Jumat, 07 September 2012

KERENDAHAN HATI YANG MENGHERANKAN


Thomas Nast (1840-1902), seorang karikaturis dan kartunis yang dianggap sebagai bapak karikatur politik Amerika Serikat, suatu hari bersama beberapa orang temannya menghadiri acara pesta. Temannya mengusulkan agar ia membuat gambar karikatur dari setiap orang yang hadir dalam pesta itu. Dengan keahliannya, Nast menggunakan kertas dan pencil secara cepat membuat sketsa dari orang-orang yang hadir di pesta itu. Kemudian ia mengedarkan karikatur yang telah dibuatnya itu kepada setiap orang untuk melihatnya.

Apa reaksi orang-orang yang melihat karyanya itu? Tertawa, becanda dan cenderung mengejek orang-orang yang ada digambar itu. Saat itu ada kejadian yang tidak disangka-sangka, tampaknya setiap orang yang melihat hasil karya Nast itu dapat mengenali sketsa wajah orang lain meskipun dibuat lucu. Namun, anehnya hanya sedikit dari mereka yang mengenali sketsa wajahnya sendiri. Dari kisah ini kemudian orang menyimpulkan: Pada saat kita melihat diri sendiri, tampaknya kita memiliki pandangan yang kabur. Kita tidak mengenali diri sendiri secara jelas ketimbang orang lain melihat diri kita. Kebanyakan orang mengalami kesulitn untuk mengenali sifat-sifat utama yang dimilikinya apa adanya.

Pengenalan diri yang tidak utuh membuat manusia sulit menerima dirinya sendiri, apalagi menyukurinya. Karena pengenalan diri yang sempal inilah seseorang dapat berada dalam paradoks, dua kutub ekstrim yang berbeda. Pertama, menjadi rendah diri bahkan cenderung menolak keberadaan dirinya sendiri dan yang lain menjadi arogan. Sikap arogan atau sombong seseorang itu bisa jadi sebagai dampak konpensasi dari rendah diri. Merasa diri kurang maka ia berusaha menutupinya dengan ungkapan yang melebih-lebihkan dirinya atau narsis.

Dari kecenderungan umum manusia, kisah Perempuan Siro-Fenisia yang mengalami perjumpaan dengan Yesus (Markus 7:24-30) merupakan sebuah kisah anomali. Sikap yang jarang ada dalam diri manusia.  Sikap itu adalah kerendahan hati. Rendah hati tidaklah sama dengan rendah diri. Orang dengan rendah diri akan mudah tersinggung atas ucapan orang lain mengenai jati dirinya. Dampak dari ketersinggungan itu bisa bermacam-macam: marah, benci, putus asa, minder dan yang sejenis dengan itu. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan “rendah hati” dengan “tidak sombong” atau “tidak angkuh”. Bahasa Yunani memakai ungkapan ταπεινός (tapeinos), yang berarti “berbaring di tempat yang rendah”.

Dikisahkan perempuan Siro-Fenisia ini rupanya telah lama mendengar berita tentang Yesus. Kedatangan Yesus ke kampungnya tidak disia-siakan. Perempuan ini tersungkur di depan Yesus seraya memonhon agar Yesus memulihkan anaknya yang sedang kerasukan roh jahat. Apa tanggapan Yesus? Markus 7:27 mencatat, Lalu Yesus berkata kepadanya: ”Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Bayangkan apabila Anda ada pada posisi ibu itu. Mengharapkan kesembuhan namun ditanggapi dengan perkataan yang tidak diharapkan. Ya, kalimat yang diucapkan Yesus itu adalah kiasan mengenai posisi perempuan ini dibandingkan dengan posisi orang Yahudi. Dalam pemahaman Yudaisme orang Yahudi disebutkan dengan “anak-anak” sedangkan non-Yahudi, termasuk perempuan ini dengan sebutan “anjing”. Jelas ungkapan kasar!

Perempuan ini tidak tersinggung. Ia mengerti posisinya. Ia sadar bahwa dirinya adalah orang Yunani, bukan Yahudi yang selalu bangga dengan Taurat dan umat istimewa. Perempuan Yunani ini sadar bahwa Israel punya kesempatan pertama untuk mendapatkan tawaran Injil. Namun ia mengerti bahwa kesempatan itu tidak tertutup hanya untuk Israel. Pada gilirannya non-Yahudi, seperti dirinya pun mendapatkan berkat itu.

