ya, demi cinta apa pun dilakukan.

Manusia dapat berjanji namun sering tidak mampu memenuhi janji-janji itu. Perjanjian yang telah dibuat diingkari begitu saja apabila dipandang merugikan dirinya. Sebaliknya, jika keuntungan menanti, maka ia akan mati-matian untuk menjaga dan mempertahankannya. Perjanjian dagang, perjanjian pendirian usaha bahkan ikatan pernikahan dapat begitu saja dihianati demi menuruti nafsu egoisme. Perjanjian adalah kata yang paling rawan untuk dihianati. Namun, lewat apa yang rawan ini Allah mengambil resiko menyapa umat-Nya. Ia mempertaruhkan kepercayaan kepada manusia yang memang diketahui-Nya sebagai pihak yang sering ingkar janji!

Allah mengikatkan diri-Nya melalui perjanjian dengan manusia, mungkinkah? Mengapa Allah yang tak terbatas mau mengikatkan diri dan tentu dengan demikian menjadi terbatas? Bukankah Ia Maha segala-galanya, bukankah dengan kekuasaa-Nya, Allah dapat memerintahkan semua makhluknya termasuk manusia untuk menuruti apa yang diingini-Nya tanpa repot-repot mengadakan perjanjian? Benar, tema Allah mengikatkan diri dalam perjanjian dengan manusia bukanlah tema sederhana. Rumit dan sulit dimengerti! Dalam keterbatasan, kita memahami bahwa “perjanjian” adalah bahasa Allah untuk menyapa manusia. Manusia yang pernah diciptakan segambar dengan-Nya dan kini telah merusak gambar itu. Allah ingin merangkai kembali serpihan-serpihan gambar yang hancur itu menjadi utuh. Manusia kembali kepada firtahnya sebagai gambar atau citra Allah!

Tujuan dari perjanjian Allah dengan umat-Nya adalah untuk kebaikan umat itu sendiri. Sasaran akhir perjanjian itu bukan semata-mata untuk kepentingan Allah, melainkan untuk keselamatan umat manusia. Keselamatan itu bukan hanya milik suatu bangsa (Israel) melainkan seluruh umat manusia. Allah sudah berjanji kepada Abraham bahwa melalui dia semua kaum dimuka bumi akan mendapat berkat. Di dalam pelbagai perjanjian yang dibuat Allah dengan manusia berlaku dua prinsip:
1.       Allah sendiri yang menetapkan janji-janji dan kewajiban-kewajiban yang menyertai perjanjian ini. Allah menjanjikan kehidupan yang terberkati dan pada ujungnya keselamatan dan kehidupan yang kekal.
2.       Manusia diharapkan memenuhi perjanjian ini dengan iman dan ketaatan. Tidak pernah manusia mempunyai posisi tawar-menawar dalam perjanjian ini.

Dalam sejarah yang dicatat Alkitab, Allah setia pada perjanjian-Nya namun manusia kerap gagal menjaga perjanjian itu. Manusia sering tergoda baik dengan materi, kekuasaan dan ilah-ilah yang ada di sekitarnya. Allah setia maupun harus berkorban dan pada saatnya mengorbankan yang terbaik, yakni Anak-Nya sendiri. Kisah ini menarik untuk kita simak. Kisah ini mengajarkan kesetiaan pada sebuah janji.

Di Kerajaan Hashemite Yordania, dua pemuda Bedouin terlibat perkelahian, berguling-guling di tanah dalam amukan kemarahannya. Salah seorang dari mereka mengeluarkan pisau, menusukkannya ke dada lawannya sehingga orang itu sekarat. Dalam ketakutan, ia menyelamatkan diri melintasi padang pasir, melarikan diri dari upaya balas dendam sanak keluarga lawannya yang terbunuh. Ia melarikan diri untuk menemukan rumah ibadat Bedouin. Rumah ibadat itu sebuah “tenda pengungsian”, yang dirancang oleh hukum bagi mereka yang membunuh secara tidak sengaja atau dalam tekanan kemarahan. Seseorang dapat masuk “tenda pengungsian” itu dan mendapat perlindungan.

Akhirnya, dia mencapai sebuah tempat pengungsian itu. Tempat perkemahan dari sebuah suku yang berpindah-pindah. Anak laki-laki itu menghempaskan dirinya di kaki pemimpin suku itu, seorang syekh yang sudah tua, dan memohon kepadanya, “Saya telah membunuh seseorang dengan tekanan kemarahan, saya memohon dengan sangat perlindungan darimu. Tolonglah, saya mencari perlindungan di kemahmu ini!”

“Jika Allah menghendaki,” jawab lelaki tua itu, “saya memberikan kepadamu, selama engkau tetap berada bersama kami.”

Beberapa hari berselang, sanak keluarga yang hendak membalas dendam itu mengikuti buronan tersebut hingga ke tempat “tenda pengungsian” itu. Mereka menjelaskan kepada lelaki tua itu mengenai buronan berikut ciri-cirinya yang telah membunuh kerabatnya. Lalu mereka bertanya,  “Apakah Anda telah melihat lelaki itu? Apakah dia ada di sini? Karena kami mau menangkap dan membalaskan dendam, nyawa ganti nyawa!”

“Ia ada di sini!” Kata orang tua itu, “tetapi kalian tidak akan pernah mendapatkan dan menjamahnya!”

“Akan tetapi, dia telah membunuh, dan kami saudara sedarah anak yang dibunuh itu akan merajam dia sesuai dengan hukum yang berlaku! Keluarkan dia, berikan kepada kami!” Teriak mereka.

“Tidak! Anak itu meminta perlindungan, saya menjanjikannya. Anak itu mendapat perjanjian dari saya! Kata orang tua itu, “saya telah memberikan kata-kataku, janjiku untuk menjadi tempat perlindungan baginya.”

“Namun, Anda tidak mengerti,” desak sanak keluarga itu, “Pak tua, pemuda yang engkau lindungi itu telah membunuh cucumu sendiri!” Orang tua itu terdiam seribu basa. Semua mata tertuju kepadanya, tidak ada seorang pun berani berbicara. Kemudian dalam kesedihan yang sangat jelas terlihat, dengan air mata yang membasahi wajahnya, orang tua itu berdiri dan berbicara dengan begitu pelan, nyaris tak terdengar, “Cucuku! Cucuku satu-satunya telah meninggal?”
“Ya, cucumu satu-satunya itu telah meninggal. Dan..penyebabnya adalah orang yang sekarang mendapat perlindunganmu!”

“Lalu...,”kata orang tua itu, “lalu anak ini, anak yang di dalam tenda pengungsian ini, ia akan menjadi cucuku. Dia diampuni, dan ia akan tinggal bersama kami sebagai milikku. Pergilah sekarang, sebab urusannya sudah selesai!” 

Ya, kita bukan pembunuh. Namun, bukankah kita juga telah merusak gambar Allah, mencaik-cabiknya dengan penghianatan demi penghianatan. Kita sering memberontak dan melanggar perjanjiannya, seperti Yakub, seperti bangsa Israel yang berulang kali menyakiti-Nya. Namun kasih-Nya tetap setia tidak pernah berubah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar