Kamis, 28 April 2011

KEBANGKITAN YESUS MEMBAWA SYALOM ALEKHEM


Paskah II, 2011
“‘As-salāmu `alaykum”, ucapan itu saya sampaikan dalam forum diskusi bersama dengan teman-teman yang berbeda keyakinan. Namun, satu hal yang tidak terduga terjadi. Setelah selesai acara tersebut, ada seorang anggota jemaat yang menghampiri saya dan menyampaikan keberatan dengan sapaan salam yang saya ucapkan. “Mengapa bapak ikut-ikutan memakai ucapan salam seperti itu? Itukan ‘salamnya’ orang Islam, sedangkan kita seharusnya mengucapkan, ‘syalom’!”

Benar! Rupanya saat ini disadari atau tidak penggunaan sapaan salam telah “dibaptiskan” menurut agama dan keyakinan masing-masing. Untuk orang Islam: ‘as-salamu ‘alaykum, untuk orang Kristen: syalom, untuk orang Budha: amitabah, untuk orang Hindu: Om, Santhi, santhi. Saya merasa kasihan bagi mereka yang tidak beragama. Mengapa? Ya, karena nggak ada yang menyapa, mendoakan dan menyampaikan salam.

Kalimat salam yang sesungguhnya berisi ungkapan doa dari orang yang mengucapkannya kepada rekan, teman atau kerabatnya agar mereka mendapatkan berkah, rahmat, damai sejahtera, kini telah terkotak-kotak. Ucapan yang begini untuk golongan atau kelompok saya dan yang itu berarti kelompok lain. Bayangkan makna luhur dari ungkapan salam dapat berubah menjadi pertikaian dan konflik. Kebanyakan orang Kristen ketika mendengar sapaan syalom dalam hatinya akan mengatakan, “Ia ini dari golongan saya” maka saya harus meresponnya dengan baik. Tetapi sebaliknya, ketika orang Kristen itu disapa dengan ‘as-salam ‘alaykum, maka ada perasaan yang kurang nyaman, apalagi membalas salam itu. Mungkin untuk kenyamanan semua maka kalau mengawali pidato, presiden SBY selalu mengucapkan, “’As-salamu ‘alayukum Warahmatulohi wabarrakatu, selamat pagi/siang/sore/malam, dan salam sejahtera untuk kita semua!” Padahal jika kita cermat, pengkalimatan salam seperti ini sedang melanggengkan pengelompokan manusia berdasarkan salam agama. Anehnya banyak orang menjadi nyaman dan senang!

Apa sebenarnya hakekat salam itu? Seringkali orang Kristen tidak lengkap mengucapkan salamnya. Cukup dengan syalom! Padahal lengkapnya  םכילע  םולש (syâlõm 'alêykhem) dijawab םולש םכילעוַ va'alêykhem syâlõm. Ya, bunyinya mirip dengan ‘as-salamu ‘alaykum yang dijawab alaykum salam. Mengapa begitu? Karena rumpun bahasa Ibrani dan bahasa Arab sama, yakni rumpun bahasa Semit.

"Syâlõm 'Aleykhem" pada mulanya diucapkan dengan asumsi yang menyampaikan kalimat itu berada di "atas" sedangkan yang menerima ucapan lebih dari satu orang dan berada di "bawah". Jika berada pada level yang sama, diucapkan ‘syalom lakhem’, "salam kepada kalian", dan jika satu orang saja menggunakan ‘syalom lekha’. "Syâlõm 'aleykhem" sama halnya dengan mengucapkan "Assalamu'alaikum" dari kata "salaam" plus kata sandang 'al di depannya, berubah menjadi 'as sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Kata berikutnya 'alaikum sama dengan bahasa Ibrani 'aleykhem yang artinya "ke atas kalian (jamak)." Apabila ditujukan kepada pribadi tunggal menggunakan bahasa Arab 'alaika, bahasa Ibrani 'aleykha. Kata Arab "assalamu'alaikum" (ke atas kalian [bentuk jamak]). Jawaban "wa 'alaikum salam" berarti "dan -- kepada kalian (jamak) -- salam" ("va'aleykhem-syâlõm", jamak, Ibrani).

Sebenarnya kata "'alaikum" itu bermakna jamak namun karena perkembangan zaman, maka ucapan itu menjadi ucapan salam biasa, boleh untuk satu orang atau pun lebih dari satu orang.
Seperti halnya bahasa Arab di atas, perbedaan antara bentuk jamak dan tunggal sudah jarang diperhatikan dewasa ini sehingga meskipun seseorang menyapa dengan "syâlõm 'alêykhem" dijawab dengan "va'alêykhem syâlõm" sudah menjadi hal yang lumrah dan sah-sah saja.

Apa makna yang terkandung dari kata םולש – syalom? Kata ini dalam bahasa  Yunani ειρηνη (eirene) Kata ini secara konseptual bermakna : suatu keadaan tenang, misalnya tanpa huru-hara atau perang, keharmonisan antar individu, keamanan, keselamatan, kemakmuran, damai. Ada Bahasa Sunda yang menurut saya tepat untuk menggambarkan syalom itu, yakni:  genah, merenah tur tumaninah. Syalom adalah keadaan yang berlawanan dengan ketakutan, kecemasan dan penderitaan. Singkatnya, menurut C Groenen, syalom berarti “hidup”. Seseorang ketika menyampaikan syalom, itu artinya bahwa dirinya siap mewujudkan ucapannya itu, siap dan mau mewujudkan doanya. Dengan sekuat tenaga ia akan mendukung agar orang lain itu untuk mengalami syalom. Jika tidak maka jelaslah salamnya itu hanya lip service belaka alias munafik! Jadi adalah sangat aneh dan ganjil jika ada orang yang mengucapkan ‘As-salamu-alaykum atau syâlõm 'alêykhem  di benaknya terjadi pemikiran mengotak-milahkan manusia bahkan memusuhi yang berbeda dengannya. Jika ini terjadi maka sebenarnya orang tersebut bukan hanya munafik tetapi ia sedang “membunuh” syalom itu!

Hanya orang yang memiliki syalom yang dapat menyampaikan dan memberikannya kepada orang lain. Hanya orang yang “Hidup” dapat memberikan kehidupan. Yesus adalah figur yang tepat untuk menggambarkan Si pembawa syalom itu. Murid-murid, meskipun telah mendengar dari Yesus sendiri sebelum peristiwa penyaliban bahwa Ia akan bangkit, toh kenyataannya pesimisme dan ketakutan menguasai mereka. Kini mereka mengunci diri di sebuah kamar (Yohanes 20:19).

Mengunci diri dalam ruangan adalah cerminan manusia yang menutup diri terhadap ancaman. Kita sering menilai bahwa tindakan para murid itu mencerminkan kualitas iman yang rendah. Namun, cobalah pikirkan jika kita adalah salah seorang dari para murid itu. Bayangkan begitu banyak, diluar sana orang Yahudi yang membenci kita, para imam terus berusaha memberangus gerakan orang yang percaya kepada Yesus ini. Yesus, Sang pemimpin saja tidak segan-segan mereka bunuh, apalagi para pengikutNya. Ketakutan itu riil, logis dan kini mereka tidak berdaya! Inilah kondisi tidak ada syalom. Bukankah seringkali kita berada pada situasi dan kondisi seperti itu. Ancama itu bisa berbentuk sakit penyakit, bencana, kesulitan ekonomi, penganiayaan, masa depan yang tidak jelas dan lain sebagainya yang membuat kita pesimis, kehilangan arah dan menutup diri. Tidak ada syalom! Masalahnya bukan hanya sekedar seberapa iman yang kita punya untuk berharap, melainkan karena ancaman dan ketakutan itu begitu nyata! Kondisi seperti ini jugalah yang pernah dialami Yesus ketika Dia bergumul begitu hebat di Taman Getsemani. Yesus berhasil menghadapi semua itu dengan menyerahkan kehendak kepada Bapa-Nya. Kini Yesus yang sama menyapa dan menghadirkan syalom itu.

“Damai sejahtera bagi kamu!” itulah yang disampaikan Yesus. Yesus tahu persis apa yang mereka butuhkan. Mereka membutuhkan syalom. Yesus datang tidak membawa serdadu malaikat, atau senjata untuk membekali para murid agar PD menghadapi ancaman. Yesus tidak membawa kekuatan yang selalu diandalkan oleh dunia. Tapi Dia datang membawa syalom. Syalom yang menembus ke jantung hati manusia. Bukankah kunci kedamaian itu ada di dalam diri manusia dan bukan di luar. Di hati manusia! Sebesar apa pun yang diandalakan manusia, entah itu harta kekayaan, kekuasaan bahkan mungkin dunia ini, namun jika di dalam hatinya tidak ada syalom semuanya tidak berarti. Bukankah ada banyak orang yang kaya raya, berkuasa dan punya segalanya justeru tidak pernah bisa tidur lelap karena hatinya selalu dihantui cemas, resah, gelisah dan takut.

Mungkin saat ini Anda sedang kalut dengan keuangan, sakit penyakit, kehidupan keluarga yang porak-poranda, masa depat yang tidak jelas dan lain sebagainya. Logis Anda berdoa meminta materi, uang, kesembuhan, dan kuasa yang besar untuk menghadapi itu semua. Namun, dari sudut pandang Allah, bukan itu yang sekarang Anda butuhkan! Yang sekarang Anda butuhkan adalah syalom! Ketenangan dan kedamaian hati. Syalom itu pertama-tama datang dari Tuhan, syalom itu ada di dalah hati Anda. Mintalah hati yang peka terhadap suara Tuhan, supaya dalam kekalutan yang bagaimana pun Anda akan tenang karena Anda melihat bahwa Yesus telah bangkit! Dia bukanlah Tuhan yang mati, Dia telah mengalahkan maut. Tentu jalan menuju ke sana tidak mudah ada proses keragu-raguan seperti yang diperlihatkan oleh Tomas.

Keraguan bukanlah selalu hal yang negatif, melainkan sebuah proses menuju pada penemuan syalom yang sesungguhnya. Proses keraguan itu dapat dilalui oleh Tomas dan akhirnya dialah murid satu-satunya yang menyatakan imannya kepada Yesus: “Ya, Tuhanku dan Allahku! (Yoh.20:28). Jika Anda sekarang sedang meragukan pertolongan Tuhan, janganlah berhenti. Minimal Anda jangan memisahkan diri dari persekutuan orang percaya. Dengarlah juga pengalaman iman dari teman-teman Anda yang bisa jadi lebih berat pergumulannya dibandingkan dengan masalah yang sedang Anda hadapi. Lihat kembali karya Tuhan yang telah Anda alami di masa lampau. Yakinlah sama seperti Daud mengimani bahwa Tuhan tidak membiarkan dirinya,  sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.” (Mz.16:10). Berbahagialah karena dengan demikian Anda hidup di dalam iman. Iman tanpa pencobaan tidak akan pernah teruji (I Petrus 1:7)

Sama seperti Yesus yang telah mengalami pergumulan dan penderitaan yang hebat, bahkan kematian. Yesus menyampaikan syalom bagi para murid yang sedang resah dan gelisah. Buahnya, kini mereka bangkit dari pesimisme dan ketakutan. Kini mereka menjadi saksi dari Yerusalem, Yudea, Samaria bahkan sampai keujung bumi. Petrus yang pernah mengalami perumulan bahkan penyangkalan terhadap Tuhannya, kini dipulihkan. Syalom ada padanya. Petrus mengalami kebangkitan, dia bersaksi dan berkhotbah dengan berani tentang kebangkitan Yesus. Hal yang sama Tuhan inginkan dari Anda, bukankah Yesus sendiri berkata, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”(Yoh.20:21). Tidak ada cara lain untuk mensyukuri karaya kebangkitan Tuhan selain menyampaikan syalom Tuhan itu kepada semua orang bahkan segala makhluk. Bukan sebatas kata-kata lip service, mengucapkan “syalom!” melainkan berjuang menyatakannya, menghadirkannya. Bukankah gereja hadir di bumi ini adalah sebagai bukti dan tanda-tanda “syalom” itu. Dan gereja itu adalah Anda dan saya!
ειρηνη

8 komentar:

  1. yang betul itu shalom(bahasa ibrani) bukannya syalom seperti yang kalian ucapkan.....Dan ucapan salam ini umumya diucapkan oleh orang yahudi....dan mau tanya sedikit,sejak kapan "istilah" ucapan itu dipergunakan???.khusunya di indonesia??????.ingat bung,logo,bendera,nanyian(anthem),dan apalagi ucapan salam ialah menunjukkan sebuah identitas.dan dalam Al-Qur'an dengan tegas melarang umat muslim untuk membalas salam(assalamu alaikum) dari orang yang berbeda keyaninan dengan kami.jangan hanya karena (bahasa indonesianya atau maknanya sama) sehingga anda akan keliru menggap salam itu adalah sama. Dan lagi,ucapan Assalamualaikum itu bukanlah sekedar ucapan salam biasa melainkan juga doa dari pemberi salam untuk orang yang di beri salam. Bukannya sekedar ucapan hai!!!! atau halo!!!!!.

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas tanggapan dan saran Anda. Yang saya tahu, begini:
    שָׁלוֹם (Ibrani, terdiri dari huruf-huruf: syin - lâmed - vâv atau wâw - mêm sõfït).
    Huruf "syin" Ibrani adakalanya ditulis "shin" tetapi karena menurut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), tidak ada kombinasi "sh" dalam bahasa Indonesia maka biasanya ditulis "syin". Maka saya dengan sadar menulis bukan Shalom seperti yang Anda gunakan. Saya lebih suka dengan syalom.

    Mengenai pelarangan Muslim menyapa dengan ucapan Assalamualaikum kepada non Muslim atau sebaliknya, saya mempelajari tidak semua ulama sama pendapatnya, dalam hal ini ketika mereka menafsirkan Sura An-Nisa:86.

    Sufyan At-Thawri mencatat pernyataan Al-Hasan Al-Basari yang mengatakan: "Memulai perkataan salam bersifat sukarela, tetapi membalas salam dari salam adalah wajib". Ibnu Katsir mengatakan: "Pernyataan dari Al-Hasan Al-Basari merupakan pendapat bulat intelektual Muslim.

    Dari sudut Mazab pandang, Hanafi dan Maliki menganggap menanggapi salam dari seorang non-Muslim diperbolehkan, sementara ulama Syafi'i dan Hambali menganggapnya wajib. Namun, ulama berbeda mengenai bagaimana jawabannya seharusnya.
    Kategori pertama, percaya bahwa respon terhadap ucapan salam mereka harus menjawabnya dengan 'wa'alaikum (Dan atas kamu juga) atau Alaikum' (biarkan bagimu) tidak lebih dari itu. Hal ini berdasarkan Hadis populer dari Anas Bin Malik yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Ketika orang-orang Ahli Kitab menawarkan salam, Anda harus mengatakan atau menjawab: sama kepada Anda" (wa'alaikum). Dalam tradisi lain diriwayatkan bahwa para sahabat berkata kepada Nabi: "Para Ahli Kitab menawarkan kita salam (dengan mengatakan as-salaamu alaikum-). Bagaimana seharusnya kita membalas'' Nabi mengatakan: "Wa'alaikum (dan atas kamu juga). Dalam teks yang diriwayatkan oleh Abdullah bin 'Umar: Rasul Allah berkata: "Ketika orang Yahudi menyapa Anda, biasanya mereka berkata,' As-Saamu alaikum (Kematian berada di Anda), sehingga Anda harus mengatakan (in reply kepada mereka)," wa 'alaikum (Dan pada Anda juga) "Dalam nada yang sama, Aisyah meriwayatkan:. Orang-orang Yahudi menggunakan sapaan untuk menyambut Nabi dengan mengatakan," As-Samu' Alaika (kematian atasmu), jadi saya mengerti apa yang mereka katakan, dan saya berkata kepada mereka: "As-Samu alaikum wal-la'na (Kematian dan kutukan Allah atasmu)". Nabi berkata, "Jadilah lembut dan tenang, ya 'Aisyah, karena Allah menyukai kelembutan dalam semua urusan" kataku, "O Nabi Allah! Kau dengar apa yang mereka katakan? "Dia berkata," Apa kau tidak mendengar saya menjawab mereka kembali dengan mengatakan, 'Alaikum (sama bagimu).

    Jadi menurut saya pelarangan menggunakan salam untuk non Muslim itu tergantung konteksnya.Jika diucapkan dengan konteks tulus-iklas untuk menyatakan kedamaian dan rakhmat Allah, saya kira adalah hal yang baik. Tapi jika motivasinya untuk melecehkan ya, jelas itu tidak boleh. Semua orang sama ingin didoakan, diberi damai dan dihargai. sebaliknya tak satu pun manusia yang rela dilecehkan. Itulah yang sebatas saya tahu. Dan sekali lagi terima kasih atas masukanya. Salam!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, salam sejah terah. Wassalamua'ailikum, saudaraku
      GB, om sairm, & om swastiastu.

      Hapus
  3. Lo aja sana sama klg lo pasang togel

    BalasHapus
  4. Lo aja sana sama klg lo pasang togel

    BalasHapus
  5. sy setuju sama Nanang.
    Mari kita didik diri kita menjadi orang yg damai dahulu, barulah kita bs menyebarkan 'salam' atau 'damai' yg sejati, bkn live service aja.
    Indonesia akan jaya klw semua warganya ad peng yg damai dan akn mampu mnjd agen perdamaian.

    BalasHapus