Banyangkan kalau perempuan Siro-Fenisia itu terpaku pada pemikiran negatif, mungkin mujizat pemulihan anaknya tidak pernah terjadi. Seolah perempuan itu menanggapi ucapan Yesus begini, “Saya tahu bahwa anak-anak memang lebih dahulu diberi makan, tetapi dapatkah saya memperoleh remah-remah roti yang dibuang oleh anak-anak? Remah-remah itu sudah cukup untuk memulihkan anakku!” Perempuan ini sangat yakin. Meskipun hanya sekedar “remah-remah” itu lebih dari cukup untuk dirinya. Ia menyadari posisinya tidak seperti orang-orang Yahudi. Perempuan ini harus membuang jauh-jauh gengsi dan martabat dirinya. Perempuan ini tepat menggambarkan diri sebagai ταπεινός, “orang yang berbaring di tempat yang rendah” namun, dalam keadaan seperti itu ia melihat anugerah Tuhan lebih dari cukup.

Jika seseorang dengan rendah diri bisa berada dalam paradok : minder dan sombong. Paradok juga bisa terjadi dalam diri orang yang rendah hati, yakni penyerahan diri secara total kepada Allah. Tetapi di sisi lain gigih berjuang. Perempuan Siro-Fenisia ini jelas-jelas seorang yang percaya akan kuasa Yesus. Makanya ia datang tersungkur di hadapan Yesus. Namun, pada saat yang sama ia juga berjuang, berusaha untuk mendapatkan kasih Yesus itu.

Di tengah kecenderungan manusia yang suka membanggakan diri. “Menjual diri” berlebihan, apalagi saat kampanye untuk mendapatkan simpati masa. Cenderung menjadi angkuh dan arogan, merendahkan eksistensi orang lain. Sikap rendah hati menjadi oase yang menyegarkan. Naluri manusia untuk tinggi hati jika dibiarkan tidak pernah akan terpuaskan. Ia tidak pernah akan bahagia melihat sisi positif dari orang lain. Rendah hati akan membawa manusia melihat hal-hal yang indah. Tidak mudah untuk seseorang memiliki sikap rendah hati. Ia harus rela mengosongkan dirinya seperti yang diajarkan dan dilakukan Yesus (bnd. Filipi 2:6-8).

Pulpit Helps menggambarkan dengan baik tentang kerendahan hati ini. Ia melukiskannya sebagai berikut: Jika dua ekor kambing saling bertemu disebuah jempatan setapak di atas sungai, apa yang akan mereka lakukan? Mereka tidak bisa undur dan mereka tidak bisa berpapasan karena jalannya terlalu sempit. Dengan naluri mereka, mereka tahu jika saling menanduk, maka keduannya akan terjatuh ke air dan tenggelam. Apa yang mereka lakukan? Alam telah mengajarkan pada kambing-kambing itu. Seekor kambing akan berbaring sehingga kambing yang satunya lagi bisa melewati tubuhnya; hasilnya mereka berdua bisa tiba di tempat masing-masing dengan aman. Itulah kerendahan hati (ταπεινός, “orang yang berbaring di tempat yang rendah”)

Saya sulit membayangkan kisahnya Pulpit Helps ini teradi kini dan di sini. Kambing di daerah mana yang bisa demikian. Kambing-kambing yang saya lihat justru akan memasang tanduk dan wajah garang ketika berhada-hadapan. “Kambing-kambing” itu ada di sekitar kita, jangan-jangan kita salah satunya. Kerendahan hati merupakan barang langka di negeri ini, bahkan di dalam gereja sekali pun. Orang lebih suka mencantumkan gelar, memamerkan sederet prestasi pelayanan, diucapin terimakasih, disebut nama dan jumlah persembahannya dalam warta jemaat, banyak mencela serta memandang sepi orang lain dan mudah tersinggung jika hasil karyanya dikutip orang.

Sikap arogan bukan hanya terjadi antar manusia, melainkan sudah terbiasa juga ketika berhadapan dengan Tuhan. Orang mengira dengan banyaknya pelayanan dan perbuatan baik sudah cukup baginya untuk menuntut Tuhan memenuhi keinginannya. Merasa gengsi jika hanya meminta “remah-remah”. Bukankah kita sering memosisikan diri seperti orang Yahudi? Kita “anak-anak Tuhan” bahkan tanpa sadar kita mengklaim diri sebagai “anak Raja”, maka tuntutannya bukan lagi “remah-remah” melainkan meja makan bahkan dapurnya sekalian. Kita merasa berhak atas itu dan orang lain harus menerima “remah-remahnya”. Bukankah kita sering sulit hati kalau orang yang berada di luar “anak Tuhan” itu mendapatkan hidangan juga? Saatnya kini kita belajar dari Perempuan Siro-Fenisia ini agar kita dapat melihat kebaikan Tuhan. Tuhan itu baik pada yang rendah hati!   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar